SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 04. Ibu, Gendong Aku


Dua malam usai terbukanya gerbang depan sekolah, Sangkala masih terpekur dalam diam. Tempat itu, dengan segenap arwah dan misteri yang menghuninya, menahan laju langkah Sangkala untuk bergerak.


Sangkala bingung, ia harus mulai dari mana. Hingga akhirnya terdengarlah lengkingan parau yang menyayat kelengangan.


Suara tangisan bayi.


Tangisan itu menggema ke seluruh penjuru bangunan sekolah dan tak ditanggapi oleh siapa pun, kecuali oleh Sangkala. Dan jika terdengar suara bayi di tempat itu, maka dapat disimpulkan bahwa itu bukanlah suara tangis bayi biasa.


Nalar Sangkala diguncang saat mengetahui dari mana sumber tangis itu berasal. Sebuah toilet usang berbau yang sangat jauh dari kata "pantas".


Lalu netra Sangkala menatap sesuatu di dalam lubang toilet itu. Hantu kepala bayi merah terus menangis berair mata darah, terjepit dalam lubang kloset dan tak henti menjerit-jerit parau.


Sangkala lantas menemui pak guru untuk mencari tahu tentang hantu bayi itu.


Dulu, begitu arwah bayi itu di buang ke gedung sekolah ini, secara bersamaan muncul area toilet astral di bagian belakang sekolah untuk menampungnya.


Konon kabarnya, ia dipindahkan oleh seorang dukun dari toilet sebuah SMA lain tujuh tahun lalu. Arwah bayi itu muncul usai nyawanya dilenyapkan oleh ibunya sendiri. Seorang perempuan yang tak menginginkan kehadirannya.


Pak guru terus-menerus membuka lembar di buku catatannya untuk diperlihatkan kepada Sangkala.


Nyawa bayi tak berdosa itu dihabisinya usai berbulan-bulan menyembunyikan kehamilannya. Kini arwah itu menangis menjeritkan ketidakadilan nasib yang ia terima.


Namun, pak guru memberitahukan sesuatu yang sangat menarik. Bahwa ibu dari arwah bayi itu masih hidup.


Malam ini juga, Sangkala akan mempertemukan mereka.


Sangkala kehilangan kata-kata saat melihat wanita yang membunuh anaknya itu sama sekali tak dirundung rasa sesal.


Wanita yang diduga seorang ibu dari anak bayi itu saat ini ia tengah berjalan lunglai dengan seorang laki-laki. Sepuntung demi puntung rokok ia konsumsi, bahkan beer pun ia tegak.


Tujuh tahun usai membunuh darah dagingnya, ia lega tertawa mabuk dengan pasangannya. Ia menganggap dengan mengubur masa lalunya, maka semua akan selesai begitu saja?


Sementara di dunia seberang, anaknya meraung-raung kedinginan di dalam lubang toilet tanpa pernah merasakan kasih sayang ibunya.


Sangkala tak bisa diam dan membiarkannya berlalu begitu saja. Wanita itu harus diberi sedikit pelajaran. Sangkala akan mempertemukan sang bayi kepada ibunya.


Malam hari yang dingin, wanita itu tengah asyik bermain dengan ponselnya seraya tertawa pelan. Namun tak lama setelah itu, suara tangisan bagi terdengar di telinga wanita itu.


"Bayi siapa nangis malam-malam gini sih?" Decak kesal wanita itu


Wanita itu mematikan puntung rokok yang ia konsumsi, "jadi ibu pada kagak becus!"


Wanita itu mengernyitkan dahinya kala mendengar suara tangis itu kian mendekat, dan tangis itu terdengar seperti berada dalam satu ruangan dengannya. Wanita itu beranjak dari ranjang untuk mencari sumber suara.


"Aneh, kok suaranya dari dalam kamar mandi gue?"


Perlahan gagang pintu kamar mandi dibuka oleh wanita itu. Wanita itu tersentak kaget saat netranya melihat seonggok daging dan bayi yang menyatu, menangis dan memanggil namanya seraya merangkak.


"Ibu, gendong aku, ibuuu.."


Wanita itu mematung tak bisa bergerak, ia ingin segera pingsan, namun matanya hanya terus melihat sosok bayi menyeramkan di hadapannya.


Bayi itu tak mempunyai bola mata maupun gigi, ia hanya menangis dengan kosong dan hanya mengeluarkan darah sebagai air matanya.


Pupil mata wanita itu bergetar takut, dadanya tak kuat menahan sesak. Air matanya mencelos, ingin rasanya ia lari dari sana.


"Ibu"


"KENAPA AKU DIBUNUH, BUUU~?"


"KENAPA BUU~."


Bayi itu terus merangkak mendekati wanita itu, namun kian ia mendekat. Tubuh dari bayi itu kian membesar hingga satu kepal tangannya bisa saja meremukkan tubuh wanita itu.


"KENAPAAA!!"


"Ti-tidak. Kamu sudah matii!"


Saat di rasa tubuhnya bisa digerakkan, wanita itu segera berlari menuju balkon kamarnya. Bayi itu semakin mendekat. Dengan cepat ia meraih kain gorden yang menggantung di sisi jendela.


Wanita itu mengikat ujung dari kain itu di pembatas pagar balkon, ia hendak turun menggunakan alat itu. Namun siapa sangka kejadian naas terjadi.


Saat hampir turun dari sana, dan ia melilitkan kain itu ke tubuhnya. Wanita itu terpeleset dan menggantung. Lehernya tercekit dengan kain gorden hingga dengan kehilangan nyawanya pada malam itu.


Sangkala hanya bermaksud untuk mengantarkan arwah bayi itu kepada ibunya. Tapi semesta berkehendak lain, wanita itu telah dihukum, ia harus menebus karmanya.


Ia dihukum dengan cara yang sama dengan saat ia menyudahi nyawa makhluk tak berdosa yang baru keluar dari rahimnya.


Makhluk yang tercipta oleh buruknya pergaulan dan kegegabahan seorang anak remaja. Setidaknya, arwah bayi itu sudah berhasil menemui ibunya. Dan setidaknya, kini mereka berdua bisa bersama di alam yang sama.


Sangkala telah menyaksikan keadilan semesta dalam menyeimbangkan lini kehidupan dengan caranya sendiri. Malam ini, Sangkala sebagai satu-satunya hantu yang diperkenankan keluar gerbang sekolah.


Bersumpah, bahwa Sangkala akan dengan senang hati mengantarkan pulang arwah-arwah yang tersesat untuk mendapatkan keadilan atas nasibnya.


...****************...


...Catatan Hari Ke-3...


...Dear, diary......


...Ada sedikit kepuasan saat menyaksikan keadilan semesta menghukum insan-insan penuh dosa yang telah menelantarkan bayi kecilnya yang tak berdosa....


...Begitu banyak nasib bayi-bayi yang mati di tangan orang tuanya sendiri, bahkan sebelum ia memiliki nama. Sebuah kekejian yang lahir demi menjaga kehormatan diri dengan cara mengorbankan sesuatu yang suci atas buah perbuatan hina. ...


...Aku baru bisa mempertemukan satu bayi pada ibunya. Tak terbayang betapa banyak bayi lagi uang harus kubawa di hari berikutnya......


^^^-Sangkala^^^