
Tengah malam hingga dini hari, Asih sempat batuk-batuk terbilang lama. Di tengah kenyataannya yang masih sangat lemas, Asih berusaha bangun sekaligus duduk. Ia membiarkan Aqwa membantunya, tapi ketika pemuda itu memberinya segelas air minum, yang ada itu menjadi ketakutan tersendiri untuk Asih. Apalagi ketika Asih memberanikan diri menatap wajah Aqwa, Asih menjadi berhalusinasi. Di mata Asih, wajah Aqwa berubah menjadi wajah sang bibi yang perlahan juga menjadi sosok wewegombel yang sangat mengerikan.
“Sih ... ini aku,” yakin Aqwa yang sadar, Asih ketakutan. Terlebih, Asih yang sampai gemetaran juga berangsur minggir menghindarinya.
“Besok kamu rukiyah, ya.” Aqwa meminum air minumnya sendiri meski awalnya, ia sengaja mengambilkannya untuk Asih.
Malahan demi Asih, Aqwa sengaja duduk di kursi meski tak jauh dari sana, ada sofa panjang karena ibu Ryuna tidur di ranjang rawat sebelah.
“Iya, Mas. Aku mau dirukiyah. Kalau bisa, aku juga ingin hapus ingatanku pas di desa mati, atau dimensi lain yang isinya manusia bertampang aneh bahkan wewegombel.” Asih yang awalnya membelakangi Aqwa, berangsur menatapnya. “Mas?”
Aqwa yang masih memegang gelas tak sampai bersuara, tapi tatapannya sudah langsung fokus pada kedua mata Asih yang terbilang masih sendu.
“Mas percaya kalau bibiku jadi wewegombel?” lirih Asih sengaja menjaga suaranya. Karena meski hubungannya dengan ibu Ryuna terbilang dekat, baginya, apa yang tengah ia bahas memang rahasia.
Aqwa berangsur menghela napas pelan. “Bibimu meninggal sekitar empat bulan lalu. Tak lama setelah kamu menghilang, ada tetangga bibimu yang datang. Bahwa setelah beberapa hari tidak pulang, ada mobil ambulans sama polisi yang antar. Kabarnya, bibimu keguguran. Selebihnya ... bentar—” Sempat menjelaskan dengan lancar, benak Aqwa mendadak dihiasi ritual abors*i yang bersekutu dengan wewegombel. Aqwa melihat sang pelaku ialah bibi Sujiah, pak Sanusi, dan juga seorang wanita dan pria. Mula-mula, kebersamaan itu terjadi di dalam sebuah rumah mirip gubuk. Lalu acara berlanjut ke pekarangan dan di situ, ada adegan penyembe*li*han ayam hitam dan darahnya diguyurkan ke perut bibi Sujiah. Adegan yang sangat mirip dengan ritual yang Sukma jalani dan disaksikan oleh Asih.
Hanya saja, untuk ritual bibi Sujiah sampai tuntas. Yang mana para wewegombel dengan sangat bringas menerka*m perut bibi Sujiah. Bibi Sujiah yang mengalami itu benar-benar ketakutan. Malahan, alasan wanita itu meninggal karena memang terlalu syok, sekaligus trauma. Terlebih meski ritual sudah usai, beberapa wewegombel masih saja mengikuti bibi Sujiah.
“M-mas, jangan bikin aku takut. Soalnya jujur, sejak kejadian itu, keberanianku beneran jadi lebih tipis dari tisu,” rengek Asih.
“Bibimu baru akan tenang, kalau dua orang yang antar dia ke tempat abor*si itu mati. Aku sendiri enggak kenal wajah kedua orang itu,” jelas Aqwa yang berangsur kembali duduk di tempat duduknya.
“Jadi, bibiku enggak datang sendiri? Kemarin sih pas terakhir, dia minta aku temani, Mas. Dia ingin, aku juga di sana temenin dia,” lanjut Asih.
“Jangan. Dunia kalian sudah beda. Mulai sekarang, kita apalagi kamu wajib pintar-pintar jaga ucapan termasuk ketika balas omongan atau ajakan orang. Karena biar bagaimanapun, omongan atau itu ucapan ibarat doa. Kasus abor*si yang bersekutu dengan makhluk gaib memang ada bahkan mungkin banyak. Biasanya, orang-orang yang bermasalah lah yang akan jadi sasarannya. Dari yang hamil di luar nikah, atau hamil karena suami orang. Atau malah ... jangan dilanjutkan, nanti kamu malah makin takut.”
“Urusan bibimu, aku yakin dia pasti bakalan datang ke kamu buat minta tolong. Jadi kamu harus siap. Syukur-syukur, bibimu bertemu mereka yang sudah membuat bibimu ikut abors*i.” Setelah berbicara panjang lebar, Aqwa mendadak diam. Namun, kedua matanya refleks melirik tajam sekitar khususnya kedua jendela di hadapannya.
Ketika akhirnya ada suara hantaman yang terdengar sangat keras, Asih refleks loncat kemudian memeluk tubuh Aqwa sangat erat. Kebetulan, Aqwa juga sudah langsung berdiri.
“Biarkan aku menutup kedua telingamu,” ucap Aqwa yang memang sudah sangat marah.
Karena terlalu takut, Asih yang juga sudah mulai panas dingin sekaligus berkeringat, nurut-nurut saja.
Di hadapan Aqwa dan sampai menabrak jendela kaca hingga pecah, Dewi menatap takut pemuda itu. Dewi memang berwujud layaknya awal hantu itu menemui Aqwa kemudian meminta bantuan. Namun di mata Aqwa, separuh tubuh Dewi dan itu tubuh bagian bawah, terlihat sebagai ular.
“Berani kamu mendekat apalagi kembali meneror Asih, aku pastikan kamu hancur!” tegas Aqwa yang yakin, Dewi sengaja menjebaknya maupun Asih. “Kamu bersekutu dengan sil*uman ular atau bahkan lebih? Kenapa kamu melakukan ini? Bukankah harusnya, kamu beristirahat dengan tenang, setelah jasad kamu ditemukan?!”
Apa yang Aqwa katakan sudah langsung membuat Dewi ketakutan. “I—ni tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku terpaksa melakukannya. Dan aku tahu, kamu tidak diizinkan menggunakan kekuatanmu untuk sembarang melukai.”
“Aku memang tidak diizinkan menggunakan kekuatanku untuk sembarang melukai. Namun itu tidak berlaku untukmu atau malah sekutumu. Kamu sudah menjadi bagian dari siluma*n bahkan ibl*is. Kamu dan hantu-hantu sepertimu memang sudah seharusnya dibinas*akan!” tegas Aqwa lagi.
Mendengar itu, Dewi sudah langsung ketakutan. Dewi hendak kabur, tapi sebelah tangan Aqwa yang memanjang sekaligus memiliki ukuran lebih besar, menin*junya hingga tubuhnya terlempar sangat jauh.
Tubuh Dewi terkapar tepat di depan kedua kak seorang wanita. Wanita berkulit hitam manis itu berdiri di pinggir sungai Merah. Iya, wanita itu Lumut yang nekat naik ke darat hanya untuk menjerat Aqwa.
“Kamu ngapain malah jumpalitan begitu?” kesal Lumut tak segan menen*dang bo*k*ong Dewi.
Dewi yang tubuhnya terasa remuk, tak kuasa menjawab. Dewi malah berakhir terpejam lemah dan perlahan menghilang menjadi abu hitam.
“I-ini, dia kenapa? Memangnya, tadi dia diapakan sama Aqwa? Memangnya Aqwa sesakti itu?” pikir Lumut benar-benar bingung sekaligus takut.
Lebih takut lagi ada yang tiba-tiba loncat dari sungai kemudian menggelinding layaknya bola sepak. Lumut pikir, itu kepala kambing tolak bala dan baginya sangat menjijik*an. Namun ternyata, itu kepala orang. Kepala pria tua yang langsung meringis tertawa menyeramkan kepadanya. Lumut yang tak memiliki mental sekuat Asih, memilih kembali masuk ke sungai ketimbang dirinya dikejar hantu kepala pria tua dan tak lain kepalanya pak Sanusi.
Di jembatan sungai Merah yang awalnya dijaga Gendis, kepala pak Sanusi loncat-loncat mencari mangsa.
“Tolong ... tolong. Tolong jadi temanku!” seru kepala pak Sanusi merintih sambil loncat ke sana kemari di sekitar jembatan tak ubahnya katak bangkong kelewat besar.