Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
45 : Akhirnya Kembali


Subuhnya, akhirnya Aqwa terbangun. Layaknya orang sakit, Aqwa masih lemas dan sekadar bangun dari tempat tidur saja Aqwa tidak bisa. Namun karena pemuda itu ingat mengenai apa yang terjadi kemarin malam, khususnya pada apa yang menimpa Asih, Aqwa langsung terjaga.


“Sih ...?” rengek Aqwa. “Sih ...?” Ia makin sibuk melawan rasa lemas sekaligus sakitnya hanya untuk menemukan sang istri atau setidaknya mendapat balas.


Sampai akhirnya Aqwa mengetahui semua yang terjadi di malam itu, termasuk nasib calon anaknya dan Asih, Aqwa menjadi pribadi pendiam. Terlebih meski hampir setiap hari ia mengunjungi sungai Merah, ia tak kunjung menemukan tanda-tanda sang istri akan menemuinya.


“Ya Allah ... harus berapa lama lagi hamba menunggu? Sudah tiga bulan,” batin Aqwa. Ia yang awalnya berada di pinggir jembatan, berangsur turun ke pinggir sungai Merah. Ia bahkan sengaja membasuh kedua tangannya di sana.


“Kau dan aku diciptakan untuk saling melengkapi. Kita tercipta untuk saling melindungi, mencintai. Namun saat ini, kita tengah digariskan untuk sendiri-sendiri. Kita tengah diminta untuk sama-sama bersabar, berjuang, menunggu saatnya nanti kita boleh sama-sama lagi,” batin Aqwa benar-benar bersedih.


Berbeda dari sebelumnya, kini keadaan sungai Merah jauh lebih terawat. Air di sana sangat jernih jauh dari tercemar bahkan sekadar beberapa sampah. Di sana bahkan jadi ramai karena menjadi tempat penyeberangan ke desa sebelah, dan salah satunya ke desa pak Sanusi sempat praktik abor*si.


Beberapa perahu getek bambu maupun perahu mesin, kerap lalu lalang di sana. Karena selain banyak yang menyeberang, warga sekitar juga kerap memancing. Sebuah warung sampai dibangun tak jauh dari pinggir sungai. Tak beda dengan keadaan sungai, warung tersebut juga ramai khususnya oleh para pemancing maupun mereka yang akan menyeberang.


“Seindah ini, ... semenjak malam itu, dan kita mendapatkan kemenangan. Mungkin efek kerajaan kalian dipegang oleh pimpinan yang tepat,” pikir Aqwa yang jadi kepikiran, jangan-jangan harusnya ikan-ikan di sana tidak boleh dipancingi?


“Jangan-jangan, istriku justru tertangkap oleh salah satu pemancing. Namun harusnya opa bilang!” kesal Aqwa yang juga akan langsung membahasnya dengan sang opa.


Aqwa buru-buru naik ke atas melewati jalan setapak menuju jalan aspal. Selain itu, ia juga melewati warung yang sedang ramai-ramainya oleh pemancing yang kepanasan. Segera ia mengemudikan motornya agar ia bisa secepatnya menanyakannya kepada sang opa dan kebetulan sudah kembali mengunjunginya ke kampung halaman. Karena saking lamanya Asih tak kunjung kembali, opa Helios maupun orang tua Aqwa, sudah beberapa kali bolak-balik Jakarta kampung.


Sempat berpikir salah lihat, Aqwa yang makin dekat dengar gerbang rumahnya justru memergoki sosok yang ia cari. Benar, itu sungguh Asih yang tampaknya akan masuk rumah. Asih terlihat baru kembali.


“S—ih ...?” refleks Aqwa buru-buru menepikan motornya.


Asih menatap takut Aqwa. “M-maaf, Mas!”


Tanpa membalas Asih, Aqwa langsung menghampirinya. Antara percaya dan sulit percaya karena selama empat bulan terakhir, ia memang tidak bisa membedakan antara kenyataan maupun halusinasi, akibat kerinduannya yang begitu besar kepada Asih.


Asih dalam keadaan kuyup dari ujung kepala sampai kaki. Kedua kakinya yang tak memakai alas juga penuh lumpur hitam dan itu sangat bau.


“Tenang, Mas. Aku lewat taman sebelah kok,” ucap Asih buru-buru membuka selop gembok gerbang di hadapannya.


“Aku saja enggak tahu, Mas. Tiba-tiba aku dibangunin, katanya mereka menemukan aku nyaris tenggelam di sungai Merah,” jelas Asih tanpa berani menatap Aqwa.


“Kamu enggak ingat aku?” singkat Aqwa. Efek ia tak lagi memiliki indra keenam, ia tak lagi bisa mendengar suara hati seseorang termasuk itu, suara hati Asih.


Kali ini, Asih tak langsung menjawab. Ia memelotot heran menatap Aqwa. “Mas Aqwa, kan? Memangnya harus ingat apa lagi? Apa, ... ada peraturan yang aku lupakan? Maaf banget loh, Mas. Aku saja merasa linglung enggak jelas begini,” ucap Asih langsung diam lantaran Aqwa malah memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat. Ia sampai tidak bisa bernapas saking eratnya pelukan yang Aqwa lakukan.


“Ibu ... tolong, Bu. Mas Aqwa jailnya kebangetan, Buuuuu!” teriak Asih. Seperti biasa, ia memilih meminta bantuan kepada ibu Ryuna di setiap Aqwa jail kepadanya layaknya sekarang.


“Kamu beneran lupa aku? Pengin aku masukin botol, terus aku lempar ke pantai selatan, biar kamu ingat aku lagi?” omel Aqwa sambil mencubit gemas kedua pipi Asih yang jadi sangat gembul.


Kepulangan Asih kali ini juga disertai tubuh yang jauh lebih segar dari sebelumnya. Malahan, Asih belum pernah memiliki tubuh seisi itu.


Dari dalam, ibu Ryuna yang mendengar suara Asih sudah langsung tunggang langgang lari hanya untuk memastikan. Kepulangan Asih sungguh langsung mengejutkan Aqwa sekeluarga, meski kenyataan Asih yang tak ingat kejadian satu tahun terakhir, juga membuat mereka bersedih.


“Kok sudah beda tahun? Terakhir yang aku ingat, mas Aqwa dan ibu Ryuna baru datang dari Jakarta mau menetap lama di kampung. Ini sudah satu tahun dari ingatan terakhir yang aku ingat. Sebenarnya aku kenapa? Apa jangan-jangan tenggelam bikin aku amnesia?” pikir Asih sambil menatap saksama kalender meja yang ia ambil dari meja di kamarnya.


Asih refleks merenung, berusaha mengingat kejadian satu tahun terakhir yang benar-benar ia lupakan. Saking seriusnya mengingat meski hasilnya tak ada satu pun ingatan yang ia temukan, Asih tidak menyadari jika seseorang dan itu Aqwa, telah membuka pintu kamarnya dari luar.


Aqwa langsung bengong hanya karena mendapati keadaan Asih sekarang. Kedua matanya dengan sendirinya menatap penampilan Asih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Asih hanya melilit tubuh bagian atas hingga lutut, menggunakan handuk. Sementara kepalanya masih terbungkus handuk berbeda. Jelas wanita itu baru beres mandi.


“Sih ...?” panggil Aqwa lirih.


Asih yang lupa dengan keadaannya, refleks menoleh ke sumber suara. Barulah setelah tatapannya bertemu dengan kedua mata Aqwa yang menatapnya sendu, Asih yang tak sengaja menatap tubuhnya, refleks menjerit.


“Mas Aqwa, kebiasaan. Sembarangan masuk ke kamar orang!” Asih buru-buru masuk ke kamar mandi.


“Pergi, Mas! Aku belum pakai baju!” seru Asih lagi.


“Astagfirullah ... istri sendiri, jadi begini. Gara-gara Authornya ini. Masa suami harus mengejar cinta istri amnesia!” batin Aqwa benar-benar lemas. Makin lemas lagi karena Asih malah sibuk mengomel, mengusirnya untuk segera pergi.