
“Kamu ada barang, apalagi pakaian yang ditinggal di kerajaan ikan Mas? Jika iya, ini juga enggak kalah bahaya dari ketika kamu makan atau minum hidangan di tempat asing yang kamu kunjungi, terlebih jika tempat itu memang terasa lain, dan kamu sadar, itu di luar nalar, Mas!” ucap opa Helios memastikan.
Opa Helios menatap saksama cucunya yang sudah langsung memberinya ekspresi tidak yakin. Ekspresi tidak yakin yang perlahan menjadi kekhawatiran mendalam. Tanggapan yang sudah langsung membuat opa Helios khawatir bahkan takut.
Tak kalah resah, pak Kim selaku papa dari Aqwa, berdeham. “Aqwa berbeda dari manusia normal pada kebanyakan, Pah. Enggak mungkn Aqwa kena guna-guna macam itu. Mereka bahkan enggak sekuat Aqwa!”
Opa Helios langsung mengalihkan tatapan seriusnya kepada sang putra seiring ia yang menggeleng berat. “Tetap, Aqwa bisa terkena pengaruh begitu. Apalagi kalau pakaian, rambut, dan juga kukunya, memang sengaja diambil buat tujuan begitu. Termasuk, kekuatan Aqwa juga enggak akan bisa menolong dirinya sendiri. Beneran harus dari pihak lain dan bisa jadi orang itu justru kita. Terkhusus pasangan dan orang tua, atau malah anak.”
“Jadi, setelah tahu begini, yang haru kita lakukan adalah mematahkan segala guna-guna dan tampaknya masih berkaitan dengan tersesatnya Asih,” lanjut pak Helios yang sudah langsung merenung serius.
Sebagai seorang ibu yang telah melahirkan Aqwa dan prosesnya sangat tidak mudah. Karena saat hamil Aqwa, ibu Ryuna jadi bisa melihat makhluk tak kasat mata sekaligus masa depan di luar nalar. Yang mana sebagian besar dari makhluk tak kasat mata itu juga tak segan mengganggunya, hati ibu Ryuna benar-benar hancur mendengar penjelasan sang papah mertua.
Ibu Ryuna refleks mendekap Aqwa, meski kenyataan tersebut membuatnya harus berlutut demi menyeimbangi Aqwa yang tetap berlutut. Aqwa terlihat sangat kebingungan, ibu Ryuna yakin, keadaan kini membuat putranya merasa sangat terbebani.
“Apakah kita harus ke kerajaan ikan? Semuanya masih tetap bisa diluruskan, kan, Pah?” ucap ibu Ryuna berat.
“Sekarang juga, kita lakukan salat talak bala. Besok paginya, Papah akan melakukan talak bala sesuai kepercayaan adat setempat. Kita korbankan seekor kambing jantan Jawa sebagai pengganti Awa dalam guna-guna. Sekarang juga, Papah mau pesan kambing ke Pakde Sepri. Selanjutnya, bakalan ada doa bersama juga buat kita sekeluarga termasuk Asih dan janinnya,” sergah pak Helios.
Semuanya dilakukan sesuai rencana. Salat talak bala, mereka lakukan di ruang rawat Asih. Sepanjang mereka melakukannya, Asih tetap tenang, tanpa tanda-tanda wanita itu terusik oleh doa-doa mereka. Namun, Aqwa yang terlalu takut, sengaja membangunkan Asih. Hal yang benar-benar membutuhkan proses.
“Alhamdullilah ...,” lirih semua yang ada di sana.
Aqwa segera menyuapi Asih dengan air minum yang sudah mereka doakan.
Bagi Aqwa sekeluarga, yang terpenting sekarang ialah keselamatan Asih dan Aqwa berikut mereka sekeluarga, agar terhindar dari guna-guna maupun teror tak kasatmata. Penyembuhan dan segalanya, mereka utamakan untuk bisa secepatnya keluar dari titik sangat tidak nyaman layaknya sekarang.
Asih masih sangat tidak berdaya karena sekadar menelan setiap suap air minum dari Aqwa saja, Asih kesusahan. Termasuk untuk bicara, Asih belum bisa untuk melakukannya. Namun, adanya air mata yang silih berganti berjatuhan dari kedua sudut mata Asih, seolah sudah mewakili perasaan sekaligus isi hatinya.
“Sudah, enggak apa-apa, istirahat lagi saja. Yang penting ada beberapa air doa yang masuk. Istirahat, Sih. Jangan sampai setres.” Sebagai ibu Aqwa yang selama ini juga sangat dekat dengan Asih, ibu Ryuna paling andil dalam kebersamaan. Terlebih, opa Helios dan Kim sudah langsung sibuk merencanakan talak balak adat setempat yang akan mereka selenggarakan besok paginya juga.
“Aku ngaji ya,” ucap Aqwa setelah menyisihkan gelas berisi air minum yang sudah mereka doakan.
“Masih ada suara-suara itu, Mas?” lirih ibu Ryuna memastikan. Ia bahkan sengaja duduk di sebelah Aqwa. Takut putranya terpengaruh guna-guna karena tampaknya, yang mengirim memang sangat kuat. Buktinya, walau sudah menjalani salat talak bala, Aqwa mengaku masih mendengar suara wanita yang sangat lembut.
“Kalau Mamah tahu pelakunya, kalau pelakunya ada di depan Mamah, sudah Mamah haj*ar dia!” kesal ibu Ryuna benar-benar geregetan. Duduknya sampai tidak bisa tenang, selain ia yang jadi bersedekap. Meski ketika ia melihat Asih yang ternyata belum kembali memejamkan mata, ia sengaja untuk membujuknya. Ibu Ryuna mengatakan banyak hal yang kiranya bisa membuat Asih tenang.
Sementara di rumah keluarga Aqwa sudah sibuk dengan persiapan selamatan yaitu masak-masak besar. Tubuh kambingnya dimasak dan akan dibagikan dalam acara selamatan atau yang warga setempat sebut kepungan, bersama berkat lain.
“Mah, ... mulai berkurang. Telingaku sudah enggak seberisik sebelumnya,” ucap Aqwa berbisik-bisik mengabarkannya kepada sang mamah.
“Beneran kan, Mas? Alhamdullilah ...!” ucap ibu Ryuna mulai bisa bernapas lega karena meski belum sampai ada selamatan, hasil talak bala sudah ada.
Karena keadaan Asih masih lemah, Asih belum bisa mengonsumsi makanan secara langsung selain yang cair. Semua keperluan asupan nutrisi untuk Asih, disun*ikan melalui infus.
“Sudah kuat ngomong? Apa memang kamu marah ke aku? Atau, kamu malah malu?” ucap Aqwa kepada Asih.
“Jangan ditodong gitu,” lirih ibu Ryuna sambil mengelus punggung Aqwa.
“Kalau enggak gini, kapan mulainya, Mah?” balas Aqwa masih berbicara lembut layaknya tadi ia kepada Asih.
“Aku bingung ...,” ucap Asih yang masih berbaring, benar-benar lemah.
“Enggak usah bingung. Semuanya sudah baik-baik saja. Semuanya tinggal pemulihan.” Aqwa yang masih berbicara lembut, meyakinkan. “Harusnya besok, kamu bisa menggerakkan tubuh kamu dengan leluasa.”
“Janinku, ... nyata?” tanya Asih karena biar bagaimanapun, ia belum mengetahui kebenaran kehamilannya. Ia menatap Aqwa dengan kedua matanya yang masih sendu, penuh kepastian.
Aqwa yang masih menatap lurus kedua mata Asih, berangsur mengangguk. “Iya ...,” lirihnya.
Sementara ibu Ryuna yang telanjur jadi sedih, hanya mampu diam. Ibu Ryuna sadar, apa yang Aqwa apalagi Asih alami benar-benar berat. Namun ia juga jadi mesem ketika Aqwa menabur potongan kertas warna-warni yang awalnya ada di nakas sebelah Asih, hanya melalui lirikan.
“Aku enggak bisa lihat ih, Mas ...,” ucap Asih yang kali ini merengek.
“Itu sambutan-sambutan kecil,” yakin Aqwa tak kalah sebal sambil melirik sebal Asih.
Mendapati itu, ibu Ryuna jadi tersipu. “Mulai gelud lagi. Nanti kalau jauh kangen.”
Detik itu juga, Aqwa dan Asih jadi salah tingkah.