SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 13. Orang-orang Yang Bersinar


Malam hari ini adalah malam jumat kliwon dalam kombinasi kalender masehi dan kalender Jawa. Peristiwa di mana hawa dunia gaib sedang dalam kondisi puncak- puncaknya.


Sangkala saat ini tengah menyaksikan makhluk-makhluk sejenis hantu dan jin sedang berlalu- lalang ke sana kemari menembus ke dunia manusia.


Saat tengah fokus memperhatikan para hantu yang beraneka wujud. Tiba-tiba, kelengangan itu seketika pecah oleh suara tangis anak kecil yang mengiba.


Penasaran dari mana asal suara itu, Sangkala segera mencari arah sumber suara tangis dengan lengkingan menyayat itu.


Netra Sangkala melihat anak gadis itu tengah menangis tersedu di bawah pohon beringin keramat dengan tanda cengkeraman di lengan kirinya.


Dari aura yang terpancar, Sangkala segera paham. Bahwa anak gadis di hadapannya itu berasal dari dunia manusia yang tersesat ke alam gaib.


Sangkala menyamakan tingginya dengan anak kecil itu untuk membuatnya lebih tenang. Kepada Sangkala, gadis kecil itu bercerita kalau dirinya di ajak bermain oleh seorang anak kecil berwajah aneh siang tadi.


Lalu anak aneh itu memberikannya cincin, setelah itu lantas ia di ajak bermain ke tempat asing. Ketika gadis kecil itu mulai kelelahan dan ingin pulang, si anak aneh itu marah dan menariknya hingga sampai ke tempat ia berada sekarang.


Haha, kalau sudah mainan pakek cincin begini pasti ulah genderuwo. Pikir Sangkala


Genderuwo adalah makhluk yang memiliki tubuh yang besar bak raksasa bahkan bisa dengan mudah mengubah bentuknya.


Untung saja makhluk besar berbulu itu hanya mengajaknya bermain. Gadis kecil di hadapan Sangkala itu cukup beruntung. Biasanya, anak-anak yang diculik ke alam seberang akan dihisap jiwanya sampai tak bersisa.


Jasadnya mungkin akan ditemukan di dunia nyata, tapi ia akan hidup dalam kekosongan. Manusia yang terhisap jiwanya memiliki tatapan yang kosong, tak lagi berjiwa.


Terjebak dalam kondisi hidup namun juga mati.


Sangkala lantas mengantarkan anak gadis itu pulang. Begitu sampai di rumah gadis kecil itu, Sangkala dibuat terperangah.


Ternyata anak kecil itu adalah satu dari sepasang anak kembar. Kedua anak kembar itu sama-sama berada dalam kondisi tak sadarkan diri.


Melihat kedua orang tua dari anak kembar itu tengah menangis tersedu di samping ranjang sang buah hatinya. Sangkala menjadi bertanya-tanya, ke mana jiwa kembaran yang satunya?


Apakah jiwa kembarannya masih tersesat di luar sana bersama makhluk astral lain?


Di saat sibuk menerka-nerka, pandangan Sangkala teralih pada sebuah pancaran cahaya memasuki ruangan mereka berada.


Pendarnya terasa begitu hangat dan menentramkan. Sangkala melihat pemuda yang bersinar memasuki ruangan tempat mereka saat ini berada, bersama dengan seorang gadis kecil di sisinya.


Dari pertemuan itu, Sangkala tahu kalau mereka berdua mempunyai tujuan yang sama. Mengantarkan jiwa anak gadis kembar yang tersesat di dimensi astral.


Dua jiwa suci itu mereka kembalikan ke dalam raga masing-masing. Seketika itu pula, kedua anak kembar itu terbangun dari kelelapan.


Setelah selesai mengantarkan jiwa sang anak kembar, mereka lantas pergi dari sana dengan melihat senyum dari kedua orang tua gadis kecil itu.


Di malam jumat kliwon, laki-laki yang bersinar itu berjalan mendahului Sangkala, dan gadis itupun mengekorinya.


"Karena aku bukan hantu-." Laki-laki itu menggantungkan kalimatnya.


"Aku masih hidup." Lanjutnya


"Lalu, bagaimana kamu bisa-"


Laki-laki itu melirik ke arah Sangkala membuat gadis itu berhenti untuk bertanya. "Aku sedang me-ragasukma. Aku melepaskan sukmaku dari raga untuk bisa menjelajah di dunia astral ini."


"Jadi itu yang membuat tubuhmu bersinar?"


"Ya. Salah satunya."


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap Sangkala. "Semua orang yang mempunyai kemampuan indigo sepertiku pasti terlihat bersinar di mata makhluk-makhluk penghuni dunia astral seperti kamu."


"Semakin tinggi kemampuan astral seseorang, semakin terang sinar yang di pancarkan. Hal itulah yang membuat kami lebih mudah terdeteksi oleh mata kalian." Ungkap laki-laki itu panjang lebar.


"Baru kali ini aku bertemu hantu seperti kamu-"


"Hah? Apa?" Sangkala kebingungan


"Kamu menolong manusia. Jarang ada hantu yang menolong manusia." Jelas laki-laki itu


"Namaku Sangkala. Aku tinggal bersama hantu-hantu lain yang suka menolong sepertiku."


"Menarik. Sampai ketemu lagi, Sangkala." Pamit laki-laki itu


"Eh-eh. Hei, tunggu! Siapa nama kamu?" Sebelum benar-benar menghilang. Sangkala berteriak bertanya.


Lantas laki-laki itu menoleh dengan separuh tubuhnya yang sudah hampir tak terlihat. "Namaku Chakra."


...****************...


...Catatan Hari Ke-12 ...


...Dear, diary......


...Setelah sekian lama aku merasakan dingin yang tak berujung, kini aku menemukan sebuah kehangatan dari pancaran cahaya yang sungguh menenangkan....


...Cahaya milik pemuda yang bersinar......


...Dengan kemunculannya menuntun sukma yang tersesat, aku jadi menemukan kesamaan dengan apa yang selama ini kujalani. Kini aku tak lagi merasa sendiri. Meskipun masih belum jelas wujudnya, tapi aku percaya pada takdir bahwa kami akan kembali dipertemukan di garis persimpangan nasib selanjutnya......


^^^-Sangkala^^^