Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
34 : Tolong, Sih!


“Biarkan kami bertemu dengan Asih dulu. Agar kami bisa serah terima peninggalan alm. mbak Sujiah seperti kemauan alm.” Wanita berkulit hitam terbilang dek*il dan menggelung asal rambut panjangnya, menatap ibu Ryuna dengan sangat memohon.


Ditodong begitu, ibu Ryuna langsung ketar-ketir. Bertamu diizinkan masuk saja, sudah terbilang untung. Namun, ketiganya terus saja memaksa, meski ibu Ryuna sudah bicara baik-baik tanpa mengurangi rasa santunnya. Padahal, ibu Ryuna juga sudah tahu, alasan ketiganya ke sana tidak baik.


“Sini ...,” lembut suara Asih dari belakang sana.


Detik itu juga ibu Ryuna mendelik. Wanita itu sudah langsung gelisah lantaran suara langkah dan ia yakini Asih yang malah datang ke sana bersama Aqwa.


“Lah, bukannya itu Asih? Tadi, kenapa Ibu Ryuna bilang, Asih sudah tidak ada di sini? Tadi, Ibu Ryuna bilang, bahwa Asih sudah pergi ke kota loh,” ucap si wanita yang tak segan meledak-ledak, marah.


Aqwa yang awalnya baru dipasang headset kedua telinganya oleh Asih, langsung menatap tidak nyaman kebersamaan di depan sana. Apalagi meski ia sempat mendengarkan musik dengan volume keras, cara si wanita berbicara kepada ibu Ryuna, membuatnya yakin, wanita asing itu sampai membenta*k bahkan mungkin memak*i ibu Ryuna.


Aqwa melepas headset kemudian melangkah mendekati sang mamah.


“Itu bukan Asih, itu menantu saya! Jadi tolong, jaga sikap Ibu dan bapak sekalian.” Ibu Ryuna sengaja berucap dengan nada tinggi.


“Mohon maaf, ini ada apa? Kenapa kalian membuat keributan dan sampai membuat mamah saya tidak nyaman?” tegas Aqwa yang langsung menatap sengit ketiga pasang mata di hadapannya. Ekspresi yang sangat bertolak belakang dengan ketika ia kepada Asih.


“Innalilahi ... ini yang opa Helios maksud? Sementara yang datang ke sini, justru ... orang tua pacarnya mbak Sukma? Loh ... loh ... ada apa ini? Mereka masih berkaitan dengan abor*inya bibi Sujiah juga, kah? Namun jika iya, kenapa bibi Sujiah tidak membalas dendamnya karena saat itu mereka bertemu? Ini sama saja dengan kasus Gendis yang malah muter-muter enggak jelas mencelaka*i orang bahagia yang lewat jembatan sana, padahal harusnya dia cukup kejar bapaknya, apa bagaimana?” pikir Asih.


Satu hal yang Asih syukuri. Selain memakai kerudung panjang, ia juga memakai gamis baru yang dibelikan orang tua Aqwa dan memang masih sangat kebesaran untuknya. Hingga perutnya yang sudah tampak buncit, jadi tak terlihat. Tentunya, keinginan Aqwa memintanya memakai masker yang menutupi sebagian wajah, seolah menjadi firasat tersendiri, bahwa kejadian kini akan terjadi.


Demi menjalani misi, Asih sengaja mundur, kembali masuk dan itu menunggu di dalam kamar Aqwa. Sepanjang itu, Asih merenung. Mencoba mengurai benang kusut yang mengikat hubungan bangsa ikan dengan para makhluk tak kasatmata di sana.


“Apakah pengaruh Lumut dan sang Panglima, memang sedahsyat itu? Sekelas orang tuaku saja sampai mereka sing*kir*kan. Mungkin saja mereka sengaja memperdaya para makhluk tak kasatmata, yang masih memiliki urusan belum tuntas di kehidupannya sebagai manusia. Salah satunya Gendis, mereka membuat Gendis menghabiskan waktunya hanya untuk menarik perhatian mas Aqwa maupun perhatianku. Iya, ... Lumut dan Panglima memanfaatkan para makhluk tak kasatmata. Termasuk hantu kepala pak Sanusi. Namun tampaknya, mereka juga paham situasi sekitar termasuk praktik abor*si milik pak Sanusi. Buktinya, mereka mengirimku ke sana agar calon bayiku jadi persemba*han sementara aku mat*i menjadi wewegombel.”


“Lalu, orang tua dari pacarnya Sukma, jika mereka yang sampai ke sini, bisa jadi, mereka masih berurusan dengan pak Sanusi hang sekarang juga bekerja sama dengan bangsa ikan.” Yang membuat Asih bertanya-tanya, siapa yang telah menjerumus*kan sang bibi ke dukun abor*si, dan harusnya bibi Sujiah habi*si sebagai pelam*piasannya?


Kedatangan Aqwa mengalihkan perhatian Asih. Pemuda itu tampak tidak baik-baik saja, cenderung kesal bahkan marah. Aqwa mengembalikan headset bluetooth warna biru langitnya kepada Asih. Namun, Asih yang baru berdiri, segera berjinjit dan sengaja memasang kedua headset tersebut kembali ke telinga sang suami.


“Biar Mas enggak dengerin suara aneh-aneh. Bentar, aku cariin lagu yang keras. Apa mau kosidahan saja? Rindu Baginda Nabi? Itu lagu beneran ceria. Bentar,” lembut Asih sambil mengotak-atik ponsel di tangannya.


Detik itu juga, Asih mendelik, menatap tak percaya Aqwa. Sembari mengawasi sekitar, ia berkata, “Tapi dia enggak bisa masuk kamar sini, kan?” Karena Aqwa yang masih tampak emosi dan masih menatapnya, langsung menggeleng. Itu bertanda niat bibi Sujiah ke sana, memang tidak baik.


Yang langsung Asih ingat tentu kenyataan sang bibi yang meminta ia temani. Sang bibi berharap Asih juga abor*si, agar mengikuti jejaknya. Asih langsung merinding hanya karena teringat adegan malam itu. Namun sebelum ia meminta ketenangan kepada Aqwa, suaminya itu sudah lebih dulu memeluknya. Aqwa memeluknya penuh sayang. Bibir pemuda itu bahkan kerap menempel di kepala maupun dahinya sangat lama. Selain itu, sebelah tangan Aqwa juga beberapa kali mengusap-usap perutnya. Tampaknya, Aqwa sudah tahu maksud kedatangan bibi Sujiah.


Di luar, ditemani oleh tiga orang santri, ibu Ryuna membakar dua ransel milik bibi Sujiah, dan diwajibkan diterima Asih.


Tanpa melihat isinya, semua itu dibakar di tempat pembakaran khusus yang ada di samping rumah. Bersamaan dengan itu, ibu Ryuna juga sengaja melafalkan bacaan doa, dibantu ketiga santri yang ada.


“Kenapa enggak dilarung ke sungai seperti arahan opa Helios, Mas?” lirih Asih melongok dari jendela kamar Aqwa yang memang ada di lantai atas.


“Aku enggak mau ambil risiko karen taruhannya nyawa mamah, kamu, aku, bahkan orang yang menemani ke sungai. Masalahnya, mereka sampai bawa bibi kamu, dan itu di luar prediksi opa. Namun, membakar semuanya sama saja membuat bibimu pergi dengan sia-sia. Dia harus menanggung dosa dari perseku*tuannya dengan bangsa wewegombel, selain dia yang tidak bisa balas dendam.” Aqwa yang berucap lembut, menatap saksama kedua mata Asih dalam jarak sangat dekat.


Mereka sama-sama berdiri di balik tirai jendela kamar sebelah balkon, yang hanya sedikit mereka tarik untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.


“Mereka diperdaya Lumut dan ayahnya dengan janji tidak jelas, padahal penyebab mereka begitu, ada di hadapan mata mereka, Mas!” ucap Asih lirih juga, sebelum akhirnya ia berkata, “Sementara yang datang antar barang-barang bibi tadi, mereka orang tuanya pacarnya Sukma, yang juga sempat memak*sa Sukma buat abo*rsi, hingga akhirnya Sukma bertemu sekaligus menyelamatkan aku!”


Untuk yang terakhir, mengenai orang tua pacar Sukma, Aqwa benar-benar tahu. “Mereka masih berurusan dengan perwewegombelan? Ah ... ini pasti karena pak Sanusi yang sudah bekerja sama dengan Lumut!”


“Sih ... Sih, tolong Bibi, Sih. Asih, TOLONG BIBI, SIH!”


Mendengar raungan suara bibi Sujiah yang benar-benar jelas dan itu tidak hanya terdengar oleh Aqwa, melainkan juga Asih, Aqwa sengaja membekap kedua telinga Asih menggunakan kedua tangannya.


Namun, Asih yang penasaran, sengaja melongok keluar, tapi masih bertahan dari balik gorden tebal. Asih dapati, sang bibi yang masih berwujud wewegombel, turut terbakar di tempat pembakaran yang tengah ibu Ryuna dan ketiga santri, hadapi.


“Sih ... tolong Bibi, Sih!” bibi Sujiah berlinang air mata, menatap Asih sangat memohon.


Asih yang tipikal tidak tega nyaris menangis, tapi Aqwa berakhir merengkuh kepala Asih. Aqwa menyandarkan wajah Asih ke dadanya, selain pemuda itu yang membelakangi jendela.


“Tolong, Sih! Tolong Bibi!”