![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
"ARGHHH!!"
Auman penuh sakit dari Nyai Sulastri menggema kala kepalanya terpental dari raganya. Ia meraih tubuh sang bayi dari belakang punggungnya dan melemparnya menjauh. Bergerak ke sana kemari, ia mencari kembali kepala aslinya.
Seorang gadis kecil berkepang dua dengan riangnya tengah menendang-nendang kepala Nyai Sulastri seperti ia menendang sebuah bola. Tawa kecil dari gadis kecil itu membuat Nyai Sulastri geram kala gadis kecil itu tanpa rasa takut melewati Nyai Sulastri ke sana kemari.
Hahahaha, ke sini, om!
Sini!
Ke sini, Om!
Gadis kecil itu berhenti tepat di belakang Nyai Sulastri, ia meraih kepala itu dan mengelusnya. Nyai Sulastri menoleh dan saling berhadapan dengan gadis kecil itu.
Main sama aku yuk, om...
Amarah yang bergelonjak membuat Nyai Sulastri berlari hendak mencekik gadis kecil itu. Namun belum sempat meraih leher gadis kecil itu, sosok yang membuatnya geram itu seketika menghilang dan digantikan dengan bus terbakar yang sedang melaju kencang ke arahnya.
BRUUUK!!
Bus itu menghantam keras tubuh Nyai Sulastri hingga ia terpental jauh kebelakang. Setelah bus itu berhenti, terbukalah pintu bus itu dan memperlihatkan banyaknya para wanita dengan tubuh hangus terbakar. Mereka mulai berlari keluar menyerang Nyai Sulastri serempak.
Mereka satu persatu menyerang dengan cara memeluk Nyai Sulastri dengan tubuh penuh bakar mereka. Tubuh dengan api yang masih menyala. Nyai Sulastri menggeliat berusaha melepaskan mereka semua, namun kian ia bergerak, semakin terbakarlah tubuhnya.
Gadis kecil berkepang dua itu kembali muncul dengan sebuah kapak berkaratnya. Ia meletakkan kepala Nyai Sulastri tepat di hadapannya. Dengan tawa kecil ia mulai mengayunkan kapak itu dan mengarahkannya pada kepala Nyai Sulastri hingga kepala itu hancur tak berbentuk.
Mereka adalah arwah-arwah yang pernah Sangkala seberangkan sebelumnya. Semua berdatangan ke dimensi tempat Sangkala terjebak. Dan satu persatu bersekutu melawan Nyai Sulastri menyelamatkan Sangkala.
Entah bagaimana mereka bisa sampai ke dimensi itu, Nyai Sulastri tak berdaya menghadapi mereka. Sangkala menyaksikan kematian Nyai Sulastri dengan cara yang lebih mengerikan dari saat ia mencoba membongkar isi tubuh Sangkala.
Nyai Sulastri dibakar dan dihanguskan. Lalu tubuhnya di tarik sedalam-dalamnya ke dalam kubangan air yang tiada ujung.
Sangkala tak pernah menyangka jika upayanya mengantarkan para arwah bisa berbalik menjadi sebuah bala bantuan, sebuah pertolongan. Bahkan di alam yang begitu kelam itu, petuah "siapa yang menanam, dia yang akan menuai" masih berlaku.
Ibu guru Nisa mengangkat tubuh Sangkala ke atas dan dalam hitungan detik Sangkala dibawa terbang oleh sang kuntilanak yang katanya musuh para anak-anak dan bayi.
Dari kejauhan Sangkala melihat pintu itu kembali muncul. Ia pun di turunkan ke arah pintu untuk menjemput Chakra kembali ke dunia asalnya. Di sana, ia melihat para penunggu telah menaklukkan para penghalang takdir lainnya. Kepala mereka di pisahkan dari raganya, sama halnya dengan perbuatan mereka.
"CHAKRAA!!" Sangkala memanggil Chakra, dan laki-laki itu membalasnya dengan senyum penuh kelegaan.
"ARGHHH!! BAGAIMANA BISA KALIAN TETAP HIDUUUP! INI TAK ADA DI DALAM KITAB RAMALAN!!"
"Pelajaran sebelum mati buat kalian, bahwa percaya dengan ramalan adalah perbuatan hina dan merendahkan takdir Tuhan." Telak Chakra sebelum mereka benar-benar kehilangan daya hidupnya.
Merasa sudah aman, satu persatu para penunggu itu mulai kembali ke dalam cincin sakral yang Chakra kenakan. Laki-laki itu pun mulai menghela napasnya, ia menoleh ke arah Sangkala yang berlari ke arahnya.
"Chakra!"
"Energi Dieter sudah tak bisa bertahan lebih lama. Kita harus segera menemukan titik api untuk bisa kembali ke dimensi awal!"
"Huh, titik api?"
"IKUTI AKU! AKU TAHU DI MANA ITU BERADA."
Namun, tepat mereka hendak ditarik kembali ke dimensi utama, satu sosok para penghalang takdir muncul, bentuknya bak laba-laba dengan perut yang berisi anak setan.
"TAK AKAN KUBIARKAN KALIAN LOLOS BEGITU SAJA!!"
Wanita dengan muka tak berbentuk itu memukul-mukul keras perutnya. "KELUAR KAU, ANAK SETAAAN!!"
Tepat pukulan kelima, dari dalam perutnya keluar sesosok bayi bak iblis dengan cepatnya menghampiri Sangkala dan Chakra. Bayi setan itu ikut masuk ke arus deras lorong waktu. Bayi itu hendak masuk ke dalam mulut Sangkala, untungnya ular milik Chakra berhasil melahap sang bayi hingga tak bersisa.
"Hampir saja..."
Syukurlah, semua sesuai dengan garis takdir.
"Dieter!"
"Di-Dieter, kenapa dirimu perlahan menghilang, apa yang—"
Jangan khawatir, Sangkala...
Aku masih tetap bisa hidup dengan bentuk seperi ini.
Yang terpenting, semua berakhir sesuai dengan apa yang kulihat di kitab takdir, Sangkala. Tak ada satu kejadian pun yang meleset...
Tak kuat menahan sesak di dadanya, Sangkala pun mengeluarkan dengan tangis dan air mata yang tanpa hentinya mengalir. "Dieter, kau..."
"Kau sudah mengetahui semua kejadian ini dari awal hingga detik ini?"
Benar, Sangkala
Selama ratusan tahun di dimensi masa silam, aku dan dua peramal ulung penjaga kitab Bhurloka milik sang prabu Jayabaya, berulang kali kami membaca dan menghitung garis takdir yang bisa kami tempuh untuk mengalahkan iblis tangguh itu, dan inilah yang kami pilih, meski harus mengorbankan sisa tubuh dan tenagaku.
"Hikss, kenapa kamu gak bilang saja dari awal padaku?"
Kalau aku membocorkan takdir yang akan terjadi, maka takdir itu tidak akan pernah terjadi, Sangkala...
Kita sudah menang, Sangkala...
Kita sudah menang...
...****************...
...Catatan ke-22...
...Dear, diary......
...Catatan ini akan menjadi penutup misteri terbesar dalam hidupku. Misteri tentang identitasku, tentang semesta yang menaungiku, juga tentang masa depanku di garis takdir alam ini. Meski semua nyaris terkubur, aku masih dapat merasakan hawa ancaman masih terpendam di relung bumi alam gaib....
...Bersama desiran angin malam di peralihan bulan......
^^^-Sangkala ^^^