![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Ragasukma.
Istilah itu terus menghantui pikiran Sangkala. Pak guru memberitahukan kepada Sangkala bahwa ragasukma adalah ilmu kuno yang jamak di jalankan oleh para penghayat kebatinan dan para pendekar di masa silam.
Sebuah teknik melepaskan sukma dari raga untuk menjelajah dunia astral dengan kesadaran penuh. Hanya orang-orang berkemampuan khusus yang bisa menjalankannya di masa sekarang.
Laki-laki itu, Chakra. Tubuhnya bersinar begitu benderang. Seolah telah begitu terbiasa melepaskan sukma dari raganya.
Malam itu, di kala Sangkala tengah fokus membaca, perhatiannya pecah oleh sebuah pendar cahaya di tengah lapangan sekolah.
Sebuah api berkilat membakar sebuah benda besar yang tiba-tiba saja muncul pada malam peralihan bulan sabit.
Bangkai bus misterius yang teronggok di lapangan timur gedung sekolah mendadak terbakar. Di dalamnya mulai bermunculan sosok para penumpang yang hanya duduk bergeming di tempat duduknya masing-masing.
Sosok yang terbakar itu, semuanya adalah wanita.
Sangkala dan pak guru pun mendekat ke bus yang terbakar itu. Ia pun membuka buku catatannya di hadapan Sangkala. Dan terungkaplah sebuah peristiwa tragis yang terjadi di masa silam.
Dua puluh tahun silam, bus yang mengangkut para siswi dari sebuah sekolah putri kecelakaan saat sedang dalam perjalanan study tour.
Para era itu, kendaraan bus lokal sedang mulai menjajal teknologi baru untuk automatic door. Nahasnya, pada kecelakaan itu, terjadi sebuah korsleting di bagian pintu otomatis hingga membuat bus terbakar.
Pintu bus pun macet, tak bisa dibuka.
Para siswi dan kondektur bus menjerik ketakutan dan kesakitan luar biasa karena terjebak di dalam. Mereka keburu kehilangan daya karena keracunan asap hingga akhirnya mati terpanggang.
Dari tiga puluh enam penumpang, hanya satu yang berhasil lolos dari maut. Siswi itu mengalami cedera ringan dan sedikit luka bakar di bagian wajah. Saat detik-detik terakhir, ia memecahkan kaca dan melompat dari bus terbakar itu.
Regu pemadam kebakaran baru bisa menjangkau lokasi setelah tiga jam terbakar. Sebab kecelakaan itu terjadi di jalur menanjak sebuah bukit yang sudah jauh dari kota.
Beberapa waktu kemudian, lokasi tempat kejadian menjadi angker. Bus dan seluruh isinya muncul sebagai hantu yang mengganggu para pengendara.
Tapi seorang Kyai sakti berhasil membuang mereka semua ke sekolahan. Pertanyaannya sekarang adalah..
Bagaimana cara menyeberangkan mereka?
Apakah ini ada hubungannya dengan sosok satu-satunya korban yang berhasil selamat?
Dengan bantuan navigasi pak guru, Sangkala berhasil menemukan sosok wanita yang selamat dari maut dua puluh tahun silam.
Wanita dengan luka bakar yang malang.
Lolos dari maut tak lantas membuat sisa hidupnya bahagia. Wanita itu hidup dalam trauma. Di hantui pemandangan tragis kala maut menjemput.
Saat wanita itu tengah tertidur sembari memegang foto kenangannya bersama teman-teman dulu. Ia terbangun kala mencium bau daging hangus terbakar.
Wanita itu kaget melihat seorang gadis diam berdiri di ambang pintu kamarnya.
Bu Nuri hanya diam mematung menatap banyaknya sosok temannya terdahulu. Mulutnya tak bisa untuk mengeluarkan sebuah kata.
Arwah-arwah yang mati terpanggang di dalam bus itu Sangkala bawa ke hadapan bu Nuri dalam wujud terbaik mereka.
Tak ada secuil pun rasa takut di wajah bu Nuri. Wanita itu justru nampak berduka dengan air matanya yang kian mengalir.
Salah satu siswi yang mati terpanggang itu, berjongkok di hadapan bu Nuri dan memegang tangannya. "Tolong Ikhlaskan kami, Nuri. Jangan sesali kejadian itu lagi!"
"Benar, Nuri. Jangan bebani hidupmu lagi dengan kepergian kami." Jawab satu arwah siswi yang lainnya.
"Kami melihat semuanya.."
"Kami melihat perjuanganmu..."
"Kami tahu kamu telah berjuang menyelamatkan kami..."
"Namun, yang namanya sudah takdir kami. Kami tak bisa menyalahkanmu.., lupakan kami, Nuri. Jangan bebani hidupmu dengan kepergian kami.."
"Jangan bebani hidupmu dengan kepergian kami!"
"Lupakan kami, Nuri."
"Lupakan kami, agar kami bisa tenang. Jangan bebani hidupmu.."
Para arwah itu tertahan oleh dalamnya jurang penyesalan akibat tak kuasa menyelamatkan. Hanya keikhlasan Ibu Nuri lah yang bisa melepaskan belenggu itu.
Foto yang berada di tangan bu Nuri perlahan mulai terbakar dan menghilang. Bersamaan dengan lepasnya penyesalan itu, satu per satu para arwah itu melebur menjadi abu.
Jiwa-jiwa yang tertahan kini bisa menyeberang ke sisi sang pencipta.
Kapan kiranya giliranku tiba?
...****************...
...Catatan Hari Ke-13...
...Dear, diary......
...Baru kali ini aku menyaksikan dalamnya sebuah menyesalan dari masa silam seorang anak manusia hingga menghalangi nasib puluhan arwah untuk menyeberang dengan tenang....
...Satu pelajaran yang kuambil, bahwa di belakang setiap kisah tragis, pasti tersisa trauma dan penyesalan. Dan keduanya hanya bisa ditebus dengan keikhlasan. Sebab kematian sekali pun takkan bisa memusnahkannya......
^^^-Sangkala ^^^