Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
56 : Memasuki Dunia Komik


Pak Kim membantu sang istri menahan kemudian menarik Ara, setelah Aqwa sudah lebih dulu melakukannya kepada Asih. Sementara opa Helios sengaja meraih laptop dan juga berusaha menutupnya.


Hanya saja, kekuatan laptop Aqwa tak tertandingi. Beberapa arwah dan kebanyakan wewegombel sekaligus silu*man ular, mendadak tersedot masuk ke dalam pusara di sana. Semuanya dibuat bergidik karenanya. Mereka sungguh tak menyangka sekaligus sulit percaya, jika di rumah mereka yang hangat, sudah dihuni banyak wewegombel dan silum*an ular.


“Ara! Ara dengar Papah! Lawan arwah jahat itu, Nak!” tegas pak Kim sangat emosional. Suaranya sampai menggema dan terdengar menakutkan bahkan itu di telinganya sendiri.


Sebelumnya pak Kim belum pernah begitu. Naluri orang tua, seorang papah yang tak rela anaknya terluka lah penyebabnya. Pak Kim bahkan membentak istrinya, menegaskan bahwa sekuat-kuatnya sebuah kekuatan, tak akan pernah ada yang bisa melebihi kekuatan doa seorang ibu untuk anak-anaknya. Karenanya, ibh Ryuna yang awalnya kebingungan sekaligus menangis tersedu-sedu, berusaha melafalkan ayat kursi tepat di atas ubun-ubun sang putri.


Posisi mereka masih tarik-menarik, berebut orang yang mereka sayangi agar tak masuk ke pusara medan magnet mistis yang muncul di layar laptop Aqwa. Medan magnet yang seolah akan membawa siapa pun yang tersedot, ke dunia lain, dan itu dunia komik horor thriller ciptaan Aqwa.


Melihat kepanikan sekaligus ketakutan yang menyelimuti keluarga Aqwa, Asih tidak bisa untuk tidak bersedih apalagi menangis.


“Lepas Mas ... lepas. Ini misiku. Yang mereka inginkan aku. Aku harus membantu mereka. Yakin, lepas aku akan membuat keadaan di sini baik-baik saja,” yakin Asih dan langsung dibalas gelengan cepat dari Aqwa.


Asih sangat yakin dengan pemikirannya apalagi laptop Aqwa saja sama sekali tidak bisa ditutup bahkan oleh opa Helios. Opa Helios sudah sampai berkeringat. Peci dan sorban yang awalnya dipakai, berterbangan layaknya benda lain di sekitar mereka. Iya, suasana di sana jadi sangat berantakan layaknya terkena badai.


“Enggak Sih! Aku enggak mau kehilangan kamu lagi!” tegas Aqwa tak kalah emosional dari sang papah.


“Salah Mas ngapain bikin komik begitu!” emosi pak Kim.


“Ini hanya sementara karena aku yakin, aku bisa menjalani misi ini! Cukup lanjutkan cerita Mas, dan pastikan aku selamat sekaligus menang!” tegas Asih.


“Kamu kunci dari semua ini, Mas!” sergah oma Chole. “Karena nasib Asih tergantung skenario yang kamu tulis di komik!”


“Aku pamit, Mas. Cepat selesaikan komikmu dan pastikan aku selamat sekaligus menang!” sergah Asih yang detik itu juga melepaskan cekalan tangan Aqwa. Tak peduli seberapa kencang Aqwa mempertahankannya. Ia tetap membuat mereka berpisah.


“Sih!” Aqwa histeris, menangis sejadi-jadinya. Ia tak kuasa menyaksikan sang istri tersedot memasuki pusara di laptopnya.


Seperti yang Asih yakini, semuanya sudah langsung baik-baik saja setelah Asih menjadi bagian dari dalam laptop Aqwa. Dari suasana yang seketika tenang, damai, bahkan sunyi, juga Ara yang akhirnya bisa pak Kim rengkuh. Ara dalam keadaan pingsan sekaligus lemas. Pak Kim memeluk erat sang putri di tengah tangis pilu yang menyertai.


Di layar laptop Aqwa, adegan sudah sampai protagonis atau itu tokoh utama wanita yang akhirnya sampai di desa mati. Lebih kebetulannya sosok tersebut bernama Asih. Karena Aqwa memang menuliskan kisah nyata perjalanan hidupnya sekeluarga termasuk Asih di dalam komiknya.


Selain tangis, wajah-wajah di sana cenderung dikuasai penyesalan, kekhawatiran, dan juga ketakutan. Sementara itu, di dalam komik yang Asih masuki, Asih kembali ke desa mati.


“Kenapa tempat ini seperti tidak asing?” pikir Asih persis layaknya adegan di komik yang ia masuki.


Tokoh Asih mengawasi suasana sekitar yang mirip desa tapi kanan kiri merupakan rerumputan tinggi layaknya sebuah hutan.