Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
23 : Sisi Baik Dari Tersesatnya Asih


“T-tolong, ada yang tenggelam!” teriak Sukma yang akhirnya mengeluarkan kepalanya dari dalam sungai.


Sukma sudah kesulitan bernapas, tapi wanita itu kembali berteriak meminta tolong tak jauh dari keberadaan jembatan.


Opa Helios maupun Aqwa melihat Sukma. Terlebih, jarak mereka hanya sekitar tiga meter. Masalahnya, keduanya ragu bahwa Sukma memang manusia. Mengingat keadaan di sana memang angker. Namun ketika Sukma kembali tenggelam dan akhirnya muncul sambil menarik seseorang berwajah Asih, Aqwa sudah langsung akan loncat ke sungai.


“Diam!” Opa Helios sampai membentak Aqwa.


“Itu Asih, Opa. Itu beneran Asih meski dia enggak pakai kerudung!” yakin Aqwa masih ditahan oleh sang opa.


“Iya, tapi kamu rawan kalau di sini. Ada bahaya yang beneran mengancam andai kamu nekat menjadi bagian dari sungai ini. Biar Opa saja yang urus. Kamu tunggu di sini.” Setelah berucap tegas demikian, opa Helios berangsur turun ke sungai Merah dengan sangat hati-hati.


Aqwa tetap menunggu di pinggir sungai layaknya arahan sang opa. Namun, tiba-tiba saja Aqwa mendengar suara wanita yang begitu lembut dan tak hentinya memanggilnya.


“Aqwa ....”


“Suaranya mirip suara mamah,” pikir Aqwa bergegas mengulurkan tangan kanannya kepada Sukma lantaran Asih yang sudah tak sadarkan diri, sudah dibopong oleh opa Helios.


“Ini beneran orang? Ganteng banget?” batin Sukma berangsur pingsan di dekapan Aqwa.


Aqwa terpaksa menangkap tubuh Sukma lantaran wanita yang hanya memakai jarit itu jatuh pingsan meringkuk ke tubuhnya.


Sementara itu, bersama jatuhnya kepala pak Sanusi dan langsung menggelundung masuk ke sungai Merah, tubuh Gendis juga perlahan menghilang. Gendis yang masih berlinang air mata, menatap sedih tubuh bagian bawahnya yang perlahan berubah menjadi abu berwarna hitam. Sementara di hadapannya, tubuh pak Sanusi sudah tak disertai kepala.


Beberapa anj*ing yang lari berdatangan langsung menyerbu tubuh pak Sanusi kemudian memakannya. Keluarga pacar Sukma yang masih ada di sana, berakhir ketakutan. Mereka, termasuk mamah dari pacar Sukma yang sempat pingsan, melarikan diri sambil muntah-muntah. Hanya saja, bukannya naik ke perahu getek, mereka malah berbondong-bondong menelusuri tanggul. Keempatnya justru kembali ke desa mati yang sempat memenjarakan Asih. Desa mati tempat pak Sanusi menjalani praktek abors*i bersekutu dengan wewegombel.


Tak berselang lama, bersama tubuh Gendis yang akhirnya benar-benar menghilang, para wewegombel tadi dengan segera menyusul keluarga pacar Sukma. Tawa mengerikan dari para wewegombel terdengar meninggalkan para anj*ing yang sedang berpesta tubuh pak Sanusi. Namun sesekali di tengah kesibukannya, para anj—ing juga akan menggonggong.


Aqwa dan opa Helios menyaksikan itu dari kejauhan. Mereka juga melihat apa yang para anj—ing lakukan. Namun keduanya sepakat untuk tidak ikut campur.


“Jangan pernah main di sungai kalau kita enggak mau hanyut di sungai. Lihatlah apa yang mereka lakukan. Mereka berani bersekutu dengan wewegombel, entah apa yang akan terjadi kepada mereka,” ucap opa Helios sudah berhasil ke daratan.


Aqwa yang mengabaikan suara sangat lembut dari seorang wanita kepadanya, buru-buru menaruh tubuh Sukma begitu saja. Aqwa mengambil alih tubuh Asih dari sang opa.


Asih dan perubahannya benar-benar membuat Aqwa sekeluarga berduka. Tubuh Asih sangat kurus dan benar-benar tinggal tulang, tapi perut Asih sudah tergolong besar.


Penanganan kesehatan Asih membuat Aqwa sekeluarga mengetahui kehamilan Asih. Tak beda dengan Asih, janin di rahim wanita itu juga dalam keadaan lemah. Karenanya, untuk beberapa hari ke depan, Asih akan menjalani perawatan secara intensif. Terlebih, kurusnya tubuh Asih juga karena wanita itu kekurangan gizi.


“Itu anakku,” ucap Aqwa dan sudah langsung membuat orang tuanya linglung.


Aqwa yang awalnya duduk di salah satu sofa yang ada di sana dan tatapannya tidak bisa tenang, berangsur berlutut di hadapan orang tuanya. Ia terus menunduk, kemudian kembali mengabarkan kebenaran anak yang sedang dikandung Asih.


“Anak Asih benar-benar anakku. Hari itu, ...,” lanjut Aqwa yang kemudian menceritakan semua kejadian yang ia alami dengan Asih. “Percaya enggak percaya, saat itu Asih menjelma menjadi ratu ikan. Namun, ini kok ... Asih bahkan sampai tenggelam.”


Pak Kim dan ibu Ryuna makin linglung. Keduanya yang menjadi tidak bisa berkomentar, refleks menggunakan kedua tangan untuk memijat-mijat kepala mereka. Sebab cerita dari Aqwa mendadak membuat keduanya merasa pusing. Pak Kim dan ibu Ryuna terlalu syok.


“Guna-guna dan teror yang kalian dapatkan, bertujuan agar kalian tidak pernah akur. Karena saat kalian terpisah, ikatan batin kalian akan semakin berkurang. Mereka menginginkan kalian. Mereka menginginkan kekuatan sekaligus kekuasaan kalian. Dan mereka sudah mendapatkan apa yang harus Asih miliki setelah mereka berhasil menyesatkan Asih ke dunia lain,” ucap opa Helios yang duduk di hadapan sofa Aqwa sekeluarga terjaga.


Ketiga orang di hadapan opa Helios kompak menatapnya, termasuk Aqwa yang melakukannya sambil tetap berlutut.


“Adanya Asih di sana murni karena dia sengaja disesatkan. Bukan karena Asih berusaha ikut praktek abor*i persekutuan dengan wewegombel. Karena tampaknya, Asih sudah sampai mengonsumsi sajian di sana. Entah itu makanan, atau sekadar minuman, hingga Asih tersesat sangat lama,” lanjut opa Helios.


“Dengan kata lain, semuanya sudah direncanakan secara matang, yah, Pah?” komentar pak Kim. “Dengan kata lain juga, pelakunya sudah tahu mengenai kemungkinan Asih yang akan hamil. Pelakunya tidak menghendaki kehamilan Asih, hingga mereka sengaja menyesatkan Asih ke temat yang mengadakan praktek abor*si. Dengan kata lain juga, di sana ada sosok penting dan sampai Asih kenal, hingga Asih bisa mengonsumsi sajian di sana. Logikanya, dari kecil Asih kita didik untuk tidak melakukan hal-hal semacam itu.”


Opa Helios mengangguk-angguk setuju di tengah keseriusannya bersedekap. “Sepertinya memang begitu. Sisi baiknya, kejadian ini membuat Asih menjadi manusia sepenuhnya tanpa harus membuat Asih menjalani syarat secara khusus. Asih sudah tak lagi menjadi bagian dari bangsa ikan karena dia sudah terlalu lama meninggalkan sungainya. Karena harusnya, setelah Asih menemukan jati dirinya sebagai ratu ikan, harusnya dia tidak meninggalkan sungai atau itu kerajaannya dalam waktu lama.”


Apa yang opa Helios katakan barusan sudah langsung menjadi angin segar tersendiri untuk Aqwa sekeluarga. Meski jika membayangkan apa yang Asih alami selama disesatkan, mereka benar-benar tidak tega.


“Berarti pelakunya justru dari bangsa ikan Asih?” tebak ibu Ryuna.


Detik itu juga yang ada di ingatan Aqwa ialah sang panglima kerajaan ikan yang sempat berdebat sengit dengan Asih ketika Asih berusaha menyelamatkannya.


“Aqwa ....”


Belum sempat Aqwa mengabarkannya kepada keluarganya di sana, mengenai sosok yang ia curigai, suara lembut seorang wanita yang terus memanggilnya, kembali mengusiknya. Aqwa pun mengabarkannya kepada kakek dan orang tuanya. Terlebih di setiap suara itu kembali terdengar, Aqwa jadi agak linglung.