SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 06. Sang Penghibur


Di sudut timur gedung sekolah, terdapat sebuah menara bergaya Eropa. Pada malam-malam tertentu, muncul sesosok makhluk yang bertengger di atasnya. Kemunculannya sering kali diiringi suara decitan burung.


Namun, setelah Sangkala memperhatikannya dengan lebih seksama. Makhluk itu adalah KUNTILANAK.


Keberadaannya memicu rasa penasaran Sangkala. Selama ini, orang-orang mengenal makhluk ini sebagai penculik anak-anak.


Kini Sangkala berada di alam yang sama dengannya, dan ia ingin mengetahui lebih dalam. Ke mana kuntilanak itu selama ini? Apa yang diperbuatnya di seberang sana?


Langkah Sangkala tertuntun ke seluruh penjuru kota, mengekori sang kuntilanak terbang. Melintasi hiruk pikuk keramaian hingga menembus jalur yang kian hening.


Begitu makhluk itu hinggap di sebuah dahan pohon besar, pengejaran Sangkala pun berhenti. Di depannya berdiri sebuah bangunan tua yang nampak muram.


Tulisan pada papan di bagian depan bangunan itu membuat nalar Sangkala terguncang.


"Panti Asuhan Kasih Sayang Bunda"


Yang berada di Jalan Merpati Putih nomor lima puluh enam, Kota Lama Tenggara.


Apa yang paling Sangkala khawatirkan justru terjadi. Apa yang akan dilakukan oleh kuntilanak di sebuah panti asuhan?


Rasa was-was dan penasaran kembali hadir dalam hati Sangkala, menggerakkan langkahnya menembus dinding tebal bangunan tua itu.


Suasana dingin menyergap. Tangis bayi menggema di sepanjang lorong, membuat Sangkala kian resah. Dari salah satu pintu kamar yang terbuka, Sangkala mendengar suara-suara lain menyusup di antara tangis.


Suara decitan burung yang tak wajar, berpadu dengan suara kayu yang berderit.


Netra Sangkala melihat kuntilanak itu bertengger di atas salah satu tempat tidur bayi layaknya burung iblis yang siap memangsa.


Namun, apa yang Sangkala khawatirkan sama sekali tak terbukti. Sebaliknya, keberadaan kuntilanak itu justru membuat tangis bayi itu mereda, dan menggantikannya menjadi tawa yang ceria.


Kuntilanak itu tengah menghibur para bayi yang menangis. Dan apa yang nampak di mata para manusia dewasa dan Sangkala, tidaklah sama dengan apa yang para bayi itu lihat.


Pada malam itu, isi kepala Sangkala tergoyahkan oleh ribuan tanda tanya.


Bagaimana mungkin?


Adakah para manusia itu salah menilai mereka selama ini?


Bayi-bayi yang lahir dari para pendosa, yang dianggap sebagai sebuah kesalahan. Hingga membuat kelahirannya tak pernah bisa diterima.


Lalu, atas nama rasa malu dan kehormatan, bayi-bayi itu dibuang. Ditelantarkan, dan di tempat seperti itulah bayi-bayi yang suci itu di tambatkan.


Makhluk mungil yang malang. Para pendosa itu mengira bahwa dengan membuang malaikat kecil itu lantas bebannya terurai.


Untunglah di dunia ini masih banyak manusia - manusia berhati mulia, yang bersedia merawat bayi - bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Yang bersedia menggantikan peran sebagai orang tua dengan beban rasa tanggung jawab yang baru saja di pindahkan dari orang tua aslinya.


Para malaikat, yang menebus beban para pendosa. Para pendosa, yang melahirkan bayi-bayi mungil ke dunia tanpa rasa tanggung jawab, lantas membuangnya begitu saja demi menghapus jejak masa lalunya.


Tangis mereka pecah oleh dinginnya alam dan dinginnya hati bapak-ibu mereka. Dan bayi-bayi yang akhirnya terlindung di bawah naungan atap rumah panti pun belajar untuk tidak menangis.


Sebab mereka sadar, sekeras apapun tangisan itu, tak akan ada sosok ibu yang datang untuk menimangnya. Namun, setidaknya kini Sangkala bisa sedikit bernapas lega.


Sebab kuntilanak akan datang ke tempat tangisan bayi kesepian itu menggema. Kuntilanak sang penghibur, menyulap tangis menjadi tawa.


...****************...


...Catatan Hari Ke-5 ...


...Dear, diary......


...Begitu banyak gema tangis bayi tak berdosa yang pecah di pelosok bumi akibat dibuang oleh kedua orang tua yang tak menginginkannya....


...Malam ini, di kala aku hendak mengutuk busuknya kenyataan itu, hatiku tersentuh oleh sikap sesosok makhluk yang selama ini dikenal menyeramkan....


...Kuntilanak yang berkelana merobek lengangnya malam ternyata memikul misi-misi mulia......


...Sebuah kisah yang tak semata membuka mata hatiku tapi juga menginspirasiku untuk kian banyak mendermakan kebajikan, sekalipun itu harus berasal dari alam kematian......


^^^-Sangkala^^^