Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
36 : Pertolongan Dari Leluhur


“Balik kalian ke pengirim kalian jika kalian masih ingin aman! Berani kalian begini lagi, saya pastikan kalian tidak bisa pulang!” ucap Asih dengan logat suara pria yang sangat lembut sekaligus santun. Namun, logat suaranya khas orang marah.


Ibu Ryuna yang membawa satu toples garam, sudah berada di sebelah Aqwa. Tubuh putranya memang masih panas, tapi tak sepanas sebelumnya. Ia pergoki rombongan leluhur dari suaminya dan semuanya memakai serba putih sementara setiap rambut para wanita disanggul rapi, sudah menjelma menjadi benteng untuk mereka dari para makhluk tak kasatmata.


“Kami tidak akan pernah pergi, sebelum Aqwa ikut dengan kami!” tegas salah satu dari mereka.


Bukan hanya kakek buyut yang langsung murka mendengarnya. Karena ibu Ryuna juga. Sambil menangis ibu Ryuna membuka tutup toplesnya, kemudian menabur garamnya pada setiap makhluk tak kasatmata di sana.


Beberapa makhluk tak kasat mata yang terkena garam ibu Ryuna langsung mengeluh perih. Mereka yang wajah sekaligus tubuhnya pucat, selain semua tubuh mereka yang basah, langsung menatap murka ibu Ryuna.


“Perih ...? Oke! Aku tabur sebanyak-banyaknya!” batin ibu Ryuna makin cekatan menaburkan garamnya. Namun, seorang balita yang sempat dibe*lih dan darahnya dijadikan kekuatan oleh Lumut maupun kepala pak Sanusi, mendadak berjalan menghampiri.


“Mundur, Na! Bayi itu berbahaya!” tegas kakek buyut melalui Asih.


Detik itu juga, ibu Ryuna buru-buru mundur, tapi kaki kanannya sudah langsung ditahan si bayi yang harusnya belum bisa berjalan andai sosok tersebut masih manusia.


Bayi itu mendongak menatap ibu Ryuna. Awalnya tampangnya baik-baik saja. Namun perlahan, selain wajahnya yang mendadak hitam, matanya juga menjadi berwarna merah layaknya kobaran api. Tak kalah menyeramkan, gigi-giginya menjadi tumbuh panjang kemudian ia tancapkan ke kaki kanan ibu Ryuna yang ia tahan.


Ibu Ryuna menjerit kesakitan, tapi Aqwa dengan segera menendang bayi itu hingga terlempar ke kerumunan makhluk tak kasatmata. Aqwa berangsur jongkok kemudian mengelus-elus bekas gig*itan si bayi di kaki kanan mamahnya.


Asih dan para leluhur segera mengepung makhluk-makhluk tak kasatmata itu. Setelah kompak memojokkan semuanya, tali putih bercahaya keemasan menghiasi setiap kedua tangan leluhur. Mereka menggunakan tali itu untuk mengikat serempak semuanya. Tidak hanya satu kali ikatan, tapi berulang-ulang hingga semuanya dipastikan tidak bisa melarikan diri.


Aqwa yang mulai bisa menguasai diri masih menahan luka di kaki kanan ibu Ryuna menggunakan kedua tangannya. Ibu Ryuna yang duduk membiarkan kaki kanannya ditahan menggunakan kedua tangan oleh sang putra.


Luka yang sempat menghitam di kaki ibu Ryuna perlahan tertutup. Benar-benar hanya menyisakan sedikit bekas luka. Kemudian, yang Aqwa lakukan tentu menghampiri Asih karena Asih masih dikuasai kakek buyutnya.


“Bawa mereka ke jembatan. Biarkan yang bersembunyi di sungai, keluar!” ucap Asih kepada rombongan leluhur yang jumlahnya lebih dari dua puluh.


Tanpa bersuara, semua leluhur kompak menatap Asih sambil mengangguk patuh. Kemudian, mereka kompak berusaha mengangkat makhluk tak kasatmata yang mereka ikat.


“B-buyut ...?” ucap Aqwa ragu. Tangan kanannya yang awalnya bergerak ragu, berangsur memegang lengan kiri Asih.


Asih yang masih dikuasai kakek buyut berangsur menatap Aqwa. “Pinjam tubuh istrimu sebentar, yah, Mas.”


“Kamu jaga mamah kamu saja,” balas Asih yang masih dikendalikan kaki buyut.


Dihadapkan pada kenyataan harus memilih antara mamah atau istri, tapi keduanya sama-sama membuatnya khawatir, Aqwa menjadi gamang. Aqwa tidak bisa memilih.


“Enggak apa-apa, Mas ikut Asih saja. Namun, opa melarang Mas ke sana, kan?” ucap ibu Ryuna yang kemudian menatap Asih. Tentu saja, ia meminta penjelasan kepada kakek buyut mereka. “Mohon maaf, Yut. Namun, opanya mas Aqwa meminta kami untuk tidak ke sekitar jembatan sungai Merah selama dua minggu ke depan. Khususnya Asih dan mas Aqwa, mereka beneran enggak boleh.”


Menyimak itu, Asih yang menatap sendu kedua mata ibu Ryuna, berangsur mengangguk. “Iya, makanya Mas Aqwa di rumah saja sama mamah.”


Sadar Aqwa tidak bisa memilih, ibu Ryuna mencoba mengambil jalan tengah. Ia berangsur berdiri kemudian mendekati Aqwa. Meski selama itu, tatapannya cenderung fokus menatap kedua mata Asih yang balas menatapnya dengan tatapan teduh. “Kalau begitu saya ikut, Yut!” sergah ibu Ryuna.


“Buyut yakin ini, aman untuk istriku? Jangan sampai istriku jadi ikan lagi. Aku enggak ikhlas, Yut. Atau, biarkan istriku di rumah bersama Mamah saja. Biar aku yang ikut Buyut!” mohon Aqwa.


Asih menggeleng pelan di tengah fokus matanya kepada Aqwa. “Tidak bisa. Asih tetap harus ikut dengan kami karena hanya dia yang bisa menyelesaikan semua ini.”


“Tapi istriku jangan sampai jadi ikan lagi, yah, Yut!” mohon Aqwa yang kali ini sampai berlinang air mata. Sesak menguasai dadanya yang juga sampai bergemuruh. “Aku beneran ingin hidup normal. Aku enggak butuh kekuatan apa pun. Yang aku butuhkan, ... hidup normal, tenang, damai bersama keluargaku termasuk istri dan calon anak kami.”


Menyaksikan itu, ibu Ryuna jadi tidak tega. Ibu Ryuna turut berlinang air mata bahkan tersedu-sedu. “Selama ini keistimewaan yang Mas Aqwa miliki hanya untuk membantu sesama, atau malah disalah gunakan oleh mereka yang tak kasatmata. Malahan karena keiistimewaan itu juga, hidup mas Aqwa jadi enggak pernah tenang, Yut ....” Ibu Ryuna mengakhirinya dengan menunduk dalam.


Tak lama berselang, Asih berangsur menghela napas pelan. “Ya sudah, ... ayo kita berangkat.”


Berjalan kaki, Asih yang masih dikendalikan oleh kaki buyut memimpin langkah. Aqwa menggandeng sang mamah mengikuti, diikuti oleh para leluhur yang gotong royong memboyong makhluk tak kasatmata.


Suasana berbeda mereka rasa sepanjang melangkah. Dingin dan membuat mereka tak hentinya merinding. Di lain sisi, ibu Ryuna juga memikirkan suami dan mertuanya yang tak kunjung memberi kabar.


“Andai sekadar tulang si mantan dukun abor*si enggak ditemukan. Termasuk anj*ing yang sudah memakan tubuhnya, ini bagaimana? Apa memang hanya caranya Buyut yang bisa mengakhiri semuanya. Namun cara buyut membuat kami justru kompak ke sungai Merah,” pikir ibu Ryuna. Diam-diam, ia mengeluarkan ponselnya. Gawai canggihnya tetap tidak dihiasi sinyal.


Sepanjang melangkah, rombongan ibu Ryuna seolah tidak bisa dilihat oleh mereka-mereka yang berpapasan dengan mereka. Hadirnya mereka termasuk para makhluk tak kasatmata, sama sekali tidak mengusik yang ada di sana. Semuanya tetap fokus dengan kesibukan masing-masing.


“Aku enggak mau andai Asih sampai jadi ikan lagi. Aku enggak ikhlas! Pokoknya aku enggak mau!” tegas Aqwa masih menggandeng sang mamah. Namun, makin dekat jaraknya dengan jembatan sungai merah, makin kesal juga ia dibuatnya.