![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Raga Sangkala ambruk tak bergerak sama sekali layaknya mayat yang telah di awetkan. Sungguh malang dirinya karena kepalanya di ambil alih oleh Nyai Sulastri.
"Hihhhihi..., Sangkala-Sangkala, gadis yang di pilih oleh takdir, ternyata berakhir sampai di sini saja. Sekarang dua kepalamu, astral maupun yang nyata sudah jadi milikku. Semua unsur yang kau punya sudah takkan bisa melawan."
"Hihihi, jangan kemana-mana ya..., aku mau bercermin dulu!" Ucap Sulastri, ia pun pergi meninggalkan tubuh Sangkala yang hanya bergeming.
Tak selang beberapa lama, jemari Sangkala tampak bergerak sedikit demi sedikit. Sangkala salah, di saat ia mengira kesadarannya telah lenyap, sisa energi dalam raganya masih berdaya.
Sangkala meraba pesan dari pak guru lewat buku itu, yang dikirim dengan kekuatan milik Dieter. Ia harus mengejar Nyai Sulastri agar koneksi raganya tetap terjaga.
Lewat sentuhan di lembar buku pak guru, Dieter mengirimkan tambahan energi. Lalu, dengan raga Sangkala berdiri dan meraba petunjuk di dalam buku. Ia mengendap-endap di jalur labirin.
Sangkala harus merebut kepalanya kembali!
Sangkala tetap meraba-raba jalan yang ia telusuri. Sialnya, semakin dekat dengan iblis raksasa itu, energi kiriman Dieter semakin habis.
Dengan sisa energi itu, Sangkala lalu mencoba menarik koneksi dengan kepalanya yang masih tersambung dengan raga Sulastri.
Lambat laun, denyutan jantung di alam astral itu berhasil memindai pembuluh darah dari sang iblis. Atas leher Sangkala yang sudah tak berkepala, mulai tubuh cacing-cacing yang mirip dengan cacing dari Sulastri.
Sangkala kemudian meraih kepala seorang wanita yang terletak rapi di rak milik Nyai Sulastri. Meskipun mustahil, tapi itu layak di coba.
Rasanya sungguh memusingkan, ukuran dan kondisi kepala itu beradaptasi dengan besar di raga Sangkala. Suplai energi dari Dieter sepenuhnya habis. Kini Sangkala hanya bisa mengandalkan sisa energi dari tiap kepala yang ia pakai.
Setiap beberapa langkah, Sangkala mengganti kepalanya dengan kepala yang terpajang di rak Sulastri. Ia dapat melihat dan juga merasakan residu sejarah kelam yang dialami oleh para pemilik para kepala-kepala itu.
Apa yang dilakukan oleh para iblis kepada generasi emas indigo itu amat jahat. Namun begitu Sangkala mengganti kepalanya dengan milik para manusia yang menjual diri pada iblis.
Sangkala jadi tahu bahwa sesungguhnya banyak umat manusia yang bisa melebihi kekejian iblis itu sendiri. Mereka yang tega menggadaikan nuraninya untuk kefanaan duniawi belaka.
Ada seorang ibu yang tega menyembelih anaknya sendiri untuk tumbal sebuah kekayaan. Ada seorang bapak yang tega menumbalkan seluruh keluarganya untuk sebuah jabatan. Ada wanita dan pria yang berani membunuh sebagai syarat untuk kecantikan dan kesaktian.
Mereka semua para pemilik kepala itu. Dan sama jahatnya dengan bangsa iblis. Bahkan lebih kejam!
Dari sudut pandang Chakra, ia saat ini tengah merapalkan sebuah mantra panjang. Rambutnya di tarik hingga kakinya tak menyentuh bumi, ya, ia menggelantung. Nyai Liang kian lama mendekat ke arah Chakra dengan kapak yang siap menebas kepalanya.
Chakra tetap merapalkan mantra-mantranya, salah satu tangannya memasuki kantung celana. Dengan tatapan yang sudah tak kuat menahan rasa sakit, ia tetap bertahan dengan sisa tenaganya.
"Bunuh saja langsung, Nyai. Sudah mau mati, masih saja mengigau!"
"SELAMAT BERPINDAH ALAM!!—" Teriakan Nyai Liang terhenti selang Chakra menutup matanya. Ekor kalajengking yang begitu besar berhasil menembus tubuh Nyai Liang.
...----------------...
Nyai Sulastri saat ini tengah memperhatikan dirinya sendiri pada sebuah cermin yang berada tepat di tengah pusat labirin rak kepala manusia. Tanpa henti-hentinya ia memuji kalau dirinya itu cantik, cantik dan sangat cantik jika memakai kepala Sangkala.
PRANKKK
Sangkala melompat menabrak cermin hingga pencah berserakan. Nyai Sulastri yang tak siap akan hal itu, menjadi ambruk saat Sangkala menindih bagian lehernya.
Di bagian leher Sulastri, Sangkala dudukkan dan menendang-nendang kepala yang Sulastri kenakan, mencekik dan memukul-mukulnya.
"KEMBALIKAN KEPALAKUUU!!"
Tangan Nyai Sulastri tergerak meraih kepala yang Sangkala kenakan. Ia kemudian mencabutnya dengan paksa. Untung saja Sangkala membawa kepala cadangan di tangan satunya. Sebelum kehabisan energi, dengan cepat ia kembali memasangkan kepala manusia itu.
"ITU KEPALAKU! KEMBALIKAN KEPALAKUUU!!"
Sangkala menarik-narik dan menendang-nendang kepalanya dari raga Sulastri. Hingga usahanya itu berhasil, kepalanya terlepas dari raga Sulastri. Dengan sigap ia menangkap.
Tanpa pikir panjang, gadis itu memasang kembali kepala miliknya pada sang raga.
"UGHH"
"HUHUHUHHHH..."
"PANTAS SAJA KAU BISA LOLOS DARI TAKDIR KEMATIANMU, SANGKALA. TERNYATA KAU MEMANG NEKAT. TAPI ITU NEKAT ATAU BODOH YA?"
"KITA LIHAT SAJA, AKAN KUBUAT KAU KESAKITAN. KESAKITAN DI DUNIA KEMATIAN!!"
Sulastri membuka sebuah peti yang entah dari mana asalnya. Di dalam peti tersebut ternyata adalah kepalanya yang asli. Ia kemudian memasang kepalanya itu...
"Sulastri..., ternyata kau laki-laki?!!"
"Kau Dukun CANGIK!"
...****************...
...Catatan Hari Ke-20...
...Dear, diary......
...Ternyata di dimensi yang tak kukenali ini dipenuhi oleh gugusan kejutan. Bahkan setelah kematian, kejutan itu tidak pernah berhenti. Dan kini aku tengah menyaksikan puncak misteri terbesar dalam hidupku......
...Bersama kemunculan sosok asli Sulastri, aku mencium aroma kematian yang sesungguhnya. Kematian setelah kematian......
^^^-Sangkala^^^