
Berjalan mengantar Sukma, opa Helios yang awalnya berdiri di sebelah kiri Sukma, bersebelahan dengan si wewegombel, sengaja menjambak sosok tak kasatmata tersebut.
Opa Helios membiarkan anak dan menantunya yang melangkah di sebelah kanan Sukma, mendampingi Sukma hingga wanita penyelamat Asih itu keluar dari rumah sakit. Tampak ibu Ryuna yang sesekali merangkul menggunakan sebelah tangannya yang tidak digandeng oleh sang suami.
Marah dan terkejut, itulah tanggapan dari wewegombel yang awalnya mengikuti Sukma. Di lorong menuju kamar Asih berada, opa Helios menatap bengis sosok wewegombel itu yang perlahan opa Helios cek*ik. “Kembalilah kepada dia ataupun mereka yang mengirim kamu, jika kamu ingin selamat!”
“Tapi janin itu milikku dan dia harus ikut denganku! Dia akan menjadi pengabdi, menemaniku untuk sama-sama memuja junjungan kami!” jawab si wewegombel, tapi dia bukan bibi Sujiah, selaku bibi Asih yang sudah sempat menjadi perantara Asih terjebak di dimensi lain. Karena gara-gara meminum air putih pemberian bibi Sujiah, Asih terjebak di dimensi lain.
Mendapat balasan tersebut, opa Helios langsung tersenyum sinis seiring pria tua itu yang juga mengangguk-angguk. “Baik lah kalau begitu maumu.” Ia berangsur menggunakan tangan satunya lagi untuk menceki*k wewegombel tersebut sekuat tenaga bersama bibirnya yang merapal doa. Detik itu juga sang wewegombel yang awalnya hanya sesak napas, menjadi kepanasan layaknya terbakar. Memohon ampun sekaligus meminta tolong, menjadi hal yang sosok tersebut lakukan kepada opa Helios.
Dari dalam ruang rawat Asih, Aqwa yang awalnya masih menjaili Asih, bisa merasakan apa yang terjadi di lorong depan sana. Bahwa sang opa, mengirim paks*a wewegombel yang mengikuti Sukma, ke pemilik atau pengirimnya. Hanya saja, Aqwa tak mengabarkannya kepada Asih. Ia tak mau istrinya makin setr*es karena dekat-dekat dengannya saja, beban hidup Asih terlihat langsung bertambah berkali lipat.
“Kenapa?” tanya Asih kepo.
“Enggak ...,” jawab Aqwa cepat sambil menggeleng sekaligus menatap Asih.
“Mas ih ...,” tuntut Asih masih merengek.
“Apaan? Salah lagi, kan?” sergah Aqwa yang kemudian melongok ke belakang dengan serius, tapi kenyataan tersebut sudah langsung membuat Asih takut. Ekspresi yang jujur saja sangat membuat Aqwa terhibur. Aqwa tak segan menertawakannya, meski karena ulahnya, ia jadi mendapat beberapa puku*lan dari Asih, di bagian punggungnya.
“Kita masih terlalu muda, tapi dalam waktu dekat, kita akan punya anak. Jadi, mamah papah mau bantu kita urus anak kita karena biar bagaimanapun, kita harus tetap melanjutkan pendidikan kita,” ucap Aqwa mendadak serius.
Mendengar itu, Asih langsung terdiam sedih. Ia berangsur menatap Aqwa yang baru akan membantunya kembali rebahan.
“Jangan gitu. Aku saja yang enggak punya orang tua, pengin punya orang tua. Mau bagaimana lagi? Adanya begini, ya dijalani. Kalaupun mau lanjut kuliah, waktu yang kita miliki kan enggak buat kuliah semua. Kita masih bisa urus anak,” ucap Asih yang jadi menunduk terlebih Aqwa langsung menatapnya dengan tatapan dalam sangat serius. Tatapan yang sulit untuk Asih artikan, tapi bisa Asih pastikan, Aqwa tak sedang bercanda.
“Aku kan enggak larang kamu, maupun kita buat urus anak,” ucap Aqwa lirih berusaha mere*but hati isyrinya.
“Tapi kalimat Mas tadi ....”
“Iya, aku memang sumber salah.”
“Mas jangan bicara begitu, aku lagi serius!”
“Iya, aku juga lagi serius. Kalimat yang tadi karena gimana ya bilangnya. Itu ibarat rasa tanggung jawab aku maupun pihakku.”
“Mas kalau ke yang lain bisa serius, kalau ke aku kok kayak ngeledek?”
Aqwa baru beres berbicara, kaca jendela sebelah kembali seperti ada yang melempar. Hanya saja, kali ini tak sampai pecah. Meski karena itu juga, Asih jadi duduk dan makin menatap sebal Aqwa.
“Salah lagi kan, akunya ...,” protes Aqwa lirih.
“Makanya itu teman Mas jangan boleh berisik ngagetin gitu ya. Enggak sopan itu namanya,” balas Asih, yang sampai detik ini masih berucap lirih sekaligus lembut. Ucapan yang lebih terdengar merengek.
“Itu bukan teman aku. Yang namanya teman pasti setidaknya sopan, kan? Itu hanya beberapa dem*it yang cemburu gara-gara hubungan kita sangat direstui keluargaku!” tegas Aqwa yang kemudian berkata, “Intinya, pela*kormu bukan hanya wanita wujud manusia, tapi demit laki-laki pun cemburu ke kamu!”
Detik itu juga, Asih jadi mengawasi sekitar dengan serius di tengah kedua matanya yang sibuk berkedip.
“Sini,” ucap Aqwa yang kemudian memeluk Asih.
Sempat langsung terkejut, Asih nyaris mengomel bahkan lebih kepada Aqwa. Hanya saja, kenyataan di sana yang jadi berisik oleh hanta*man tak kasat mata, tapi malah membuat Aqwa tertawa, menjadi pertanyaan sendiri bagi Asih. Namun kemudian, Asih menarik kesimpulan. Bahwa mereka-mereka yang tak kasatmata, sangat cemburu kepadanya yang telah sepenuhnya menjadi bagian dari Aqwa.
“Brad ... bred ... jebred!”
Keadaan di sana tak ubahnya pertunjukan musik orkestra. Makin lama Aqwa mulai menikmatinya. Pemuda itu mulai mengangguk-anggukan kepala, menikmati irama musik dadakan yang membuat bulu kuduk mereka kompak berdiri.
Jailnya, Aqwa membuat Asih balas memeluknya. Aqwa dengan sadar mendekapkan kedua tangan Asih yang masih lemah ke pinggangnya. Detik itu juga hanta*man tak kasat mata di sana lebih keras dan dua kaca jendela yang ada sampai retak. Asih yang menyadari itu buru-buru mengakhiri pelukan mereka. Meski yang ada, keadaan itu malah membuat Aqwa tertawa bebas.
“Jika ke aku saja, mereka begitu cemburu, bagaimana dengan ke anak kita?” tanya Asih yang menatap takut Aqwa bersama ketakutan yang juga lahir karena ia terlalu khawatir pada nasib anak-anaknya.
“Aku berharap mereka jadi manusia normal pada umumnya. Cukup aku saja karena segala yang kelebihan memang enggak baik!” ucap Aqwa yang berangsur mengusap ubun-ubun Asih. Detik itu juga kaca sebelah pecah, dan kali ini bukan hanya Asih yang terkejut. Sebab Aqwa maupun opa Helios yang baru masuk juga.
Opa Helios yang sempat refleks mundur, berangsur maju sambil menggeleng tak habis pikir menatap Aqwa maupun Asih.
“Di jembatan sungai Merah kembali angker, Opa,” ucap Aqwa kepada sang opa.
“Iya, tapi kamu enggak usah ke sana karena bangsa ikan masih mengincar kamu. Paling tidak, dalam dua minggu ke depan, tolong tutup mata bahkan hati kamu buat enggak ikutan urus yang di sana,” ucap opa Helio wanti-wanti.
“Ya Alloh, ini apa lagi?” batin Asih makin pusing. Ia refleks menghela napas dalam, sembari terus menyimak wanti-wanti opa Helios yang mengabarkan, bahwa hantu kepala yang merupakan dukun abor*si dan ternyata bapak Gendis, sedang mencari tubuh yang bisa ditempati. Hanya saja, Aqwa menjadi sosok utama yang diincar untuk dijadikan pengganti tubuh atas keistimewaan yang Aqwa miliki.
Merinding, Asih yang jadi makin penakut, langsung tidak bisa berkata-kata.