
“Masih enggak percaya?” tanya Aqwa dengan nada sewot.
Asih yang duduk di sebelah Aqwa, berangsur menatap Aqwa. Tanpa jawaban, saking bingung dan memang sulit percaya. “Aku pembantu loh di sini. Masa, bosku jadi bojoku?” batin Asih ketar-ketir. Sementara maksud dari kata bojo itu sama saja pasangan yang sudah menikahinya.
“Kenapa kamu malah menatapku segitunya?!” tanya Aqwa kali ini dengan nada putus asa.
“Herman ... eh, heran maksudnya Mas. Bisa-bisanya, kok aku yang amnesia melupakan kejadian satu tahun ke belakang, malah sudah jadi istri Mas. Aku kan pembantumu, Mas. Setiap saat kalau ketemu juga pasti dijaili sama Mas yang kalau ngomong sama aku, mendadak seolah di tenggorokan Mas itu ada pengeras suaranya. Telingaku sampai retak setiap Mas ngajak ngobrol.”
“Nah, orang-orang pasti akan langsung mikir, alasan bos menikah sama pembantunya karena, pembantunya sudah main guna-guna. Nah ini, Mas apain aku kok aku sampai mau nikah sama Mas? Andai Nicolas Saputra ngajak aku nikah saja, bakalan aku tolak masalahnya!” Asih mengakhiri pertanyaannya dengan menatap Aqwa penuh keseriusan. Wajah Aqwa yang berada persis di atas wajahnya, jarak wajah mereka tak ada satu jengkal, langsung tampak merenung.
“Memangnya kamu enggak tahu kalau aku sayang banget ke kamu. Aku tuh cinta banget ke kamu loh Sih, masa kamu enggak tahu juga?!” balas Aqwa benar-benar geregetan. Layaknya orang kebakaran jenggot, ia akan kembali mencubit gemas kedua pipi Asih yang malah tertawa puas sambil menatapnya penuh kemenangan.
Tak beda dengan Asih, orang tua maupun kakek nenek Aqwa yang ada di sana dalam formasi lengkap dan memang duduk di hadapan mereka juga tertawa puas. Terlebih ketika Aqwa yang tampaknya sangat geregetan kepada Asih, menoy*or kepala Asih sekuat tenaga. Asih yang sempoyongan tak segan membalas Aqwa yang juga jadi sempoyongan nyaris meringkuk. Namun setelah berhasil kembali duduk dengan benar, Aqwa memeluk Asih di tengah kenyataan pemuda itu yang tampak lebih sabar.
Suasana di sana jadi heboh oleh tawa. Padahal harusnya, kenyataan Asih yang amnesia menjadi duka tersendiri untuk mereka. Namun, interaksi lucu antara Aqwa dan Asih benar-benar menghadirkan pelangi yang membuat kebersamaan mereka jadi makin berwarna.
“Tapi aku enggak mau nikah sama Mas. Setiap saat harus berurusan dengan demit dan hantu, aku enggak mau. Jadi pembantu Mas saja, aku sering diikutin, dibisik-bisikin, tuh para demit tahu bahkan hafal namaku. Asih ... Asih ... gitu terus Mas persis di sebelah telinga dua-duanya!” yakin Asih yang juga terus menolak pelukan Aqwa, meski Aqwa juga tetap tidak mau mengakhiri pelukannya.
Orang tua termasuk kakek nenek Aqwa malah sampai lemas karena tidak bisa mengakhiri tawa. Tawa yang terus saja pecah gara-gara interaksi Asih dan Aqwa.
Selain statusnya yang sudah berubah menjadi istri bos, Asih juga mendapati ada seorang ibu-ibu yang bekerja menggantikannya. Asih bertanya kepada ibu-ibu tersebut mengenai sepenggal masa lalu Asih yang Asih lupakan selama satu tahun ke belakang, tapi Aqwa yang datang mengajaknya untuk istirahat.
“Hah? Istirahat? Maksudnya tidur? Ini sudah malam, dan dengan kata lain, kami akan bahkan harus tidur bersama?” pikir Asih. Layaknya orang tersesat karena kehilangan sebagian ingatannya, Asih terpaksa menghampiri Aqwa. Apalagi meski ia menyuruh pemuda itu untuk segera pergi sendiri dan ia akan menyusul nanti, Aqwa tetap menunggu.
“Banyak hal yang ingin aku ceritakan ke kamu. Kamu bahkan bisa bertanya apa pun kepadaku. Malahan selama satu tahun kamu amnesia, aku tetap mengerjakan tugas kuliah kamu. Nilai kamu selalu A atau malah A+. Harusnya kamu berterima kasih kepadaku!” sinis Aqwa yang memang sulit berucap manis jika itu pada Asih. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia bucin akut kepada wanita muda yang sudah menjadi istrinya itu.
Masih terpaksa, Asih yang sengaja menjaga jarak, memilih melangkah di belakang Aqwa. Suasana rumah sudah sepi karena kini memang sudah malam. Meski yang Asih tahu, tadi papah dan opanya Aqwa pamit untuk acara ngaji di masjid sebelah pesantren.
“Aku bikin komik loh. Romance horor gitu,” ucap Aqwa berusaha manis kepada Asih.
Aqwa yang memang selalu geregetan kepada Asih, nekat memanggul istrinya itu, kemudian membawanya menaiki anak tangga.
“Diem, kamu jadi seberat ini!” omel Aqwa tak segan menab*ok pant*at Asih.
Karena itu juga Asih terdiam. Pikiran Asih pun jadi dihiasi banyak kemungkinan. Ada kebahagiaan meski hanya sedikit karena ketakutan jauh lebih banyak.
“Kok bisa kami menikah? Memangnya kenapa? Andai Mas Aqwa telanjur bucin, kami masih sangat muda sementara sejauh ini, keluarga mas Aqwa itu keluarga bisnis. Gitu-gitu, meski kalau ke aku tak ubahnya ‘tong kosong berbunyi nyaring’, aslinya mas Aqwa cerdas, pinter gitu dan pekerja keras. Mas Aqwa sudah ikut bantu urus bisnis keluarga meski kalau lagi di sini, Mas Aqwa melakukannya secara online. Maksudnya gini loh, ... selain aku yang hanya pembantu, sekelas Mas Aqwa bisa dapat wanita jauh berkali lipat lebih baik dari aku. Anehnya, aku yang hanya begini kok bisa-bisanya amnesia!” batin Asih yang kemudian mengakhirinya lantaran yang ia tahu, Aqwa yang notabene seorang indigo bisa dengan mudah mendengar suara hati seseorang.
“Sih, kok diem? Sudah pingsan atau memang bablas pindah alam?” tanya Aqwa.
Asih yang terusik oleh pernyataan Aqwa barusan, sengaja mendorong keras punggung kepala Aqwa.
“Ah! Enggak sopan kamu sih,” keluh Aqwa yang juga mengingatkan Asih bahwa dirinya suami Asih dan akan tetap begitu meski amnesia yang Asih alami membuat istrinya itu lupa pada kejadian satu tahun ke belakang termasuk itu hubungan mereka.
“Ya salah Mas. Mas tanya kayak tadi, Mas pengin nikah lagi, bilang aku pindah alam?” sebal Asih masih mengomel.
“Dibilang aku sayang dan cinta banget ke kamu, kok masih saja belum percaya? Masa aku harus bilang, belah dadaku. Ya matilah kalau dadaku dibelek!” kesal Aqwa lagi.
Perdebatan di antara mereka baru usai ketika Aqwa yang mendudukkan Asih di kursi kerjanya yang ada di dalam kamar, membuat Asih melihat layar laptop di sana. Ada sebuah sampul komik. Ratu ikan dan para hantu menjadi isinya. Ratu ikan itu sangat cantik, sementara para hantunya sudah langsung membuat Asih merinding karena terlihat sangat nyata. Sementara ketika Asih melihat pengarangnya, sungguh nama Aqwa ada di sana.
***
Aku pengin ngucapin terima kasih ke kalian semua. Karena sudah baca tanpa numpuk bab. Retensi novel ini di 20 bab pertama hanya 72. Dan kalian bisa lihat, hanya turun sedikit karena di bab 40, retensi novel ini masih 68. Tetap stabil baca sampai bab akhir nanti, ya. Bismilah aku akan menghasilkan cerita terbaik juga buat kalian 🙏🙏🙏 sungkem🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙇🏻♀️🙇🏻♀️