SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 09. Ibu Guru Nisa


Ada sebuah hantu yang muncul di hadapan Sangkala. Hantu itu muncul di malam pertama kebangkitan gadis itu. Dengan bentuknya yang teramat ganjil, kepala Sangkala dipenuhi oleh tanda tanya besar.


Apa yang telah terjadi di masa silamnya?


Namanya ibu guru Nisa. Bagian bawah tubuhnya terdiri dari ratusan tangan berlendir yang menjijikkan, serta membawa sebuah lilin ditangannya. Jika dilihat dari jauh, penampakannya sangat mengganggu.


Namun begitu dilihat dari dekat, raut wajahnya terlihat begitu sendu. Seolah ada sesuatu yang teramat kelam di masa silamnya.


Catatan dalam buku milik pak guru mengungkap segalanya. Dulunya, ia adalah wanita yang cantik jelita. Di usianya yang terbilang cukup muda, bu guru Nisa rela mengajar di desa terpencil yang jauh dari kenyamanan.


Ia tengah mengabdi.


Tinggal sendirian di sebuah wilayah asing membuatnya harus beradaptasi dengan kondisi sosial yang ada. Selama hampir setahun, semua berjalan lancar tanpa ada sesuatu yang mengancam nyawanya.


Namun, ada satu murid nakal yang selalu saja membuat hati bu guru Nisa kesal. Badrun namanya, besar dengan didikan bapak preman dan lahir dari ibu mantan biduan dangdut yang kabur tak jelas ke mana.


Badrun selalu mengganggu kegiatan belajar di kelas. Membuat murid lain menangis, dan selalu mendapat nilai rendah di semua mata pelajaran.


Di daerah itu, 'tinggal kelas' merupakan aib keluarga. Sebodoh-bodohnya murid, guru di sekolah itu tetap akan menaikkannya ke jenjang yang lebih tinggi.


Namun, bu guru Nisa mendobrak aturan itu untuk pertama kalinya kepada Badrun si anak nakal. Karena sudah sangat keterlaluan, bu guru Nisa memutuskan untuk tidak menaikkan Badrun ke kelas lanjutan agar ia jera dan bisa berubah.


Dan di sanalah awal bencana itu dimulai.


Badrun melaporkan ulah bu guru Nisa yang telah lancang membuatnya tinggal kelas. Dan sudah barang tentu, bapaknya tak terima.


Kesal dengan ulah bu guru Nisa, bapak Badrun segera menyusun rencana jahat bersama ketiga teman premannya. Rencana yang sangat jahat.


Setelah selesai mengajar di sekolahnya, bu guru Nisa seperti biasanya melewati ladang jagung yang cukup luas di daerah itu untuk kembali ke kediamannya. Namun, tiba-tiba ia disergab dari belakang.


Dan peristiwa yang terjadi berikutnya sangat merobek hati.


Menjelang senja, ladang jagung yang lengang rusak oleh tangis yang tertahan. Bu guru Nisa diperk*sa beramai-ramai oleh ayah Badrun dan tiga teman premannya.


Dalam ketidakberdayaan itu, ia hanya bisa membayangkan ribuan tangan tumbuh dari sekujur tubuhnya, menutupi *********** yang terenggut, melindungi kesuciannya yang ternoda.


Rasa sakit itu terbawa hingga ke dalam aliran darahnya bersama ribuan emosi yang tak kuasa di bendung lagi. Ibu guru Nisa lantas dibunuh usai tenggelam ke dalam palung kesedihan.


Arwahnya bergentayangan membawa milyaran emosi yang belum tertebus. Puluhan tangan penuh lendir di bagian bawah tubuhnya tumbuh sebagai bentuk perlindungan yang tertunda.


Kini ia terdampar di gedung sekolah dengan segenap ganjalan dalam batinnya. Sangkala akan mengantarkannya menebus rasa pilu yang ia berita selama bertahun-tahun.


Dua belas tahun hukuman buat manusia-manusia biadab itu sama sekali bukan harga yang sebanding. Di saat mereka sudah menghirup udara kebebasan, jiwa bu Nisa masih belum bisa tenang di alam seberang.


Arwah bu guru Nisa akan Sangkala bawa menemui preman-preman tua yang nampak tak kenal jera itu.


Senja kala itu, bu guru Nisa, Sangkala antar keluar dari gedung sekolah untuk melenyapkan ganjalan yang menghalangi nasibnya. Mencabut nyawa empat manusia biadab yang telah merenggut hidupnya dengan sadis.


Di kala pagi menjelang, para petani berkerumun dengan wajah-wajah tegang. Nyawa empat preman tua itu meregang, jasad mereka terpajang di tengah ladang. Tertancap di bagian bawah hingga organ-organnya keluar. Menjemput gelapnya pembalasan yang pantas mereka sandang.


Bersamaan dengan hari pembalasan itu, tangan-tangan berlendir di bagian tubuh bu guru Nisa pun menghilang. Senyum bu guru Nisa yang ia perlihatkan begitu manis dan tenang.


Semoga bu guru Nisa beristirahat dengan damai di alam seberang.


...****************...


...Catatan Hari Ke-8...


...Dear, diary......


...Pepatah bijak berkata bahwa dendam takkan pernah menyelesaikan permasalahan. Namun sepertinya di alam ini, hukum itu berlaku sebaliknya. ...


...Ada yang harus ditebus jika satu kedamaian ingin diraih, meski harus ditempuh dengan cara yang keji dan menyakitkan. ...


^^^-Sangkala^^^