Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
54 : Rasuk


Tembang yang terdengar mengiri*s itu hati masih berlangsung. Tembang yang bermakna harapan baik di masa depan untuk kehidupan sang putri yang tengah ditidurkan itu seolah menjadi kesedihan mendalam bagi yang melantunkan maupun Ara yang mendengar. Terlebih sedikit banyaknya, Ara masih paham bahasa Jawa yang digunakan dalam tembang.


Gemetaran hebat Ara dibuatnya. Hati kecil Ara sudah mengingatkan agar dirinya istighfar maupun melantunkan doa lainnya. Namun, kenyataan sosok yang ada di kolong sana tengah menangis darah sambil menimang seonggok dalam kain dan ia yakini bayi, membuatnya tak berdaya.


Ara seolah bisa merasakan kesedihan bahkan kehancur*an mendalam dari sosok tersebut. Membuat kedua matanya tidak bisa berhenti untuk tidak berkontak mata dengan kedua mata yang menangis darah di bawah sana. Ara bahkan perlahan menangis.


“Ara, ... Ara kamu di mana?” Suara ibu Ryuna terdengar dari luar.


Di luar, ibu Ryuna sampai berlari keluar dari kamar Ara lantaran wanita itu tak menemukan yang dicari ada di sana. Namun, ketika ibu Ryuna baru melewati kamar Aqwa yang pintunya sedikit dibuka, dari sana malah terdengar suara langkah pelan dan ibu Ryuna kenali sebagai langkah Ara. Bunyi sandal yang agak nyaring itu ibu Ryuna kenali sebagai sandal sang putri.


“Ara di dalam, tapi kok tumben enggak nyaut-nyaut panggilan aku, padahal dari tadi aku teriak-teriak?” batin ibu Ryuna yang refleks mundur dari depan pintu kamar Aqwa. Ada yang melangkah keluar di sana dan ia itu sungguh Ara.


Ara terus menunduk dalam, sementara kedua tangannya membawa laptop yang ibu Ryuna ketahui sebagai laptop Aqwa. Hanya saja, selain terus menunduk dan langkahnya sangat pelan seolah anak gadisnya itu sakit, di mata ibu Ryuna, cara Ara membawa laptop Aqwa juga mirip seorang ibu yang tengah menimang bayinya penuh cinta.


“Ara sayang, kamu ke oma sama mbak Asih dulu ya. Ayo kita ke sana. Harusnya papah sama opa, bentar lagi pulang. Ini tadi Mamah sudah WA,” sergah ibu Ryuna sembari meraih sebelah tangan Ara.


Alih-alih mendapatkan jawaban, ibu Ryuna justru mendapatkan tatapan tajam yang sangat mengerikan dari Ara. Ara menatapnya sambil miring-miring, cara dan gayanya aneh hingga ibu Ryuna istighfar.


“Istighfar, Nak.” Air mata ibu Ryuna jatuh tepat ketika ia mengatakan itu. Terlebih meski menatapnya tajam, dari kedua sudut mata Ara juga terus menitikkan air mata. Juga, kedua mata Ara yang nyaris berwarna putih semua.


“Istighfar, Nak ...!” tangis ibu Ryuna pecah, tersedu-sedu ia dibuatnya.


“Mah ... Mah, tolong, Mah! Ara, Mah!” kali ini ibu Ryuna berteriak. Gemetaran hebat tubuhnya menahan takut termasuk suara yang ia lantangkan.


“Stttttt ....” Ara memberi ibu Ryuna peringatan lirih sembari meletakan telunjuk tangan kanannya di depan bibirnya yang tipis. Ia menatap ibu Ryuna penuh peringatan, kemudian memberi kode agar wanita itu tak berisik. Sebab laptop dalam dekapannya dan di matanya merupakan seonggok bayi merah dalam bedong merah kusam, sedang tidur.


“Astaghfirullah Ara ... ini beneran enggak beres!” tangis ibu Ryuna yang juga langsung merinding ketika dari bibir sang putri mengalun tembang Jawa tapi itu jelas suara lain. Itu bukan suara Ara.


Lagu Lelo Ledung kembali mengalun pedih. Ara melantunkannya dengan suara wanita lain yang sangat lembut sekaligus kental logat Jawanya. Bersamaan dengan itu, air mata Ara makin berlinang.


Dari lantai bawah, Asih tampak berlari diikuti juga oleh oma Chole. “Oma di bawah saja, biar aku yang naik!”


“Enggak, Sih. Ibaratnya di mata para lelembut, kata opa kamu sama saja janin atau bayi merah yang sangat menguntungkan bagi mereka!” tolak oma Chole.


Nyaris akan terjadi perdebatan, lantunan lagu dari lantai atas dan mereka pergoki dari kebersamaan ibu Ryuna dengan Ara, membuat keduanya refleks merinding. Jantung keduanya seolah rontok hanya karena menyaksikan itu lantaran di sana, Ara jelas menunjukkan gelagat aneh.


“Ya sudah, kalau gitu Oma panggil opa. Aku mau bantu mamah ke atas. Itu yang nyanyi begitu yang tadi ada di kolong tempat tidur mas Aqwa, Oma. Oma paham kan maksudku? Dia yang bikin kaki kananku hitam. Mungkin, dia memang ada perlu sama aku dan sampai ke Ara!” sergah Asih lagi. Tanpa menunggu keputusan sang oma, ia langsung lari menaiki anak tangga.


Asih memaksakan kaki kanannya untuk tetap bergerak lantaran baginya, keadaan kini sudah sangat gawat. Tak peduli karena keputusannya itu, kakinya terasa bahkan tampak layaknya terbakar. Kini, Asih mendapati bara api seolah berkobar dari sana.


Ditinggal Asih, oma Chole juga tak tinggal diam. Terseok-seok wanita tua itu. Namun karena sadar dirinya belum memakai cadar, oma Chole mendadak putar balik kembali ke dalam menuju kamarnya.


Lagu Lelo Ledung masih berlangsung meski pada akhirnya, kedatangan Asih juga sampai di depan ibu Ryuna.


Setelah mendapati sepasang kaki Asih ada di hadapannya, Ara mengalihkan tatapannya dari laptop Aqwa yang sampai detik ini masih tampak sebagai bayi merah di matanya.


“Kamu jahat banget sih ...,” ucapnya tak jadi menaikan tatapannya yang sudah sampai ke gamis warna lilac milik Asih.


Ara menjadi menangis tersedu-sedu. “Aku mau minta tolong ... tapi kamu setega ini. Gara-gara kamu, anakku jadi enggak mau bangun. Aku enggak terima ya kalau gara-gara kamu, anakku kenapa-kenapa. Kamu harus tanggung jawab!” ucapnya sambil menatap penuh emosi kedua mata Asih.


Sampai detik ini, itu bukan suara Ara. Namun bagi Asih, suara itu sangat asing.


“Kamu siapa? Aku enggak kenal kamu. Kalaupun kamu mau minta tolong, coba katakan baik-baik.” Asih turut bersedih, merasa prihatin pada sosok yang ia yakini telah merasuki Ara.


“Kamu lupa ke aku, Sih?” balas Ara yang kemudian tersedu-sedu.


Meski gemetaran, kedua tangan Asih meraih kedua tangan Ara. Hal serupa juga sudah lebih dulu dilakukan ibu Ryuna.


“Kamu siapa? Aku beneran minta maaf ... kamu yang tadi di kolong?” Kali ini Asih makin memperlakukan Ara dengan lembut.


Tak diduga, Ara menarik tangan kanannya kemudian mendorong Asih. “Jangan pura-pura baik kamu Sih! Jangan lupa, tanpa aku, kamu sudah jadi wewegombel!” tegasnya.


Ditodong begitu, Asih tentu makin bingung. “Maksud kamu apa? Andai memang aku lupa kamu, ya ... mungkin saja karena aku memang amnesia. Aku melupakan kejadian satu tahun ke belakang. Namun, kamu jangan di tubuh adikku ya.” Asih benar-benar memohon.


“DENGAR, SIH! AKU BAKALAN BAWA TUBUH ADIK KAMU, KALAU KAMU ENGGAK BISA NOLONG AKU!” tegas Ara sangat emosional.


Detik itu juga Asih dan ibu Ryuna bertatapan.