
“Alasan Lumut dan bapaknya awet muda, meski sudah belasan tahun lamanya kejadian itu terjadi, memang karena mereka sudah mengonsumsi tubuh orang tuamu.”
“Termasuk alasan mereka yang bisa menjelma menjadi ikan. Semua itu juga masih karena alasan yang sama. Darah dan daging orang tuamu telanjur mendarah daging dalam tubuh mereka. Jadi, sedikit banyaknya mereka juga bisa mengendalikan apa yang sebelumnya orang tua kamu miliki.”
“Tanpa terkecuali, keistimewaan orang tuamu yang bisa berkomunikasi dengan para arwah maupun lelembut. Hanya saja, mereka menyalahgunakan semua itu.”
“Jadi, memang hanya kamu yang benar-benar bisa mengakhiri semua ini,” ucap kakek buyut berbicara panjang lebar.
Seiring kesedihan yang membuat hatinya remu*k redam atas apa yang menimpa kedua orang tuanya, Asih membagi senyum terbaiknya kepada Aqwa. Senyum terbaik yang juga dibarengi air mata.
“Semuanya akan baik-baik saja,” lirih Asih sambil mengangguk-angguk.
Meski sempat ragu, Asih juga berangsur memeluk Aqwa menggunakan tangannya yang tak digenggam suaminya itu. “Biarkan sifat tamak mereka menghancu*rkan mereka, Mas! Kita pasti bisa menyelesaikan semua ini!” bisiknya lembut.
Aqwa hanya menangis seiring kedua tangannya yang mendekap erat punggung Asih. Dekapan yang makin sulit membuatnya melepaskan Asih. Karena apa yang baru saja Asih katakan seolah menegaskan, istrinya itu akan mengorbankan hubungan mereka. Asih akan meninggalkannya demi kebaikan bersama.
Air mata haru mengiringi setiap mereka yang di sana, bahkan para anji*ng. Mereka tak lagi menggonggong. Semuanya kompak menatap sedih kebersamaan Aqwa dan Asih termasuk itu para leluhur.
Pak Kim sudah mendekap sang istri, sementara opa Helios merengkuh keduanya dari belakang. Benar-benar hanya tinggal mereka karena mas Tri sengaja opa Helios suruh mengambil mobil di rumah. Selain itu, tampaknya juga tidak akan ada orang yang melintasi jalan sana.
“Agar teror tak kasatmata benar-benar berakhir, ... aku memang harus berkorban. Benar-benar bukan hanya mengenai kematian orang tuaku yang dibun*uh dengan pengkhianatan Lumut dan bapaknya. Namun, memang demi kebaikan bersama,” batin Asih.
“Kalau begitu, aku ikut!” sergah Aqwa yang bisa mendengar suara hati sang istri. Ia membuat dekapan mereka agak longgar. Ia menatap saksama kedua mata istrinya.
Asih belum sempat menjawab\, tapi para anj*ing mendadak kembali sibum menggonggong sambil mengawasi sungai dari pinggir jembatan. Detik itu juga semuanya terjaga. Semuanya menatap waspada apa yang para anj*ing tatap.
Kepala pak Sanusi menjadi sosok yang lebih dulu muncul. Namun\, bukan hanya satu\, tapi ada beberapa. Para anj*ing sudah langsung berebut mengejar. Termasuk Aqwa yang dengan cepat bak embusan angin\, menangkap salah satunya. Aqwa menginjak\, menin*ju\, dan menghanc*urkan setiap kepala pak Sanusi yang perlahan menjadi abu.
Gerakan Aqwa yang memang dikuasai emosi\, jauh lebih cepat dari para anj*ing yang berebut. Namun\, ada satu kepala pak Sanusi yang jadi perebutan anj*ing dan kepala itu sibuk berkeluh kesah kesakitan.
“Ini yang asli!” batin Aqwa yang detik berikutnya langsung gesit mengambil alih kepala pak Sanusi.
Para anj*ing minggir\, tapi mereka tak hentinya menggonggong sembari menatap sungai dari belakang Aqwa. Hingga tiba-tiba\, munculah sebuah pedang dari sungai belakang Aqwa dan Asih sangat mengenalinya. Pedang itu sama dengan pedang milik Lumut ketika wanita ular itu menghabi*si sang ratu.
“M-mas, awas!” teriak Asih lantaran dari semua yang ada di sana, baru dirinya yang bisa melihat pedang tersebut.
Dengan cepat, kakek buyut yang kecolongan, melesat dan menahan pedang panjang tersebut menggunakan kedua tangannya. Aqwa yang terlalu syok lantaran kubu Lumut benar-benar ingin memenggalnya, justru kecolongan hingga lehernya digerogoti hantu kepala pak Sanusi yang melesat membabi-buta.
Ibu Ryuna langsung pingsan menyaksikan leher anaknya berlumur darah. Opa Helios lari berusaha menghentikan hantu kepala pak Sanusi. Sementara pak Kim masih bertahan menahan tubuh ibu Ryuna yang terkapar di aspal.
Asih tak memiliki pilihan lain. Berlinang air mata ia menatap kakek buyut yang detik itu juga menatap sekaligus mengangguk yakin kepadanya. Seolah, kakek buyut tahu bahwa Asih benar-benar akan loncat ke sungai, agar Asih menjadi ratu ikan setelah anugerah yang kakek buyut berikan. Yang mana setelah itu, Asih akan memiliki keistimewaan sekaligus kesaktian melebihi siapa pun terlebih ketika Asih di dalam sungai.
“Mas!” Di usianya yang tak lagi muda, opa Helios susah payah melindungi cucunya. Ia merengkuh tubuh Aqwa, meski pedang yang pengendalinya tidak bisa dilihat itu terus melangkah mendekati Aqwa.
Darah segar terus mengalir dari leher Aqwa, membuat opa Helios yang masih bertahan merengkuh tubuh Aqwa, berangsur mengangguk kepada Asih di belakang sana.
“Byuuuurrrr!” Asih benar-benar terjun ke sungai.
Detik itu juga dunia Aqwa seolah berhenti berputar. Aqwa refleks menoleh ke belakang.
Bersamaan dengan itu, pedang yang mengincar Aqwa juga sudah siap menghan*tam leher Aqwa dari depan.
Namun, bukan hanya dunia Aqwa yang berhenti berputar. Karena dunia Asih juga. Di antara cahaya terang yang akhirnya muncul dari tubuhnya, Asih menyaksikan perubahan nyata dari tubuhnya. Kesungguhannya menghentikan teror tak kasatmata, demi kebaikan bersama dan sampai mengorbankan masa depan hubungannya dengan Aqwa, membuatnya kembali menjelma menjadi ratu ikan. Malahan kini, cahaya dari tubuhnya terpancar jauh lebih terang, selain ia yang memiliki dua puluh satu tangan dan masing-masing mengendalikan senjata.
Dalam sekejap, Asih melesat ke atas dan semua mata termasuk mata ibu Ryuna yang akhirnya terbuka, terpukau menyaksikan wujud asli Asih. Namun dengan segera, Asih menggunakan panahnya. Satu panah menghentikan pedang yang berusaha menghan*tam leher Aqwa. Pedang tersebut sudah langsung berubah menjadi abu berikut sosok pengendalinya yang akhirnya terlihat.
Sesosok siluma*n ular, tapi bukan Lumut maupun sang bapak. Termasuk ketika anak panah yang Asih lesatkan mengenai pedang yang masih ditahan kakek buyut.
“Seperti yang kami duga, Lumut dan bapaknya terlalu pengec*ut! Memang tidak ada cara lain selain aku yang menjadi seperti ini!” kesal Asih dalam hatinya yang memang sudah menjadi ratu ikan yang sangat dingin.
“Sih ... Sihhhh!” Aqwa meronta-ronta dan lari berusaha menghampiri.
Opa Helios sama sekali tidak menahan Aqwa, tapi terdengar suara ibu Ryuna yang memanggil Aqwa sarat khawatir.
“Enggak apa-apa, ... enggak apa-apa,” yakin pak Kim kepada sang istri yang ia dekap erat dalam keadaan masih meringkuk di pangkuannya.
Meski awalnya tampak dingin, kepada Aqwa, tatapan Asih sudah langsung sendu. Asih yang masih melayang di udara berangsur mendekati Aqwa. Salah satu tangannya yang memegang botol putih, segera mengguyur luka di leher Aqwa. Bersamaan dengan itu, luka gigitan bekas kepala pak Sanusi langsung tertutup.
Aqwa menatap tak percaya kenyataan tersebut. Yang mana Aqwa juga langsung menerima sebuah pedang yang Asih berikan menggunakan salah satu tangan istrinya itu.
“Peran*g belum berakhir, Mas!” ucap Asih. Ia menatap saksama kedua mata Aqwa.
“Aku akan masuk ke istana\, menghanc*urkan mereka semua. Mas dan semuanya\, tolong bantu doa sambil berjaga-jaga karena pengecu*t seperti mereka pasti akan selalu melarikan diri!” Kali ini Asih benar-benar memohon.
“Berjanjilah kamu akan segera kembali!” sergah Aqwa tak kalah memohon.
Karena Asih hanya diam, Aqwa berangsur mengelus perut bertubuh ikan itu yang juga berukuran besar khas orang hamil pada kebanyakan.
Detik itu juga air mata Asih membasahi pipi dan berubah menjadi butiran emas.