![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Salah satu dari sekte penghalang takdir itu mendekati mayat dari kedua laki-laki yang mati dengan mengenaskan. Sementara Sangkala dan Chakra masih berdiam diri tak bisa untuk melarikan diri dari sana.
Salah satu wanita yang memeriksa mayat itu memberitahukan kepada kedua temannya yang lain tentang Gusti Prabu dan Padri.
"Seperinya kita datang terlambat, Nyai. Orang-orang dengan tingkat kanuragan tinggi seperti dia sudah pasti bisa membaca arah angin takdir..."
"Sekarang bagaimana? Bukankah Nyai Sulastri menghendaki mereka semua mati? Lelaki ini sudah terlanjur mangkat untuk menitis ke masa depan..."
"Hihihi, tak perlu khawatir..., rasa ingin tahu anak manusia pasti akan kembali membawa sang titisan untuk mencari tahu siapa penitisnya. Tugas kita hanyalah memancingnya datang kembali ke masa ini..."
"Hihi, benar juga katamu. Karena itulah kita bunuh seluruh anggota keluarganya satu demi satu agar dia terpelatuk untuk mencari tahu."
"Dan ternyata siasat itu terbukti, Nyai..."
Ketiga penghalang takdir itu menatap tajam ke arah Sangkala dan Chakra hingga membuat mereka bergidik penuh rasa ngeri.
Merasa dalam marabahaya dan catatan milik pak guru memberitahukan untuk lari dari sana. Sangkala segera berlari, menarik paksa tangan Chakra untuk mengikuti dirinya.
Sungguh celaka, celaka dan celaka bagi Sangkala dan Chakra saat itu. Kejadian yang barusan terjadi persis seperti saat perjumpaan Sangkala dengan Sulastri.
Para penghalang takdir dan makhluk-makhluk itu ternyata tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu. Para sekte penghalang takdir itu dengan ganasnya masih mengejar Sangkala dan Chakra.
Sialnya Sangkala merasa, ruangan di dimensi itu seperti tak berujung. Dieter terus memberikan sebuah instruksi lewat buku milik pak guru yang Sangkala pegang.
Di saat Sangkala membaca arah, sesuatu terjadi. Chakra tersandung dalam pelariannya.
"Chakra!!"
"Tetap lari, Sangkala! Jangan pedulikan aku!" Titah Chakra
Sangkala mengangguk bingung, ia terus melanjutkan pelariannya dari kejaran sang penghalang takdir hingga tanpa sengaja perhatiannya teralih pada gerbang pintu yang besar.
Ia kemudian berlari ke arah pintu tersebut. Anehnya setelah Sangkala melewati pintu itu, seketika pintu itu lenyap begitu saja. Aura kegelapan pun menyergap.
Sangkala seperti berpindah dimensi. Saat ini di sekelilingnya banyak sekali rak-rak yang berjejer rapi. Namun isinya bukanlah sebuah buku, melainkan kepala-kepala dari para wanita.
Setelah melihat itu, Sangkala pasti sudah bisa menerka siapa kiranya yang melakukan ini. Ya, pasti itu adalah Sulastri. Namun yang Sangkala tak bisa tebak ialah, ia saat ini berada di kandang rak labirin milik ratu kegelapan itu.
Di sisi lain, dan di dimensi manusia. Tubuh Chakra yang tengah meragasukma banyak mengeluarkan darah dari mulutnya. Sudah pasti saat ini jiwanya dalam marabahaya besar.
Ya. Chakra tertangkap dan di siksa habis-habisan oleh ketiga para wanita penghalang takdir itu. Dengan kejamnya Chakra di cakar dan ditusuk habis-habisan dengan kuku panjang milik mereka bertiga. Sudah tak tahu lagi bagaimana rasa sakit yang dialami Chakra.
"Hihihi..., aduh sakit, yaaa?"
"Kesaktianmu tidak berlaku di dimensi ini, bocah!"
"Lumatkan hatinya, Nyai! Hancurkan raganya dari sini! Hihihi!"
Chakra yang saat itu sudah terluka parah dan tak bertenaga. Seketika mendapatkan tusukan yang begitu dalam hingga menembus ulu hatinya. Tangan dari salah satu penghalang takdir itu *******-***** jantung dari Chakra.
"AAAAAAARGH!!!"
Balik lagi dari sudut pandang Sangkala, ia berjalan menyusuri lorong labirin rak penuh kepala yang di bangun oleh Sulastri. Udara semesta seakan memadat, langkahnya bagai terjebak lumpur.
Jika memang benar itu adalah markas utama milik iblis itu, maka Sangkala harus segera kabur sebelum ketahuan oleh iblis raksasa tanpa kepala itu.
Saat tengah paniknya menyusuri lorong labirin yang tiada ujung. Buku milik pak guru terbuka dengan sendirinya. Pesan dari Dieter.
DI
LA
KANG
Saat tengah menerka tulisan darah di buku milik pak guru, sialnya pesan yang dikirim oleh Dieter terlambat diketahui oleh Sangkala. Tangan raksasa berhasil meraih kepala Sangkala.
CREEAK
...----------------...
"AAAAAAARGH!!" Auman teriakan kesakitan dari Chakra menggema di dalam dimensi itu. Bukan hanya raganya yang mengeluarkan banyak darah, sukma dari Chakra pun tak bisa menahan sakit yang luar biasa ia rasakan.
"Hihihi..! Tanpa adanya ular penjagamu di sini, kau takkan bisa berkutik, bocah!"
"Uhuk, aaargh~"
"Hihihi.., mana kesaktianmu waktu kau membunuh Nyi Sunthi, bocah?"
"Ini akibatnya kalau berlagak sok jagoan di dunia para demit.."
"Kau kira kemampuan astralmu itu sebuah berkah?" Setelah mengucap satu kalimat itu, tubuh Chakra diangkat dengan satu tangan oleh wanita itu. Bukan melalui tangan ataupun tubuhnya yang di angkat, melainkan dari mulut dan kepala Chakra hingga membuat laki-laki itu menggantung.
"Akan ku buat kau menyesal sudah sok pahlawan di dimensi kami! Nasibmu akan sama dengan para leluhur di masa-masa silam!"
Leher dari wanita itu memanjang layaknya ular yang siap menerkam mangsanya. "Terpenggal lehernya di dunia astral, lalu kehabisan napas du dunia manusia Hihihi..."
"Nyai Liang, tugasmu."
Entah bagaimana caranya, sebuah kapak dikeluarkan dari dalam mulut Nyai Liang. Ia memasukkan tangannya sendiri sedalam-dalamnya di dalam mulutnya, lalu ia menarik tangannya guna mengeluarkan kapak yang begitu tajam.
Nyai Liang mendekat ke arah Chakra yang tak berdaya. "Sebentar lagi, kepalamu akan menjadi pajangan di rak lemari milik Nyai Sulastri!"
"Berjejer bersama para pembaca zaman dan para wanita cantik yang ingkar pada sumpahnya! Hihihihi...!"
...----------------...
Kepala Sangkala ditarik paksa oleh wanita raksasa itu. Seketika kepalanya terlepas dari raga miliknya. Tubuh Sangkala menggeliat menahan sakit atas hilangnya kepala dari raganya.
Nyai Sulastri perlahan mulai menyatukan kepala milik Sangkala dengan tubuhnya. Cacing-cacing bak akar mulai mengikat kepala Sangkala untuk menyatu dengan raga dari Nyai Sulastri.
Itu adalah keadaan yang sangat gawat bagi Sangkala. Kalau sampai kepalanya tergabung, ia akan kehilangan kesadarannya. Kepala Sangkala memberontak, berteriak penuh kesakitan kala akar cacing mulai memasuki bagian kepalanya.
"AAAAAAAARGHH!!"
Hingga, kepala milik Sangkala sepenuhnya menyatu dengan raga milik Nyai Sulastri.
"HIHIHIHI... HHHHHHHHHHH! HHHHHHH!"
"SUDAH BERTAHUN-TAHUN AKU MENCARI KEPALA UNTUK RAGAKU. NAMUN KALI INI, KEPALA INI YANG SANGAT SEMPURNA UNTUK KU!!"
"HIHIHHHHH!!"
...****************...
...Tidak ada Diary......
...Karena Jiwa Sangkala sedang dalam marabahaya......