
Melesat ke atas sungai, Aqwa sekeluarga masih berdoa dengan sangat khusyu. Rajaraksa yang masih berwujud menjadi Asih, diam-diam tersenyum menyaksikan itu. Segera ia mengangkat tangan kanannya, yang di detik selanjutnya langsung dihiasi busur panah. Meski baru melalui tatapan, yang Rajaraksa incar masih sepenuhnya Aqwa.
Dengan hati-hati dan sebisa mungkin tak menimbulkan suara, bahkan itu suara hati yang bisa didengar Aqwa, Rajaraksa mengangkat tangan kirinya. Dari tangan kirinya, keluar sebuah anak panah. Segera ia pasangkan anak panah tersebut ke busur yang sebelumnya sudah ia keluarkan. Detik berikutnya, anak panah yang awalnya hanya berjumlah satu mendadak ada sepuluh dan setiap ujungnya dihiasi kobaran api. Mirip dengan panah milik Asih, meski jumlahnya tak sebanyak milik Asih.
Jabang bayi dalam perut Asih terus menendang. Seolah sengaja menuntun Asih untuk menjalani arahannya. Bergegas Asih pergi dari ruang pemujaan ses*at sana. Meninggalkan bangsa ikannya yang tampak masih sangat syok akibat perang dadakan yang mereka jalani.
Makin lama tendangan dari janin yang ada di dalam perut Asih makin kuat. Saking kuatnya, tendangan tersebut juga membuat Asih melesat ke atas sungai.
Sempat kewalahan kerena ulah janin dalam perutnya, Asih yang masih melayang di udara refleks sempoyongan dan nyaris kembali jatuh ke sungai. Namun, kenyataan Rajaraksa yang siap melesatkan anak panahnya membuat kedua mata Asih terbelalak.
Asih sengaja tak bersuara bahkan suara dalam hatinya. Ia takut Rajaraksa melepaskan anak panahnya sementara Aqwa dan anggota keluarganya belum siap. Terlebih Asih yakin, kakek buyut dan para leluhur akan kewalahan, dan memang tidak bisa menghadapi kelici*kan Rajaraksa.
Memang hanya Asih yang bisa, selain jabang bayi dalam perut Asih yang lagi-lagi menendang. Tubuh Asih yang masih melayang di udara tak hanya terdorong. Karena tendangan sang janin sampai membuat tubuh Asih melesat dan berakhir di hadapan Rajaraksa.
Jabang bayi dalam perut Asih seolah ingin Asih menghadapi Rajaraksa. Kini, di tengah kenyataannya yang seolah mengalami adegan slow motion, Asih berangsur menoleh, balik badan, bahkan menatap Rajaraksa. Pria itu makin syok, dan perlahan mundur ketakutan. Apalagi tubuh Asih yang awalnya baik-baik saja, sekadar bertubuh ratu ikan tanpa banyak tangan maupun senjata, perlahan bercahaya. Cahaya yang lama-lama justru menjadi kobaran api.
Kobaran api dari anak panah Rajaraksa tidak ada apa-apanya. Api-api dari anak panah tersebut tampak sangat kecil jika dibandingkan dengan api dari tubuh Asih. Justru perlahan, api-api tersebut berakhir padam akibat hempasan angin kencang yang berasal dari tubuh Asih.
Tubuh Asih tak hanya mengobarkan api dan itu sangat panas sekaligus menyilaukan, tapi juga mengeluarkan banyak angin. Menegaskan bahwa kekuatan daru tubuhnya memang tak ada lawan.
Aqwa sekeluarga perlahan terusik atas adu kesaktian dari dua makhluk tak kasatmata di atas sungai sana. Semuanya kompak berkata, “Subhanallah ....”
Rajaraksa yang mengawasi Asih dari ujung kepala hingga ujung ekor, menyaksikan bahwa kekuatan dahsyat Asih, berasal dari perut Asih. Dari perut buncit itu ada yang tak hentinya bergerak. Semua energi sekaligus kekuatan yang Asih pancarkan sungguh berasal dari sana.
“Kamu beneran ikhlas kan, Mas?” tanya kakek buyut.
Ditodong begitu, Aqwa yang masih kacau memikirkan nasib Asih sekaligus hubungan mereka, refleks mendelik. “Ikhlas apa, Yang?” sergahnya sudah langsung menarik tangan kanannya dari sang kakek buyut.
Detik itu juga tatapan kakek buyut teralih dan fokus kepada Asih. Api yang berkobar dari tubuh Asih perlahan redup dan semuanya menyadari itu. Termasuk juga, Asih dan juga sang Raja pecun*dang, Rajaraksa.
“Ini kenapa?” batin Asih heran bahkan bingung. Ia berangsur menoleh ke belakang, membuat pandangannya langsung tertuju kepada kedua mata suaminya.
Dari tatapan Aqwa, Asih paham, sang suami tak kalah bingung darinya. Terlebih ketika pedang yang sempat ia berikan, mendadak melesat dan tertangkap otomati oleh tangan kanannya. Asih makin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi?
“Yang di perut Asih! Aku benar-benar harus mendapatkannya!” batin Rajaraksa segera melesat menyer*ang Asih. Pedang bermata duanya ia arahkan ke perut Asih yang gerakannya tak sekuat sebelumnya, ketika tubuh Asih mengobarkan api.
“Kesaktian dan kekuatan Aqwa akan diwariskan kepada calon anak yang kini masih di perut Asih. Aku benar-benar harus memilikinya!” sergah Rajaraksa bersukacita. Ia begitu bersemangat.
Asih langsung siaga dan tak segan menangkis ser*angan pedang Rajaraksa. Meski tubuhnya tak lagi memancarkan kobaran api, Asih masih terbilang perkas*a untuk melawan raja pecunda*ng di hadapannya.
“Api menjadi satu-satunya senjat*a pamungkas yang bisa memusnahkan Rajaraksa. Karena dari tadi pun, Asih mengha*bisi musuh-musuhnya menggunakan api. Namun khusus untuk kali ini, Asih butuh sokongan kekuatan, Mas!” ucap opa Helios yang berdiri tepat di sebelah sang cucu.
Aqwa yang awalnya menatap kesal sang kakek buyut dan pemuda itu curigai akan mengakhiri nasib Asih, atau malah hubungannya dengan Asih, berangsur menoleh. Ia menatap sang opa dengan banyak harapan. Opa Helios balas membalasnya dengan tatapan penuh ketenangan, selain pria tua itu yang berangsur mengangguk.
“Saya mohon, Yut, Opa ... tolong lakukan yang terbaik!” sergah ibu Ryuna yang kembali berlinang air mata. Kemudian, tatapannya yang basah terempas pada pertarunga*n sengit di atas sungai sana. Pertarungan yang juga membuat para anj*ing kembali sibuk menggonggong.