SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 22. Wanita Seribu Kepala


"NYAI LIAAANG!!"


Setelah berhasil melubangkan tubuh Nyai Liang dengan sebuah rapalan mantra. Chakra dihempaskan begitu saja membuat laki-laki itu memiliki kesempatan untuk memulihkan tenaganya.


Para penunggu yang berasal dari cincin sakral milik Chakra mulai berhamburan satu persatu demi melindungi sang majikan. Berbagai macam aneka bentuk dan rupa, mereka membendengi Chakra dari sang penghalang takdir.


"Kalian benar, dukun-dukun betina. Aku memang tidak bisa membawa seekor ular penjaga ke dimensi ini, tapi aku bisa membawa sepuluh penunggu istana!" Ujar Chakra diselingi kekehan.


"BI-BOCAH BIADAB!!"


Chakra bangkit dengan kedua tangannya, kakinya terasa tak berdaya menopang raganya. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi. Dalam hitungan persekian detik, ia bertepuk tangan tiga kali dalam setiap rapalan.


Para penunggu itu mulai bereaksi, mereka dengan cepat mendekati sang penghalang takdir. Dalam pertempuran diantara hidup dan mati itu, Chakra mengerahkan segenap tenaganya.


...----------------...


BRAAAK!!


Sangkala terpental hebat menabrak rak-rak berisi kepala wanita. Ia saat ini tengah meregang kesakitan di atas tumpukan rak yang hancur karena dirinya dan kepala wanita yang berserakan.


Nyai Sulastri terkekeh hebat kala melihat Sangkala tersiksa layaknya binatang yang dikuliti hidup-hidup. Perlahan Sangkala berusaha bangkit, sungguh sangat amat menyakitkan baginya.


"Kau tau, Sangkala. Aku sudah membaca jalan takdirmu sejak kau bahkan masih jauh dari rencana, makanya aku penasaran dan mengundangmu kemari. Sayangnya, aku tak berhasil menemukan sisa halaman kitab ramalan Jayabaya."


"Halaman terakhir narasi takdir kita ada di sini, di labirin kepala koleksiku. Tapi dengan melihat kemampuanmu yang selemah ini, aku cukup tahu seperti apa kira-kira akhir ceritanya.."


Sangkala berusaha bangkit. "Kau buat aku hidup menderita di dunia arwah sambil mengunci masa laluku, Sulastri. Apa itu masih belum cukup?"


"BELUUM!!"


"Ugh, HOOEKK!"


Dari dalam mulut Sangkala, ia mengeluarkan lendir kehitaman dengan belatung-belatung yang menggeliat-liat. Sangkala menahan gelonjak darah yang hampir keluar dari dalam dirinya. Nyai Sulastri perlahan mulai mendekat pada Sangkala yang tengah memegang perutnya penuh sakit. Erangan kepedihan dan kesakitan dari Sangkala membuat Nyai Sulastri terkekeh.


"Kau tak punya kekuatan fisik, daya astralmu juga lemah, dan kau juga bukan ahli sihir. Aku rasa jawabannya sudah jelas, dan aku yang akan menyalin sendiri lanjutan kitab ramalan takdir nusantara itu."


"Mati kita mulai dengan mengakhiri jalan takdirmu di jantung kediamanku, hi hi hi....."


"UHKK-UHUK, UGH HOOOEKK!!"


Setelah Nyai Sulastri mengatakan hal itu, lalu siksaan itu dimulai. Nyai Sulastri benar-benar sang iblis, ia mengeluarkan semua organ tubuh Sangkala dari dalam hingga keluar melalui mulut. Membuat gadis itu merasakan puncak rasa sakit yang teramat sangat.


Rasa sakit selepas kematian. Mungkin sesakit itulah siksa kubur itu. Sekujur raga Sangkala mulai terasa disayat-sayat. Mulai dikuliti dalam kesadaran penuh. Dan Nyai Sulastri sangat menikmati pemandangan sadis itu.


Tawa Nyai Sulastri menggema lebih lantang dari raungan kesakitan Sangkala. Di tengah siksaan itu, perlahan Sangkala mulai terbayang akan sosok-sosok para penghuni sekolah.


Dieter, pak guru, para arwah, dan juga Chakra. Lalu berganti dengan dua wajah yang tak Sangkala kenali sebelumnya.


Bersamaan dengan itu, lembar-lembar halaman buku pak guru mulai terisi oleh catatan hidup dari SANGKALA.


Pada masa silam di malam itu, makan malam yang disiapkan oleh Sukarti, ibu dari Sangkala sudah terhidang semua di atas meja makan. Tapi Sangkala yang sudah amat kelaparan belum boleh menikmatinya sebelum sang ayah datang.


Mereka berdua sama-sama tahu kalau kepala keluarga dari rumah tangga itu tidak akan datang. Tidak akan, seperi malam-malam yang lain. Karena ayahnya yang terlalu sibuk dengan urusan militernya.


Sangkala lahir dari sebuah rahim konsekuensi disatukannya dua orang yang tak saling mencintai. Dipaksa menjadi anak penurut pada kombinasi yang bagaikan langit dan bumi. Sang ibu yang terlalu belia dan sang ayah yang terlalu egois.


Malam itu, Sangkala sudah terlalu muak dengan semua sandiwara dalam hubungan keluarganya itu. Ia ingin kedua orangtuanya berhenti berpura-pura untuk saling mencintai.


Lewat tengah malam, begitu sang ayah tiba, Sangkala mengamuk sejadi-jadinya. Gumpalan emosi yang Sangkala pendam selama bertahun-tahun, ia ledakkan kepada sang ayah.


Tamparan, pukulan, tonjokkan dan makian tak pelak Sangkala terima. Sang ibu, dengan segala kepatuhannya, hanya bergeming dan membisu saat melihat sang anak tengah dipukul habis-habisan oleh ayahnya sendiri.


Namun, rasa kasih sayang Sukarti pada Sangkala jualah yang akhirnya memberanikan dirinya untuk membangkang. Disaat mereka mulai bertengkar hebat, Sangkala kabur dengan penuh emosi.


Sangkala ingat betul pada kata-kata yang ia pekikkan pada malam itu. "LEBIH BAIK AKU MATI DARIPADA HIDUP DENGAN KALIAN!!"


Sangkala berlari memasuki hutan yang dirasa tak berujung pada cahaya. Sang ayah masih mengejarnya membabi buta. Sedangkan Sangkala terus berlari, dan terkadang bersembunyi dalam gulita dengan penuh rasa takut nan gelisah. Dan tangisan sang ibu menggema penuh derita dari kejauhan sana.


Di saat jarak Sangkala tak lagi terjangkau, gadis itu bertemu dengan 'mereka'. Sosok-sosok yang memiliki tatapan nyalangnya yang ingin membunuh. Para penghalang takdir.


Pada malam itu, Sangkala dibantai. Kepalanya di penggal dan dijauhkan dari jasad sang raga. Dan saat ia disiksa oleh Nyai Sulastri, ia mulai mengingat semua tentang masa lalunya.


Klan Nyai Sulastri berhasil mewujudkan rencananya untuk membunuh Sangkala. Ia berhasil membunuh Sangkala dua kali. Saat ini sungguh teramat menyakitkan, hingga Sangkala tak bisa untuk melawan dan membiarkan organnya perlahan keluar.


"Hi hi hi..., selamat tinggal, Sangkala—"


"OEEE OEEEE OEEEE!!"


Suara tangisan bayi menggema dalam labirin itu, membuat Nyai Sulastri spontan menoleh seraya mencari sumber suara. "Hmmm, suara bayi?"


Saat Nyai Sulastri tengah lengah, dan perhatiannya tengah teralihkan pada suara tangisan dari bayi. Perlahan tangan-tangan panjang yang berlendir mulai mendekap Sangkala. Tangan-tangan itu mulai memasukkan organ-organ Sangkala dalam raganya semula.


Sangkala mendongak melihat sesosok di belakangnya. "Ibu guru Nisa?"


"SIAPA KAUU-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sesosok bayi besar sudah berada tepat di belakang Nyai Sulastri. Dan dengan kedua tangan mungilnya, sang bayi mencabut kepala dari Nyai Sulastri terlepas dari raganya.


"Ba-bayi itu..."


...****************...


...Catatanku......


...Dear, semesta......


...Bantuan telah tiba......


^^^-Sangkala^^^