Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
51 : Masih Berusaha Menghindar


“Tak lelo, lelo ledung ....”


“Wes menengo anakku Si Kuncung ....”


“Embokmu lagi lungo menyang kali.”


Lagu Lelo Ledung yang dipopulerkan oleh Waldjinah, terdengar lirih dan sangat menggelitik. Bulu roma Asih kompak berdiri, seiring lantunan lagu tersebut yang terus terdengar dari kolong tempat tidur Aqwa.


Asih yang baru mengakhiri pelukannya, mendadak kembali mendekap erat tengkuk Aqwa menggunakan kedua tangannya. Lagu yang masih mengalun lirih itu makin lama makin sedih, tapi ketakutan yang begitu besar membuat bibir Asih terkunci rapat meski dari tatapannya kepada Aqwa, sebenarnya ia ingin menyampaikan semuanya.


“Kalau begitu kita siap-siap pergi. Rias wajahmu, terus pakai kerudungnya.” Aqwa merasa, pilihan terbaik dari keadaan sekarang ialah ia yang membawa sang istri pergi dari sana. Namun tentu saja, ia akan menutup laptopnya. Meski Asih menolak ditinggal di tempat duduk yang ada di depan cermin sekaligus meja rias.


Aqwa sudah menyiapkan semuanya. Kerudung, juga tas kosmetik yang turut dihiasi beberapa peniti dan bros milik Asih. Perlengkapan kecantikan yang ibu Ryuna siakan khusus untuk Asih ketika istrinya menghilang terbilang sangat lama. Terlepas dari semuanya, Aqwa sadar, alasan Asih tak mau ditinggal karena keberadaan meja riasnya berada persis di sebelah tempat tidur mereka.


“Bentar, mau rapihin laptop dulu, tadi habis kerja lupa simpan file,” ucap Aqwa.


Detik itu juga Asih yang gemetaran hebat dan tak kunjung berhasil membuka ritsleting tas kosmetik berbentuk kotak mirip brankas berwarna putih aksen bunga dan memang sangat cantik, menyadari penyebabnya. Penyebab kejadian kini yaitu wewegombel mendadak ada di kolong tempat tidur.


“Laptonya dibuka ...?” batin Asih yang kebetulan juga baru menyadarinya. Dadanya makin bergemuruh, merasa bingung sebingung-bingungnya bagaimana caranya mengembalikan wewegembel di kolong tempat tidur kembali ke laptop.


“Berapa banyak yang keluar?” tanya Asih refleks kepada sang suami ketika tatapan mereka akhirnya bertemu. Di dekat jendela sebelah meja kerja, Aqwa sudah langsung tidak bisa menjawab. Meski dari tatapan Aqwa juga, suaminya itu jelas menyesali keadaan sekaligus meminta maaf.


Bersama lagu yang makin lama makin menyesakkan dada karena nadanya sangat sedih, Asih juga mendadak menjerit lantaran sebelah kakinya malah ditarik. Kedua tangannya berpegangan erat ke meja dan detik itu juga Aqwa loncat ke tempat tidur mereka agar bisa menyelamatkan sang istri lebih cepat.


Niat hati pura-pura tidak tahu, pada kenyataannya mereka yang berusaha mengganggu juga punya banyak cara untuk melibatkan Asih.


Asih benar-benar ketakutan, menangis histeris dan tidak yakin mentalnya akan aman jika setiap saat hidupnya terus diteror layaknya sekarang.


“Doa, doa!” bisik Aqwa sembari menatap tegas Asih yang juga sudah ia peluk erat.


Setelah terjadi rebutan sengit antara Aqwa dan tangan wewegombel di bawah tempat tidur, akhirnya Aqwa berhasil membopong Asih meski itu sukses membuat Asih meringis kesakitan. Sementara ketika Aqwa tak sengaja melihat pergelangan kaki kanan Asih yang tadi sempat ditarik, di sana sudah berubah menjadi kehitaman bekas cengkeraman jemari tangan.


“Astaghfirullah ...,” lirih Aqwa yang kemudian membawa Asih mendekati lemari. Ia meminta Asih untuk mengambil seikat lidi lanang atau itu lidi dari pohon aren.


Masyarakat setempat percaya, lidi lanang terlebih yang sudah sempat dibacakan doa-doa, mampu mengusir arwah jahat. Karenanya, setelah mendudukkan Asih di tengah tempat tidur, Aqwa sengaja menggunakan seikat lidi lanang itu untuk mengusir arwah jahat.


Tangan kanan Aqwa terus menghan*tam-hantam*kan lidi lanangnya ke sekitar. Ia juga menghubungi nomor ponsel sang opa tapi tak kunjung mendapatkan balasan. Selain itu, kenyataan Aqwa yang sudah tidak bisa melihat makhluk tak kasatmata juga membuat pemuda itu tidak yakin, apakah pengusiran yang ia lakukan berhasil atau tidak.


Meski pada kenyataannya, sang wewegombel yang masih mendekap bungkusan bayi, tetap berada di kolong tempat tidur. Aqwa dan Asih yang sudah rapi meninggalkan kamar tanpa mengetahui kenyataan tersebut. Alasan Aqwa tak mengetahuinya tentu karena ia sudah tidak bisa melihat. Sementara alasan Asih tak mengetahuinya tentu karena Asih sengaja menghindarinya.


“Itu tadi kayak tadi ... dia jadi tahu kalau aku bisa merasakan sentuhannya, kan?” bisik Asih. Ia tak hanya membiarkan sebelah tangannya digandeng erat Aqwa. Karena ia juga menggunakan sebelah tangannya untuk mendekap lengan tangan Aqwa yang menggandengnya, sangat erat.


“Setidaknya asal belum kontak mata secara langsung, itu jauh lebih aman!” yakin Aqwa yang memutuskan untuk membopong Asih lantaran Asih jadi melangkah dengan terpin*cang-pincang. Barulah setelah mereka sampai di dekat pondok pesantren, ia menurunkan Asih.


Ternyata alasan opa Helios tak kunjung menjawab telepon Aqwa karena kini, di atas panggung acara, yang bersangkutan tengah mendampingi habib yang akan mengisi acara. Sedang ada kehebohan di panggung sana karena ternyata, acara maulid nabi kali ini, mereka kedatangan tamu agung yaitu Kim Oh Jan, pelawak sekaligus artis legendaris yang ketenarannya tidak pernah redup sejak awal pria itu berkiprah menjadi artis.


“Oalah ... ada kak Ojan ... pantesan rame banget,” lirih Asih.


“Jangan panggil Kak, panggil uyut saja,” ucap Aqwa yang kembali menggandeng erat sebelah tangan Asih. Ia dapati, Asih yang sempat menangis histeris, langsung meringis menahan tawa hanya karena Ojan.


“Kasihan jiwanya yang selalu muda tak sejalan dengan fisik dan raga, Mas. Ya gimana jiwanya enggak muda, setiap saat saja dia bikin orang ketawa!” balas Asih.


“Nanti kalau opa sudah beres urusan di sini, langsung suruh cek kamar kita sekaligus laptop aku,” ucap Aqwa kembali serius.


Sempat merasa lega karena yakin pertolongan opa Helios akan membuat mereka baik-baik saja, kenyataan tersebut tak berlangsung lama karena Asih yakin yang diincar memang dirinya. “Yang diincar kan memang aku Mas. Meski sampai sekarang aku juga penasaran, misi apa yang mereka ingin aku lakukan. Asal jangan kuran*g ajar dan juga tetap berlangsung sementara, sebenarnya aku sudah siap meski jujur saja, aku takut banget!” batin Asih sudah langsung menyadari, opa Helios sudah langsung menatanya dengan tatapan berbeda dan itu malah membuat Asih kembali ketakutan. Hanya saja, Asih yang takut melihat penampakan sengaja tidak memastikan ke sekitar bahkan meski hanya melalui lirikan.