Teror Tak Kasatmata

Teror Tak Kasatmata
48 : Kenapa Harus Asih?


“Wewegom ... bel?” ucap opa Helios yang jadi tidak melanjutkan sarapannya.


“Teror masih berlanjut?” lirih ibu Ryuna yang kemudian menatap Asih maupun Aqwa silih berganti. Keduanya yang kebetulan duduk di sebelahnya, mengangguk-angguk.


Menjadi bagian dari kebersamaan Aqwa sekeluarga dalam statusnya di sana yang sudah berbeda, memang belum membuat Asih merasa baik-baik saja. Asih masih gugup dan beberapa kali sampai menahan napas.


“Enggak usah setegang itu. Napas juga enggak usah ditahan-tahan. Nanti yang ada malah malu kalau kamu terkentut-kentut. Nahan napas kan identik dengan kentut berkepanjangan!” lirih Aqwa dan hanya membuat sang istri makin jengkel.


“Yang lihat siapa?” tanya opa Helios yang memang langsung menyikapi dengan serius.


“Masa keluar dari komik, layar laptop begitu, dan dia panggil nama kamu?” oma Chole benar-benar penasaran. Kedua matanya yang tidak tertutup cadar, menatap kedua mata Asih maupun Aqwa, silih berganti.


“Asih ...,” ucap Aqwa sambil menatap istrinya karena kejadiannya memang begitu, ia tidak melihat secara langsung. “Aku memang enggak melihat secara langsung, tapi hawanya sudah berbeda dan sampai nyetrum ke lampu listrik di kamar kami maupun di dapur ketika laptopnya aku taruh dapur.” Aqwa menjelaskan secara detail.


“Namun sebelumnya enggak pernah kejadian gini, kan?” sergah pak Kim. “Coba kalau nanti sampai kejadian lagi, kalian jangan takut dulu. Ditanya apa maunya.”


Mendengar itu, ibu Ryuna refleks mendelik menatap suaminya yang juga sampai ia dorong bahunya. “Hantu, bukan badut. Dikiranya mereka enggak punya rasa takut. Mereka beneran takut karena mamah sendiri juga takut. Atau kalau enggak gini deh, para hantu. Kalau mau muncul termasuk itu minta tolong, kalian datangnya ke papah Kim saja.”


“Papahnya Kim, maksudnya? Oh iya bener. Mestinya kalian para hantu memang datangnya ke opa Helios,” sergah pak Kim yang sebenarnya juga takut hantu.


Menyaksikan ulah papahnya, Aqwa tidak bisa untuk tidak tertawa. Lain halnya dengan opa Helios dan ibu Ryuna yang jadi menggeleng tak habis pikir.


“Beneran baru ingat, beneran baru sadar kalau praktik abor*si yang bersekut*u dengan wewegom*bel belum berakhir,” ucap opa Helios yang sampai saat ini jadi menerka-nerka. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Asih masih dicari oleh wewegombel?


“Kenapa harus Asih?” lirih oma Chole yang juga membuat yang lain ikut bertanya-tanya.


Kenapa harus Asih?


Hingga Asih takut sendiri, justru dirinya yang halusinasi. “Namun, ... aku juga takut salah sih. Soalnya, kenapa harus aku, bukan Mas Aqwa saja?” ucap Asih.


“Mata batin Aqwa sudah ditutup!” yakin opa Helios sambil menatap saksama kedua mata Asih.


Mendengar itu, Asih langsung bengong. Saking terkejutnya, ia jadi tidak bisa berkata-kata.


“Apa jangan-jangan, sekarang kamu punya mata batin?” lembut Aqwa sambil kembali mengunyah bubur ayam di mangkuknya.


Ditodong begitu, Asih langsung merengut. “Bercanda ...?”


“Gemes, Mah. Gemes!” kilah Aqwa yang kemudian mengusap-usap punggung Asih sebagai wujud rasa sayang sekaligus gemesnya.


Setelah renungan di acara sarapan mereka, mereka belum bisa menarik kesimpulan. Namun, opa Helios meminta agar andai kejadian lagi, baik Aqwa maupun Asih yang dicari, diminta untuk tidak lari. Seperti saran pak Kim, kalau bisa baik Aqwa maupun Asih, menanyai maksud sang wewegombel datang.


“Dikiranya kita kelinci percob*aan mau disumbangin ke wewegombel, Sih!” ucap Aqwa agak berseru lantaran kini, ia tengah membonceng Asih motoran ke desa.


Suasana pedesaan yang asri dengan matahari pagi yang baru mulai merangkak naik menyinari kehidupan. Jalan yang masih berupa tanah dan kanan kiri hamparan sawah baru akan ditanami. Lalu lalang kendaraan dan masih jarang kendaraan roda empat. Bebek dan itik maupun angsa yang digiring minggir dari sawah karena merusa*k bakal tumbuhan padi siap tanam.


“Tapi aku juga takut, kalau aku yang salah, Mas. Ya ... aku sadar diri kalau aku penakut, meski kemarin malam rasanya memang sangat nyata,” ucap Asih yang memang jadi kepikiran.


“Tapi di sekitar laptop juga ada bekasnya, Sih,” yakin Aqwa.


Beberapa dari warga yang mereka lewati, menyapa mereka dengan senyum ramah. Alasan yang juga membuat Aqwa maupun Asih menyikapi dengan ramah. Aqwa bahkan tak segan menghentikan motornya untuk melihat ikan hasil tangkapan beberapa bapak-bapak yang jumlahnya sangat banyak.


“Cuma tangkap di sawah, ikannya bisa sebanyak ini yah, Sih? Beli yah, kayaknya enak digoreng apa bakar!” sergah Aqwa bersemangat.


“Biasanya kalau kayak gini, tandanya panen akan melimpah, Mas!” balas Asih yang tak kalah antusias. Gara-gara ikan di beberapa ember sebelah mereka juga, ia jadi menepi dari ketakutannya pada penampakan wewegombel.


Asih baru akan bersuara, memilih ikan yang ia mau sesuai tuntunan Aqwa yang memang jadi beli tiga kilo. Namun, mulutnya yang terbuka mendadak tak menimbulkan suara hanya karena Asih merasa, ada yang membonceng di belakangnya. Tak ubahnya ia kepada Aqwa yaitu tangan kiri agak mendekap pinggang, sementara tangan kanan berpegangan ke pundak.


“Mungkin aku salah rasa lagi. Ini pasti masih halusinasi,” pikir Asih.


Padahal, Aqwa juga merasa yang dibonceng jadi berkali lipat dari sebelumnya. Aqwa yang awalnya santai-santai saja, mendadak sempoyongan nyaris kehilangan keseimbangan. Ia refleks menoleh ke belakang, tapi di sana, ia hanya mendapati Asih yang menunduk. Sedangkan ketika ia menoleh ke belakang Asih dan memang masih ada sisa tempat untuk membonceng, di sana jelas tidak ada apa-apa.


Padahal, alasan Asih terus menunduk karena di pinggang kirinya ada sepasang tangan pucat kehitaman yang mendekap.


“Ini asli apa halusinasi, sih?” batin Asih yang makin terkejut karena di bawahnya sampai ada wajah Aqwa. Suaminya itu melongok wajahnya.


“Berat banget!” keluh Aqwa.


Asih tetap murung dengan bibir terkunci rapat. Asih terlalu takut untuk bercerita. Takut hanya berhalusinasi dan malah membuat geger. Meski kali ini, rasanya memang sangat nyata. Buktinya, Aqwa sampai keberatan.


“Tolong aku ... tolong antar aku pulang. Masa iya, kamu lupa aku, Sih?” Itulah yang terdengar dari belakang Asih. Suara wanita terdengar berat nan datar dan tak disertai emosi.


“Hei ...?” sapa Aqwa. Dirasanya, Asih seperti ketika awal dirinya diganggu arwah penasaran. Karena dulu, meski ia sudah terbiasa berurusan dengan arwah penasaran sejak ia masih kecil, akan ada saat di mana dirinya juga ketakutan. Sekadar berucap saja tidak bisa, terlebih jika arwah yang mendatangi tipikal ngeyel sekaligus menakutkan.