
Niat hati ingin mulai romantis, keputusannya memamerkan komik pertamanya justru membuat mereka terancam gagal.
Asih langsung asyik membaca komik buatan Aqwa. Termasuk setiap komentar yang ditinggalkan pembaca. Aqwa benar-benar diabaikan. Karena jangankan ada kesibukan, saat sedang santai saja, pada kenyataanya Asih memang cuek dan terkesan tidak tertarik kepada Aqwa.
“Duh sih ....” Aqwa terduduk pasrah di lantai. Ia sengaja menyandarkan kepalanya ke paha Asih.
“Sih, ayo tidur.” Aqwa masih berusaha dan sebisa mungkin bersikap manis. Ia menengadah hanya untuk menatap Asih, tapi dengan sadisnya, istrinya itu malah menggunakan tangan kanan untuk mendorong wajahnya.
“Ya ampun Sih, sadis banget kamu. Aku suami kamu, loh, Sih!”
“Bentar ih, Mas. Tanggung. Ini beneran seru banget!” Asih tetap fokus pada layar laptop Aqwa.
“Aku bos kamu loh, Sih!” protes Aqwa masih duduk sila di lantai sambil menengadah berusaha mendapatkan balasan tatapan dari sang istri.
Detik itu juga Asih merengut. “Kalau sudah jadi suamiku berarti bukan lagi. Soalnya dalam rumah tangga, istri yang jadi bosnya!” balas Asih lagi tetap cuek.
Sadar, sang istri akan tetap sibuk di depan laptop, Aqwa sengaja mendekap kedua lutut Asih kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya itu.
“Nah ... nah, sudah enggak beres kalau gini caranya,” batin Asih yang jadi terusik, merasa terganggu sekaligus tegang gara-gara keadaan sekarang. Ia menatap tegang wajah Aqwa maupun kedua tangan Aqwa yang mendekap kedua lututnya. Baru ia sadari, di jari manis tangan kanan mereka sama-sama dihiasi cincin emas polos khas cincin tanda pengikat dari pernikahan.
Memandangi wajah tampan Aqwa, Asih jadi tidak tega. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah, dan ingin segera membuat pemuda itu tidur dengan benar. Meski jujur saja, jika harus tidur bersama, ia masih merasa malu sekaligus takut.
“Asih ....”
Ada suara, suara seorang perempuan dan sudah langsung membuat Asih tidak baik-baik saja. Suara yang sebenarnya sudah kerap Asih dengar dan Asih yakini efek dirinya tinggal bersama Aqwa yang indigo.
Bulu roma Asih kompak berdiri, selain Asih yang sudah langsung panas dingin menahan rasa takut yang detik itu membuncah. Kedua mata Asih refleks mengerling, mencari sumber suara panggilan tersebut berasal, terlebih ia memang tipikal yang gampang penasaran padahal Asih juga sangat penakut.
Karena panggilan tak kasatmata yang kembali berlangsung, di sekitar terasa menjadi berhawa dingin. Puncaknya, ketika Asih kembali menghadap ke depan dan itu keberadaan laptop, Asih langsung histeris lantaran dari sana ada kepala sosok wewegombel yang tengah Asih baca di komik Aqwa.
Kepala tersebut berusaha keluar di tengah kedua matanya yang menatap inte*ns kedua mata Asih. Kedua mata hitam menyala itu seolah sangat menginginkan Asih. Asih yang memang langsung panik nekat menutup laptopnya lantaran selain sosok di komik itu mendadak hidup, sang wewegombel juga berusaha keluar dari laptop hanya untuk menghampirinya. Hanya saja, tangan kanan sang wewegombel dan berkuku sangat panjang berwarna hitam, telanjur keluar. Alasan yang membuat Asih terlonjak hanya untuk menghindar hingga Aqwa yang tidur di pangkuannya juga terkena dampaknya.
“Ada apa?” sergah Aqwa yang memang sempat terban*ting dari pangkuan Asih. Ia langsung berusaha berdiri, dan Asih sudah langsung menariknya.
Situasi yang mendadak mencekam diakhiri dengan tangan sang wewegombel yang kembali masuk laptop Asih. Meski kenyataan lampu sana yang berkedip-kedip dan berakhir mati, juga membuat Asih menjerit histeris.
“Ada apa?” seru opa Helios.
“Sudah malam jangan bercanda! Mas Aqwa jangan jail terus!” susul pak Kim.
Di tengah deru napas tak beraturan dan juga detak jantung yang jauh dari kata normal dari Asih, Aqwa benar-benar mendapati istrinya ketakutan. Asih tak hanya berkeringat parah, tapi juga gemetaran hebat.
“Apa yang terjadi?” tanya Aqwa dengan suara lirih. Ia menatap Asih penuh keseriusan.
“Wewegombel si bibi hidup, Mas! Sumpah ini serius jangan dibikin bercanda! Aku beneran serius. Wewegombelnya tahu namaku. Dia panggil-panggil namaku dan berusaha keluar gitu. Awalnya kepalanya, tapi terus juga tangannya.” Asih bercerita dengan emosi yang tidak stabil.
Setelah menatap Aqwa penuh keseriusan, Asih nekat memeluk Aqwa sangat erat. “Aku beneran takut, Mas. Tolong jangan menganggap ini bercanda. Itu wewegombel di komik Mas beneran hidup!”
Menghela napas pelan sekaligus dalam, Aqwa berkata, “Ambil sisi positifnya saja. Mungkin demitnya sengaja iseng ke kamu soalnya kamu diajak tidur sama suami nolak mulu.” Ia benar-benar memperlakukan Asih dengan lembut.
Asih buru-buru menengadah hanya untuk menatap kedua mata Aqwa. Namun, ia tidak bisa untuk tidak memeluk Aqwa seerat mungkin. Ia terlalu takut dan teta saja ketakutan. “Tapi tadi beneran, ... wewegombelnya hidup. Itu Mas nulis kisah nyata apa gimana?” Setelah bertanya begitu, padahal Aqwa belum sempat menjawab, Asih berkata, “Ya sudah kalau gitu. Tolong keluarin laptopnya dari kamar. Terserah mau Mas taruh mana, yang penting untuk sementara, tolong jangan taruh itu laptop di kamar.”
“Ini beneran wajib?” tanya Aqwa sambil menatap serius sang istri yang memang tampak sangat kacau ketakutan.
“Oke ... oke.” Aqwa sudah langsung bergerak cepat memboyong laptopnya lantaran Asih sudah nyaris menangis. Dan ia sadar, sepanjang ia pergi, sang istri juga berusaha menyusul, mengikuti.
“Apa gara-gara urusan kami dengan orang-orang yang mengantar barangnya bibinya Asih belum beres, ya? Yang Asih bilang, ternyata mereka keluarga dari pacarnya si Sukma. Ini maksudnya gimana? Apa mereka masih bersekut*u dengan wewegombel?” pikir Aqwa sambil terus membawa laptopnya.
Aqwa menaruh laptopnya di meja dapur. Karena sudah berpengalaman, meski kini ia bukan anak indigo lagi, Aqwa sengaja menaburi sekitar laptopnya garam.
“Aku percaya banget ke Asih. Dia sampai ketakutan gitu. Andai teror masih berlanjut dan mereka tetap mengincar Asih, awas saja aku balas kalian!” batin Aqwa.
Seperti keyakinan Aqwa, Asih memang sampai mengikutinya. Apa yang Aqwa lakukan membuat Asih merasa, ketakutannya dihargai. Suaminya percaya kepadanya. Aqwa tak menganggapnya bercanda apalagi gil*a. Karenanya, meski sempat ragu, ia berangsur masuk ke dekapan Aqwa yang sudah langsung berusaha melakukannya.
Setelah Asih dan Aqwa yang terus berpelukan benar-benar pergi dari dapur, laptop milik Aqwa menjadi bergerak-gerak. Kuku-kuku hitam panjang nan runcing berusaha keluar dari sana. Bersamaan dengan itu, lampu dapur jadi mati hidup khas lampu akan mati. Namun terakhir, jemari itu seperti tersengat arus setrum tak lama setelah menyentuh garam yang Aqwa tabur dengan rapi sekaligus tebal.
Jemari tadi tak jadi keluar, dan lampu dapur kembali menyala dengan normal.