![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Dari waktu ke waktu, Sangkala selalu mengamati seorang laki-laki dari kejauhan. Dan ternyata laki-laki itu memang sangat istimewa di mata Sangkala.
Setiap malam, Chakra meragasukma dan berkelana ke alam tempat Sangkala tinggal. Mencari arwah-arwah yang tersesat untuk di kembalikan ke raganya. Atau menyeberangkan arwah itu ke alam kekal.
Namun yang selalu membuat Sangkala bertanya-tanya adalah, mengapa Chakra selalu sendirian?
Di malam hari yang sunyi nan dingin, Sangkala lagi dan lagi pergi ke sebuah kos kontrakan yang di diami oleh Chakra. Ia melihat laki-laki itu tengah tertidur membelakangi jendela kamar kos-nya.
"Sampai kapan kamu mau terus-terusan mengintai aku, Sangkala?" Suara deru tanya itu berasal dari Chakra yang ternyata tidak memejamkan matanya.
Tak terkejut, Sangkala malah tersipu malu. Ia sudah menduga bahwa Chakra pasti merasakan kehadirannya dari sejak ia mengintai laki-laki itu.
Chakra membenarkan posisinya, ia duduk di sisi ranjang dan menghadap ke jendela kamarnya. "Masuk aja, jendelanya tidak dikunci..,"
Sangkala berdiri di tepi jendela, melihat raut wajah Chakra yang tampak lelah.
"Kenapa?" Tanya Chakra
"Ehh. Umm, aku hanya penasaran denganmu.."
Chakra menghela napasnya kasar, setelah itu ia berdehem sebagai jawaban awal.
"Aku tidak mengetahui keluargaku yang lain. Yang ku tahu, ibuku wafat oleh serangan ilmu hitam waktu aku masih kecil. Waktu awal aku masuk SMA, kakekku menyusul pergi."
"Hanya rumah kontrakan dan benda-benda keramat ini saja yang dititipkan kepadaku." Chakra menunjuk rak yang berisi barang-barang yang memiliki energi keramat di dalam kamarnya.
"Aku lihat kamu menjual barang antik dan cincin batu akik di pasar...?" Tanya Sangkala
"Cuma nitip dagangan..., dengan cara ini aku bisa makan dan tetap bersekolah." Jawab Chakra
Chakra menatap tajam ke arah Sangkala, "kamu kemari punya tujuan lain selain mengekoriku, kan?"
Tanpa basa basi dan merasa tak ada gunanya berbasa-basi, Sangkala langsung menyampaikan bahwa Dieter ingin menemui Chakra.
Dan tanpa banyak bertanya, laki-laki itu langsung menyetujui dan bersedia meragasukma mengikuti Sangkala ke sekolah.
Setelah sampainya di sekolah, Dieter langsung menyambut kedatangan mereka berdua. Perjumpaan Chakra dengan Dieter seolah bukan yang pertama kali.
Dieter lantas mencoba menjawab rasa penasaran yang ada di diri Chakra pada garis keluarganya yang sangat ingin ia ketahui.
"Binatang astral yang menjagamu memiliki kalung mustika..., kamu sudah pasti berasal dari keturunan darah Ningrat, Chakra." Tutur Dieter
"Mendengar riwayatmu yang sebatang kara, ada kemungkinan keluargamu sengaja menyepi untuk menghindari sesuatu uang jahat." Lanjutnya
"Aku tahu itu, Dieter. Permasalahannya, aku tidak pernah bisa menapak tilas garis darahku ke belakang. Aku merasa ada yang berusaha menghalangi usahaku dalam mencari tahu." Ucap Chakra
"Aku merasa, justru orang yang menitismu sengaja menghalangi upayamu mengendus jejak masa silam untuk menjagamu dari marabahaya." Ujar Dieter
Sejenak keheningan tercipta di sana, setelah Dieter menjelaskan itu Chakra tampak terdiam dengan ribuan pertanyaan.
Hingga akhirnya Chakra kembali membuka suara. "Sangkala memberitahu kalau kau bisa membawa arwah ke masa silam. Bawalah aku! Aku akan menanggung risikonya."
Dieter menjawab dengan senyum penuh misteri. Ia bersedia untuk mengirimkan Chakra, namun ia juga mengingatkan kalau ular penjaganya tak bisa melindungi dirinya di alam astral lapisan kedua.
Rasa ingin tahu Chakra telah mengalahkan rasa takutnya. Akhirnya, Sangkala dan Chakra bersiap untuk berkelana ke masa silam, merunut garis keturunan darah laki-laki itu.
Sekarang buku milik pak guru telah berpindah di tangan Sangkala, karena buku itu adalah alat komunikasi mereka.
Dieter mengumpulkan sisa tenaganya. Lalu mereka pun terhempas, merasakan rasa sakitnya daging yang hampir diremukkan.
Energi Sangkala terasa tersedot begitu kuat sejurus perjalanan mereka berdua melintasi lorong waktu menuju masa silam.
Sesampainya di masa silam tempat tujuan mereka, aroma wangi getah bayan begitu kuat menguar. Lalu mereka berdua melihat dua lelaki di hadapan mereka.
"Penyakit ini dikirim oleh kakak angkat Gusti Prabu dari wilayah perbatasan. Sepertinya beliau bersekutu dengan dukun yang amat sakti, Gusti." Jelas lelaki itu
"Aku tahu..., kakakku-- dia sangat menginginkan jabatanku di tanah Mataram ini, Padri. Ia akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya." Ungkap Gusti
"Berdasarkan penerawanganku saat ini, beliau menyewa dukun 'Cangik', Gusti...,"
"Ca-Cangik?"
"Dukun berkelamin ganda, Gusti. Separuh lelaki, separuh wanita." Jelas Padri
"Ia telah menghasut kakanda Gusti di perbatasan untuk memakai ilmu hitamnya. Sebagai gantinya, begitu kakanda Gusti Prabu mendapatkan jabatan ini, maka beliau harus bersedia menjadikan sang dukun Cangik sebagai istri simpanannya." Lanjutnya
Sungguh, mendengar tuturan penjelasan dari Padri membuat Sangkala dan Chakra tercengang begitu terkejutnya mereka.
"Jika Gusti Prabu mengizinkan, saya akan—"
"BRRRK HOOOEKK!!"
Kalimat Padri terpotong usai Gusti Prabu memuncratkan begitu banyak darah dari mulutnya. Tak cukup hanya darah saja, namun kalajengking, kelabang dan serangga mematikan lainnya mulai bermunculan dari dalam mulut sang Gusti Prabu.
Chakra dan Sangkala yang melihat itu tampak sangat terkejut kala menyaksikan hal aneh itu tepat di hadapan mereka. Chakra dan Sangkala mundur beberapa langkah menjauh dari kedua lelaki itu.
"GUSTI, APA YANG TER—"
Gusti Prabu mencengkram pergelangan tangan Padri. "CEPAT LARI, PADRI....!"
"TERNYATA BUKAN AKU YANG MEREKA INCAR. MELAINKAN KAMU!"
Suasana mendadak berubah. Aura kegelapan pun menyergap. Lalu, di saat sesuatu yang jahat, seperti tengah datang berbondong ke bilik kecil itu, sang Prabu mengucapkan sesuatu yang mengguncangkan nalar.
"CEPATLAH MOKHSA, PADRI!!!"
"SELAMATKAN SUKMA DAN KANURAGANMU UNTUK MENEMUKAN TITISAN DI MASA DEPAN!"
"BAWA SERTA PENGAWALMU, 'KYAI KANJENG JAGASURA!!"
Setelah mendengar teriakan Gusti Prabu, Sangkala menyadari. Jadi laki-laki yang disebut Padri itu adalah penitis Chakra!
Dengan satu gerakan kilat, laki-laki itu menotok semua titik pembuluh kunci di tubuhnya. Darah memuncrat di mana-mana. Hingga nyawa kedua lelaki itu lenyap bersamaan.
Tiba-tiba buku milik pak guru terbuka dengan sendirinya. Pupil dari netra Sangkala mengecil kala melihat tulisan dari buku itu.
LARII!
Namun Chakra dan Sangkala terlambat untuk melarikan diri dari sana. Karena mereka muncul secara bersamaan.
Para penghalang takdir!
...****************...
...Catatan Hari Ke-18 ...
...Dear, diary......
...Misteri di masa silam ternyata seluas samudera penuh gelombang tanda tanya yang haus angin jawaban. Dalam badai pencarian itu, kami justru mendapat gugusan misteri lain, alih-alih mendapatkan kejelasan. Namun kami langsung sadar, bahwa langkahku dan Chakra telah memanggil energi gaib dari ruang dimensi lain......
...Kami sudah ditandai....
^^^-Sangkala^^^