
Aqwa merasa, Dewi menjadi awal mula ia sekeluarga termasuk Asih, mengalami teror tak kasatmata. Karenanya, meski memang tidak dibenarkan, Aqwa sengaja memb*ogem arwah penasaran itu.
Namun, Aqwa memiliki alasan dalam melakukan seran*gan kepada Dewi. Karena jika Dewi yang Aqwa lihat sudah bertubuh silu*man ular tidak bersalah, harusnya arwah itu baik-baik saja. Namun jika Dewi memang bersalah bahkan sengaja bersekutu dengan silum*an untuk melukai Aqwa bahkan lebih, Dewi akan hancu*r dalam waktu cepat.
“Sudah aman. Enggak usah takut lagi,” ucap Aqwa yang juga sudah mengakhiri bekapan kedua tangannya dari kedua telinga Asih.
“Tapi lampunya boleh dinyalakan kan, Mas? Parno kalau gelap-gelap begini. Aku takut. Apalagi empat bulan terakhir, aku terjebak di tempat yang suasananya serba gelap,” pinta Asih.
Aqwa mengangguk-angguk sanggup kemudian pergi dari sana. Aqwa langsung menyalakan lampunya kemudian mengawasi kaca jendela yang memang sampai remuk.
“Mas, tadi memang ada yang pecah, apa Mamah yang salah dengar? Tadi suaranya kenceng banget, kayak ada yang pecah.” tanya ibu Ryuna yang akhirnya terbangun. “Tapi pas Mamah berusaha bangun, mata Mamah susah dibuka dan Mamah pun kayak ada yang nahan-nahan.”
Aqwa yang baru kembal dan sudah ditatap sang mamah, langsung mengangguk-angguk. “Kaca jendela pecah.” Dan itu kaca yang ada persis di sebelah ibu Ryuna. Sementara alasan ibu Ryuna sampai kesulitan bangun, Aqwa yakini efek kedatangan Dewi.
“Ya ampun bener, itu kaca pecah kenapa, Mas?” Ibu Ryuna jadi ketakutan sendiri.
“Ada yang nabrak. Burung mungkin,” balas Aqwa tak mau sang mamah makin ketakutan.
“Burung kok sampai segitunya? Memangnya burung apa?” balas ibu Ryuna lagi.
Dini hari kali ini, mereka isi dengan kebersamaan saling terjaga. Ibu Ryuna memutuskan tidur di ranjang Asih. Sementara Aqwa kembali duduk di kursi sebelah Asih, setelah pemuda itu membereskan pecahan kacanya yang sengaja Aqwa sisihkan.
Sudah terbilang lama, tapi Asih mendadak membuka kedua matanya untuk mengintip sekaligus memastikan apa yang sedang Aqwa lakukan.
“Mas ...?” lirih Asih pada Aqwa yang belum tidur, dan malah terlihat sangat serius. Hingga yang ada, Asih kembali takut apalagi ibu Ryuna yang meski sampai mendekapnya, sudah tidur pulas.
“Sudah tidur saja,” ucap Aqwa sambil menatap Asih.
“Mas bikin aku takut ...,” lirih Asih kali ini merengek.
Mendapatkan itu, Aqwa menghela napas dalam. “Kamu ingin aku keluar dari ruangan ini?” Namun Asih buru-buru menggeleng.
“Yang penting Mas jangan seserius itu. Aku jadi takut,” balas Asih.
Aqwa menatap serius Asih. “Ada yang lagi ngledek aku. Hantu baru di jembatan sungai Merah. Dia ingin ke aku, tapi aku tolak.”
Kali ini, Asih tak hanya takut. Karena saking takutnya, Asih berakhir tersedu-sedu.
“Rasanya separno itu, Mas. Takut sampai bikin lemes.” Asih masih tersedu-sedu.
“Bilang saja minta dipeluk!” celetuk Aqwa.
Asih yang masih menangis tersedu-sedu, tak segan mengambil sendok dari meja nakas di sebelahnya, kemudian melemparkannya dan sukses mengenai dahi Aqwa.
“Ya ampun, sakit, Sih ...,” lirih Aqwa sambil mengelus-elus bekas lemparan sendoknya.
“Salah siapa Mas makin nyebelin!” keluh Asih.
Mendengar itu, Aqwa jadi menatap sebal Asih. “Masa iya, aku jadi semenyebalkan itu?”
Selanjutnya, baik Aqwa maupun Asih tak ada lagi yang bicara. Aqwa sendiri baru bisa tidur tak lama setelah pemuda itu beres salah subuh. Baru Asih sadari, menjadi Aqwa tidaklah mudah. Sekadar tidur saja, pria itu lebih sering kesulitan. Apalagi jika ada arwah gentayangan yang minta pertolongan, atau malah jail dan berusaha melukai Aqwa.
Ibu Ryuna yang baru kembali dari kantin dan tak sengaja memergoki kesibukan Asih memperhatikan Aqwa, langsung tersenyum hangat.
“Sore ini kalian ijab kabul lagi yah, biar lebih afdol.”
Ucapan lembut dari ibu Ryuna barusan, sukses membuat Asih oleng. Untuk beberapa saat, otak Asih mendadak tidak bisa berpikir. Asih terlalu tidak percaya dan memang sulit melakukannya. Bahwa restu keluarga Aqwa begitu dengan mudah menghampirinya.
Padahal, Asih sendiri justru lupa. Bahwa kini, dirinya sedang hamil dan itu anak Aqwa.
Ternyata orang tua Aqwa sudah mengetahui semuanya dari opa Helios. Termasuk asal muasal Asih, juga Asih yang kini telah menjadi manusia seutuhnya. Efek terjebak di dimensi lain sangat lama, menjadi penyebab Asih menjadi manusia seutuhnya. Hingga Asih ingat pada ucapan Lumut yang kala itu mengizinkan Asih ke daratan tanpa syarat.
“Jangan-jangan, sebenarnya ritual di ruang ibadah mereka justru untuk membahayakan aku maupun mas Aqwa? Pakaian mas Aqwa sampai ditahan mereka dengan dalih buat kebaikan bersama. Terus, gimana, dong? Coba nanti aku bilang ke mas Aqwa. Tuh orang tidurnya pules banget. Kelihatan capek banget. Gara-gara kemarin malam kayaknya. Jadi penasaran, siapa yang sebenarnya datang dan sampai bikin kaca jendela remuk gitu,” batin Asih.
“Yang itu beneran sudah beres. Sudah dikasih tolak bala. Harusnya sudah enggak ada lagi teror tak kasatmata ke kita. Kecuali, yang masih berkaitan dengan kematian bibi kamu. Bibi kamu belum tenang dan arwahnya masih tertahan di kaum wewegombel. Harus ditenangkan, selain dukun itu yang malah jadi hantu kepala. Enggak tahu gimana nanti itu urusan si kepala dukun. Soalnya tubuhnya saja, kalau aku lihat malah habis dimakan anj*ing, di malam akhirnya kamu ditemukan. Ingat, suara tangisan Gendis si hantu penunggu jembatan sungai Merah? Saat itu juga ada suara anj*i*ng ngaung-ngaung berisik banget? Ya itu, setelah itu tubuhnya si dukun yang ternyata bapaknya Gendis selaku orang yang sudah membu*nuh Gendis, habis dimakan anj*ing.” Aqwa berbisik-bisik cerita kepada Asih yang sengaja ia takuti.
Asih langsung sibuk mencubit atau malah menabo*k asal punggung Aqwa, ketika pada akhirnya, Aqwa tertawa ngakak penuh kemenangan.
Sebenarnya Asih masih sangat penasaran mengenai hubungan sang dukun dengan Gendis yang ternyata masih memiliki hubungan. Termasuk mengenai kabar arwah bibi Sujiah yang ternyata masih ditahan bangsa wewegombel hingga bibi Sujiah belum bisa tenang. Hanya saja, kedatangan pak Kim dan opa Helios yang membawa tiga orang pria, mewajibkan Asih maupun Aqwa untuk serius. Sebab sebentar lagi, mereka akan menjalani ijab kabul seperti yang sudah disiapkan oleh keluarga Aqwa.
Jika wanita lain yang jadi Asih, Asih yakin akan sangat bahagia karena dinikahi Aqwa secara nyata. Terlebih posisi si wanita sedang hamil anak Aqwa. Masalahnya, yang Asih rasa biasa saja karena ketimbang akur, mereka memang lebih sering gelud dan itu karena Aqwa yang jailnya kebangetan kepada Asih.
Bersama ijab kabul yang Aqwa lakukan, adanya Sukma di depan pintu, membuat Asih yang masih duduk selonjor di ranjang rawat, mengulas senyum. Wanita yang telah menyelamatkannya itu tampak sangat terkejut, kemudian menatap saksama Aqwa yang dengan tegas sekaligus cekatan, menyelesaikan ijab kabulnya.