
Dalam benaknya, Asih terus bertanya-tanya. Apakah alasan sang bibi bisa di sana karena telah menjadi bagian dari praktik abor*si yang bersekutu dengan wewegombel?
“Ayo!” segah Sukma yang meski ketakutan, tetap berusaha menarik sebelah tangan Asih lagi.
Masalahnya, si wewegombel tetap tidak mau melepaskan Asih. Malahan, wewegombel tersebut yang memanglah bibi Sujiah, dengan sengaja menyerahkan Asih kepada pak Sanusi layaknya perintah pria itu.
“B—bibi!” Jantung Asih sudah nyaris copot karena keadaan sekarang yang memang membuat pemompa darah itu bekerja sangat keras.
Asih terus berusaha mengipratkan tahanan tangan pak Sanusi yang tak kalah dingin dari tangan bibi Sujiah. Di lain sisi, Sukma yang sebenarnya juga tak kalah takut apalagi pihak dari keluarga pacarnya yang memaksanya untuk abors*i juga ada di sana, jadi dilema.
Sukma di antara dua pilihan. Lari dan otomatis akan membuatnya aman kemudian meminta pertolongan, tapi nyawa Asih dan janin di perut wanita itu terancam melayang. Atau, ... bertahan di sana dan sama-sama berjuang dengan Asih, yang mana menang menjadi hal mustahil mereka dapatkan dari perjuangan yang mereka lakukan?
Kini pak Sanusi yang tersenyum keji penuh kemenangan, mengangkat tangan kanannya yang tidak menahan sebelah tangan Asih. Tangan kanan yang memegang pisau tajam dan masih pisau yang sama dengan saat membuat darah mengucur dari leher ayam hitam.
Asih pikir, pak Sanusi akan menggunakan pisaunya ke perut Asih. Namun ternyata, pria itu dengan sengaja menya*yat pergelangan nadi tangan kiri Asih dengan gerakan sangat cepat. Darah segar mengucur dari sana dan sebagiannya mengenai wajah Asih maupun wajah pak Sanusi. Asih langsung menjerit kesakitan dan berakhir terduduk lemas.
Sebenarnya, bukan hanya Asih yang kesakitan. Karena Sukma, juga pihak keluarga pacar Sukma juga turut merasakannya, meski mereka hanya menyaksikan secara langsung hal gil*a yang pak Sanusi lakukan.
“Makan! Wanita ini makanan kalian! Cepat makan!” tegas pak Sanusi kepada para wewegombel yang sudah berkerumun di sekitar mereka.
Para wewegombel yang jumlahnya makin banyak itu seolah tidak sabar untuk menyantap Asih dan segala yang ada dalam diri wanita hamil itu. Tanpa terkecuali, bibi Sujiah yang mendadak mirip vampir kehausan dan siap menerk*am Asih kapan saja.
Darah segar terus mengucur dari pergelangan tangan Asih. Asih yang memang masih lemas sekaligus kesakitan, berusaha melarikan diri dari sana. Terlebih, pak Sanusi tak menahannya lagi. Asih merangkak berusaha pergi dengan tenaga yang tersisa. Karena meski berhasil masih menjadi kemungkinan mustahil yang akan ia dapatkan dari perjuangannya, Asih akan berjuang hingga titik darah penghabisan.
Sukma yang telanjur naik sambil menggenggam erat dayung kayu tua di tengah kedua tangannya yang gemetaran, nekat maju. Sukma memuku*li kepala maupun tengkuk pak Sanusi menggunakan dayungnya sekuat tenaga. Kemudian, yang ia lakukan ialah kembali menuntun Asih. Namun, wanita itu sungguh sudah tidak berdaya dan ia yakini efek kelelahan sekaligus kehilangan banyak darah.
“Apa lagi yang kalian tunggu? Cepat makan kedua wanita hamil itu!” kesal pak Sanusi yang masih terduduk, setelah sebelumnya sampai meringkuk akibat ulah Sukma.
Baik Asih maupun Sukma sudah sama-sama berjuang. Sukma juga sudah menarik Asih ke perahu getek berbahan bambu yang akan mereka pakai untuk kabur. Namun, Asih yang sempat ditarik bibi Sujiah dengan bengis, justru tenggelam.
“Akhirnya ... aku kembali ke air!” batin Asih merasa sangat lega. Ia sudah siap untuk memberi makhluk-makhluk jahat di daratan sana pelajaran. Hanya saja, selain darah segar terus mengucur dari pergelangan nadi tangan kirinya, kedua kakinya juga tak kunjung menjadi ekor.
Tak ada lagi sirip atau setidaknya sisik yang menghiasi tubuh Asih. Asih tetap selayaknya manusia yang berakhir tenggelam karena pada kenyataannya, Asih tidak baik-baik saja.
Bersamaan dengan itu, darah Asih juga mencem*ri sungai di sana. Gendis yang Asih kunci di dasar sungai Merah berakhir terusik. Kedua mata Gendis yang awalnya terpejam, perlahan terbuka dan langsung menyala merah. Darah Asih lah penyebabnya. Lebih kebetulan lagi, Asih yang tenggelam tak sengaja berpegangan pada anak panah yang menancap di dada Gendis.
“Innalilahiiiiiii!” batin Asih langsung syok ketika akhirnya, tatapannya mendapati wajah Gendis, juga kenyataan tangan kanannya yang sudah mencabut anak panah dari dada Gendis.
Dalam keadaan tak berdaya itu, Asih berusaha menancapkan kembali anak panahnya kepada Gendis. Namun Gendis yang akhirnya kembali dengan kekuatan jahatnya akibat dendamnya, dengan sangat cepat mencekik Asih dengan satu tangannya yang tersisa.
“Byuuuuuuur!!!”
Ada yang terjun ke sungai dan menjadi bagian dari mereka. Asih pikir itu Sukma, tapi nyatanya, di tengah kegelapan malam yang ditemani bulan purnama sempurna, yang turun justru pria tua berpakaian serba hitam. Itu pak Sanusi!
“Ya Alloh ... malah dukun ini dan sepertinya, dia memang sengaja menyusulku!” batin Asih lagi masih susah payah melepaskan tangan Gendis dari lehernya.
Awalnya, Gendis hanya menatap sekilas kedatangan pak Sanusi. Namun, sekelebat ingatan mendadak menghiasi benaknya bertepatan dengan ia yang baru saja mengalihkan pandangannya dari pak Sanusi.
Adegan seorang gadis memakai gamis merah yang awalnya sedang tidur, mendadak dikejutkan oleh keberadaan seorang pria di atasnya, tengah mengangkat tinggi sebuah golok.
“B—Bapak ...?” sergah si gadis yang tak lain Gendis, dan itu masih merupakan adegan yang menghiasi benak sang hantu bergamis merah.
Pertemuan Gendis dan pak Sanusi memang menarik hantu penunggu jembatan sungai Merah tersebut ke masa lalu. Masa lalu yang membuatnya melupakan semuanya termasuk itu ambisinya membuat setiap orang bahagia merega*ng nyawa. Tanpa terkecuali, ia yang akhirnya melupakan Asih.
Asih yang memang sudah langsung menepi, menatap aneh pertemuan hantu sekaligus dukun di hadapannya. Keduanya seolah saling kenal, tapi Asih yang sudah tak berdaya, memilih kembali melakukan pelarian sebisanya.
“Lebih baik kamu mat*i!” tegas pak Sanusi, di masa lalu. Namun, masa lalu itu hanya diingat oleh Gendis lantaran pak Sanusi memang tidak mengenali Gendis yang sekarang.
“Apa maksud Bapak, kenapa Bapak bilang begitu?!” sergah Gendis kala itu yang langsung buru-buru bangun kemudian meninggalkan pak Sanusi depan perasaan marah sekaligus takut.
“Karen lebih baik kamu mat*i, daripada hidup tapi hanya bikin malu bahkan dosa!” tegas pak Sanusi.
“Bapak jahat! Tega banget Bapak bicara begitu, padahal aku ini anak Bapak! Aku hanya punya Bapak setelah ibu memilih minggat gara-gara Bapak!” Kala itu, Gendis sudah langsung menangis.
“Sudah jangan banyak omong! Dengar itu ... lagi-lagi ayam jago berkokok tengah malam. Semua itu gara-gara kamu hamil, kan?” sergah pak Sanusi sangat emosional.
Dengan air mata makin berlinang, Gendis berkata, “Hamil bagaimana, Pak? Sementara aku belum menikah dan aku masih SMA! Bapak kebiasaan belajar ilmu hit*am, makanya pikirannya pun ikut sesat!”
Kini, Gendis yang sudah menjadi hantu juga tak hentinya berlinang air mata.
Lantas, bagaimana kelanjutan kisah mereka? Termasuk nasib Asih yang tak lagi menjadi ratu ikan atau setidaknya manusia setengah ikan?