![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Ada yang terasa ganjil usai seminggu lebih dalam kebangkitan Sangkala di alam seberang. Sangkala tidak pernah lagi melihat mentari siang hari. Semesta kegelapan adalah dunianya sekarang.
Dimensi ruang dan waktu yang Sangkala jejaki pun tak lagi sama dengan saat dirinya masih hidup. Gagasan inilah yang kini menyadarkannya tentang keberadaan "para penunggu" tempat-tempat angker.
Makhluk-makhluk seperti Sangkala disebut sebagai penunggu karena memang konsep dimensi ruang mereka hanya seluas itu. Mereka tidak bisa pindah kecuali dipindahkan.
Dan landasan pemikiran itu di jumpai pada kisah yang akan Sangkala tuturkan kali ini. Kisah tentang rumah angker bekas terbakar yang kini terbengkalai di sebuah komplek perumahan tua.
Beberapa tahun sejak peristiwa mengenaskan terjadi di masa silam, penduduk sekitar jadi sering melihat penampakan mengerikan di sekitar rumah itu.
Pada malam-malam tertentu, akan muncul sosok manusia besar dengan bentuk yang ganjil disertai bau hangus daging terbakar.
Akhirnya, keresahan para warga dijawab dengan memanggil paranormal.
Ki Haryo Krangkang.
Ia dipanggil untuk memindahkan hantu itu satu tahun silam. Tentu saja di tempat rumah pembuangan yaitu gedung sekolah.
Pada malam-malam seperti ini, Sangkala mulai mencium bau daging terbakar. Lalu ia pun menyaksikan kemunculannya.
Hantu itu.
Sangkala tak bisa mengenali bentuknya. Hantu itu pergi melewati Sangkala begitu saja dengan mengerang. Erangannya seperti erangan kesedihan.
Dan ternyata intuisi Sangkala benar. Dalam catatan yang tertuang di buku milik pak guru, kisah tentang makhluk besar itu menyibak tabir kesedihan yang mendalam.
Kisah yang sama sekali tak tertebak dari bentuk mengerikan hantu itu.
Delapan belas tahun silam, hiduplah sebuah keluarga kecil yang bahagia. Ayah yang ramah, ibu yang jago memasak, dan anak laki-laki yang baik dan penurut.
Sebuah potret keluarga idaman.
Tapi seiring berjalannya waktu, sejurus dengan makin pecahnya nalar anak laki-laki itu. Kehidupan mereka berubah.
Dari semula serba kecukupan, menjadi serba kekurangan. Menginjak kuliah, anak itu mulai terpapar buruknya pergaulan. Ia mulai gemar berutang pada rentenir demi memenuhi standar pergaulannya di lingkungan kampus.
Tanpa adanya penghasilan, orang tuanya lah yang menjadi korban penagihan hutang-hutang itu. Hutang yang beranak-pinak, gali lubang, tutup lubang.
Masa senja kedua orang tuanya diselimuti rongrongan ancaman kejam para centeng bayaran penagih hutang. Tak hanya menanggung rasa sakit, mereka berdua pun harus menanggung malu pada tetangga.
Mereka sudah tak punya apa-apa lagi, termasuk kehormatan dan harga diri.
Di tengah kemelut itu, si anak laki-laki terus terusan kabur dengan motor kreditan. Tak ada sedikitpun kepedulian pada ayah dan ibunya.
Ia akhirnya tertangkap dalam penggerebekan polisi di sebuah pesta minuman keras bersama kawan-kawannya.
Sungguh ironis.
Berpesta dalam jeratan Rantai hutang. Lelah dengan deraan tekanan yang menghunjam bertubi-tubi, kedua orang tua laki-laki itu pun memutuskan hal terburuk.
Dengan tangan yang gemetar, sang ayah menuliskan rangkaian kata wasiat pada selembar kertas.
"Untuk Mas Dhana, jaga diri. Ayah ibu pamit. Kami malu menanggung hutangmu.. pakai uang kematian kami untuk menyambung hidupmu, nak..."
Lalu, di malam itu. Ketika semesta tengah hanyut dalam lelap dan gelap, sepercik api yang terpantik menyebar, mengoyak kelengangan.
Rumah besar yang dihuni pasangan orang tua itu terbakar hebat. Pasangan lanjut usia itu menutup hidupnya dengan membakar diri.
Berpelukan erat diselimuti panas api yang membara, menahan milyaran emosi yang tertinggal di sisa hidup mereka.
Namun, cerita memilukan itu tidak berhenti sampai di sana. Pasangan itu mati demi bisa memperoleh uang asuransi untuk menutup hutang anaknya.
Begitu uang itu cair, ditambah dengan uang bantuan sanak saudara, anak laki-laki itu justru memanfaatkannya untuk berhura-hura selepas dirinya keluar dari tahanan.
"Anak durhaka itu.. aku harus memberinya pelajaran!" Ujar Sangkala dalam keadaan sangat marah. Matanya yang memerah menandakan bahwa ia siap untuk membalas ketidakadilan.
Malam ini, setahun sejak hantu pasangan tak berbentuk itu terpenjara di gedung sekolah Sangkala, ia akan mempertemukan mereka bertiga.
Sangkala akan membantu arwah penasaran itu menebus rasa rindunya pada putra semata wayangnya yang durhaka.
Toilet diskotik murahan yang ditempati anak-anak laki-laki itu akan Sangkala jadikan ajang perjumpaan mereka.
Seorang laki-laki dengan kacamata yang tersemat di wajahnya pergi berjalan ke sebuah toilet dengan langkah lunglai.
Laki-laki itu mengunci kenop pintu toilet. Dengan tergesa-gesa ia membuka resleting celananya, air dengan warna kekuningan itu keluar membuatnya menghela napas lega.
"Uugh, akhirnya legaa~"
Sreek
Sreek
Sreek
Suara yang cukup mengganggu, lantas laki-laki itu menoleh kebelakang dan keatas untuk mencari sumber suara. Namun ia tak mendapatkan dari mana suara aneh itu berasal.
Sudah selesai dengan urusannya, laki-laki itu berbalik badan hendak meninggalkan toilet. Namun belum sempat menoleh, tangan besar berhasil meraih kepalanya.
Laki-laki terkejut, ia tak bisa bergerak maupun berteriak. Hantu yang berbentuk aneh itu dengan dua tubuh yang menyatu serta tangan yang lebih dari empat menarik laki-laki itu kedalam pelukannya.
"Kak, ibu kangen SAMA KAKAK..."
"KANGEN SEKAALI~"
"AYO KITA PULANG.."
"AYAH JUGA KANGEN, KAK.."
"AYO PULANG..."
"PULAAAANG..."
Tubuh laki-laki itu menyatu dengan seonggok daging hangus dari orang tuanya yang terbakar silam.
Malam itu, segenap curahan emosi kembali bertemu. Ruang masa lalu yang semu menjelma menjadi satu. Mereka kembali sebagai keluarga yang utuh.
Semua ini Sangkala lakukan demi untuk menyelamatkan nasib anak laki-laki itu. Selewat malam ini, ia tak bisa lagi untuk berhura-hura menumpuk dosa.
Mereka akan berbahagia untik selama-lamanya di alam yang fana. Berpelukan dalam tawa, seperti yang senantiasa mereka rasakan di masa silam.
Tugas Sangkala telah paripurna.
...****************...
...Catatan Hari Ke-6 ...
...Dear, diary......
...Kisah anak durhaka akan selalu berakhir dalam duka. Di malam yang ketujuh ini, aku mendapatkan satu pelajaran penting, bahwa seharmonis apa pun suatu hubungan keluarga, yang paling utama tetaplah rasa saling percaya dan saling menjaga....
...Keistimewaanku membawa arwah-arwah yang tersesat ini telah memberikan banyak nilai kehidupan meskipun harus kudapatkan setelah kematianku....
...Aku tak akan berhenti. Perjalanan masihlah panjang......
^^^-Sangkala^^^