Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
10 : Kiriman Gun-a—Guna-a


“Kemarin kalian dari mana?” tanya ibu Ryuna kepada sang putra ketika Aqwa akhirnya bangun. Kini, sang putra tengah menyantap makan siangnya. Makan siang yang ia masakan sendiri lantaran setelah selesai beres-beres sekitar pukul sembilan, ia sengaja meminta Asih untuk istirahat hingga sore nanti.


Detik itu juga Aqwa jadi tidak semangat, selain Aqwa yang tak mungkin tak menceritakannya kepada sang mamah. Ia takut sang mamah pingsan atau malah langsung jatuh sakit karena terlalu setre*s.


“Kangen adik-adik yang di Jakarta saja.” Aqwa terpaksa berbohong kemudian kembali melanjutkan makannya.


“M-mas ...?” panggil ibu Ryuna lembut dan sengaja membimbing sang putra untuk cerita.


Hanya saja, Aqwa sudah memutuskan untuk tidak menceritakannya kepada sang mamah. Kim hanya akan menceritakannya kepada papah dan kakeknya. “Karena menemani aku, adik-adik yang di Jakarta jadi tanpa mamah.”


“Sebenarnya Mamah juga bingung, kenapa Mamah harus jagain kamu di sini,” ucap Ryuna.


“Berarti sebenarnya, Mamah enggak mau jagain aku di sini?” sergah Aqwa yang menatap kedua mata mamahnya penuh keseriusan.


“Ya enggak gitu. Maksudnya, seperti memang sengaja biar Mamah ada di sini nemenin kamu. Lagian, memangnya kamu enggak mau tinggal di Jakarta saja, Mas? Mas mau tetap di sini, belajar sambil jadi santri, begitu?” balas ibu Ryuna.


Ketika Aqwa sudah kembali bisa mengobrol lancar dengan ibu Ryuna, di kamarnya, Asih masih tidur. Hanya saja, wanita yang sampai menggerai rambutnya, dan tak lagi memakai kerudung itu, justru meringkuk dikelilingi ular. Bahkan baru saja, seekor ular sanca berukuran besar, melintasi pinggang Asih. Termasuk ular berukuran kecil lainnya yang tampak sangat nyaman berkumpul di kepala Asih. Hingga akhirnya ketika wanita itu terbangun karena kegelian, Asih yang terlalu syok, refleks menjerit histeris.


Jeritan Asih tersebut langsung sampai ke telinga ibu Ryuna maupun Aqwa. Keduanya yang masih bersantai di dapur, sudah langsung mengenali jerit histeris itu sebagai suara Asih.


“Itu Asih kenapa ya, Mas? Enggak biasanya dia gitu,” sergah ibu Ryuna pada Aqwa yang sudah lebih dulu berdiri bahkan pergi.


“Enggak tahu, Mah,” sergah Aqwa sudah melangkah pergi meninggalkan kebersamaan.


Di dalam kamar, Asih sudah lari ketakutan meninggalkan tempat tidurnya yang penuh ular. Ia layaknya orang kurang waras apalagi ketika dari kepalanya, ada dua ekor ular kecil yang terjatuh.


“Hahhhh!” Saking takutnya, Asih tak menyadari jika seseorang sudah membuka pintunya dari luar. Orang itu Aqwa, dan Asih yang masih lari, tak sengaja menabrak tubuh Aqwa.


Bukannya merasa lega karena ada yang bisa ia mintai tolong bahkan andalkan, Asih malah makin ketakutan. Barulah setelah ia menengadah dan membuatnya menatap wajah Aqwa, ia buru-buru memutari tubuh pemuda itu. Asih berdiri di belakang Aqwa di tengah kenyataan penampilannya khususnya rambut panjangnya yang masih sangat berantakan.


“M—massss ....” Asih tidak bisa untuk tidak mengeluh bahkan merengek. Karena jantungnya saja seolah ru*sak. Jantungnya tak hentinya berdegup sangat cepat sekaligus keras. Saking takut dan lelahnya karena tenaga maupun emosinya terkuras, Asih berakhir terduduk loyo.


“Kenapa, Sih? Ada apa, hah?” tanya ibu Ryuna dari lorong depan sana mengingat kamar Asih memang ada di belakang dapur.


Ibu Ryuna akhirnya sampai. Ia tertinggal jauh dari Aqwa lantaran tadi, Aqwa melangkah dengan sangat cepat layaknya embusan angin. Ia merengkuh tubuh Asih yang terlihat jelas ketakutan, tapi Aqwa malah masuk ke kamar Asih kemudian sampai mengunci pintu.


“Ada apa, sih, Sih?” sekali lagi, ibu Ryuna bertanya.


Namun, Ryuna yang wajahnya sangat pucat, hanya diam tak kuasa berkata-kata apalagi memberinya jawaban nyata.


“Kenapa mereka ada di sini? Siapa yang sudah mengirim mereka?” pikir Aqwa. Ia merasa ada yang tidak beres. “Ini kiriman gun*a-gu*na. Siapa yang menginginkan nyawa Asih? Atau, Asih korban salah sasaran?” pikirnya lagi. Sementara di luar sana, sang mamah terus bertanya. Itu juga yang membuatnya sengaja mengunci pintu karena ia tak mau, sang mamah sekarat jika harus menyaksikan pasukan ular yang ada di kamar Asih, khususnya di tempat tidur.


“Kembalilah kalian kepada pemilik kalian,” ucap Aqwa yang menggiring semua ular-ular itu pergi dari sana. Semuanya ia arahkan untuk keluar dari jendela yang ia buka.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Aqwa membuka pintu kamar Asih. Ibu Ryuna sudah langsung masuk sekaligus memastikan keadaan kamar Asih. Aqwa turut mengawasi apa yang mamahnya lakukan. Namun seperti yang ia lihat, di sana tidak ada yang aneh, selain semuanya yang serba rapi sekaligus bersih karena Asih memang tipikal rapi dan memang sangat rajin.


“Ada apa, sih?” sergah ibu Ryuna tetap tak menemukan keanehan di sana. Terlebih jendela yang sempat Aqwa buka juga sudah sampai ditutup.


“Ada ular masuk dari jendela, tapi sudah aku usir, Mah,” ucap Aqwa yang kemudian bengong hanya karena ia melihat Asih tanpa kerudung, dengan saksama. Melihat Asih sedang menunduk dengan rambut panjangnya yang tergerai saja, ia seperti melihat ratu ikan.


“Kok bisa semirip ini, ya?” pikir Aqwa.


“Ular masuk dari jendela? Loh kok serem banget. Bukannya di luar bersih dan ini pun bukan musim hujan yang identik dengan membludaknya populasi ular?” segah ibu Ryuna. Namun, ia menyadari sang putra tengah heran sekaligus kebingungan memandangi Asih. Aqwa tampak sangat serius memperhatikan Asih. Seolah memang ada yang serius dan tengah mengganggu Aqwa, dan itu masih berkaitan dengan Asih.


“Saya benar-benar minta maaf,” lirih Asih sambil tetap menunduk dalam. Dalam diamnya Asih berpikir, apa yang baru saja terjadi merupakan risikonya tinggal di daratan. Karena setelah semua yang terjadi, tampaknya lebih baik ia memang tinggal di sungai sekaligus istananya.


Hanya saja, Asih tak sampai membahasnya dalam hati. Takut Aqwa justru mendengarnya hingga rahasia besarnya justru terbongkar.


Asih mencoba berdiri, tapi ia masih sangat kesulitan. Hingga ibu Ryuna yang memperlakukannya layaknya anak, sudah langsung membantunya. Ibu Ryuna merengkuh tubuhnya menggunakan kedua tangan.


“Sih,” panggil Aqwa, lirih tapi serius di tengah tatapannya yang terus fokus menatap Asih.


Detik itu juga Asih menatap Aqwa hingga tatapan mereka bertemu. Hanya saja, apa yang keduanya lakukan justru langsung membuat dunia mereka seolah berhenti berputar. Asih yang menatap bingung Aqwa, juga Aqwa yang melihat wujud Asih sebagai ratu ikan, hanya karena Asih tak sampai memakai kerudung layaknya sekarang.