![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Setelah kejadian hari itu, suasana menjadi hening, bebunyian lenyap, tunas-tunas suara alam gaib terbunuh oleh jejak misteri pembantaian sang ratu iblis, Nyai Sulastri. Segalanya kini telah kembali bersinggasana di tempatnya semula.
Chakra, sang pendekar raga bersinar segera melarikan dirinya ke rumah sakit untuk dirawat. Sedangkan Dieter, ia bernaung dalam kepompong cahaya lilin penjaga aura agar tubuhnya tidak sepenuhnya menghilang.
Jrangkong, makhluk itu kembali berjaga di atas peti kitab kunonya. Dan Sangkala, ia saat ini membaca kisah hidupnya yang baru terungkap bersama pak guru.
Lembar pertama langsung menghancurkan hatinya. Tertulis dengan jelas di lembar pertama sejak hari kematian Sangkala, bahwa ibunya gantung diri usai mengetahui kalau jasad anaknya ditemukan tanpa kepala.
Beliau wafat dengan hati yang remuk dan terkoyak. Buah hatinya meninggal dengan cara yang tak wajar. Polisi hanya menuliskan kalau Sangkala diserang satwa liar. Kepalanya tak pernah ditemukan dan ditutup dengan asumsi telah dibawa oleh satwa yang memangsanya.
Namun, diujung gugusan kata itu mata Sangkala tertuju pada fakta yang sangat mengejutkan. Bahwa ayahnya masih hidup. Malam ini, Sangkala membuka pintu gerbang dan akan menemui sang ayah.
Sangkala pergi ke rumah tua itu. Rumah yang tampak tak ada bedanya dengan masa silam lalu, bahkan saat ini rumah itu sudah jauh dari kata "layak" untuk dihuni. Ia menembus dinding dingin, tepat di dalam rumah itu terlihat seorang laki-laki tua tengah sangat terkejutnya melihat kehadiran Sangkala, anaknya yang mati beberapa tahun lalu.
Sangkala nyaris tak bisa lagi mengenalinya. Sang ayah sama sekali keluar dari pengkarakterannya selama ini. Keangkuhan yang pernah bersarang di jiwanya telah lenyap menjadi sekam. Begitu Sangkala muncul di hadapannya, matanya menjadi berair, bahkan tanpa hentinya keluar.
Sang ayah ambruk dan berlutut, menangis, mengiba meminta maaf pada Sangkala. Gadis itupun terpelatuk dan turut terisak bersamanya.
"Naaak...., Sangkalaaa..."
Sangkalaaa...
Anakku, Sangkalaaa...
Hikss... maaf...
Dari caranya dan nadanya berbicara untuk meminta maaf, terlihat benar kalau dirinya benar-benar menyesali semua sikapnya selama mereka bersama. Namun, di saat yang sama, Sangkala pun mendapatkan gambaran masa silam atas sikap-sikapnya yang lancang dan egois.
Sikap keras sang ayah telah memicu rasa takut dan tunduk yang sangat tak wajar dari sang ibu, lalu ibunya melampiaskannya pada sang buah hati, Sangkala. Sikap Sangkala menjadi berontak hingga membakar kelembutan hati sang ibu, dan kembali berimbas pada makin kerasnya sikap sang ayah. Lingkaran setan, semua berakhir dengan kematian Sangkala, lalu disusul oleh kematian sang ibu.
Sangkala melepas pelukan dari ayahnya, tiba-tiba sang ayah menyerahkan sesuatu, yaitu anting kanan milik Sangkala. Benda kecil itu tertinggal di tempat kejadian perkara, dan menjadi satu-satunya barang yang tersisa dari kepalanya yang lenyap.
Begitu benda kecil itu Sangkala genggam, ayahnya wafat seketika. Ia pun meninggalkan jasad sang ayah di sana, dan membiarkan para warga yang menemukan jasadnya jika sudah takdirnya untuk ditemukan di kedalaman pedesaan.
Dengan mata yang berair, Sangkala pun pergi dari sana, kembali ketempatnya. Di gedung sekolah ia menemui Dieter yang menunjukkan benda kecil itu padanya.
Sudah selesai, Sangkala...
Jika kau memasang anting itu ditelinga kananmu, kau akan pergi menyeberang ke alam kekal...
Kau akan damai di sisi Tuhan...
Sangkala menatap anting itu pilu. "Kau tahu Dieter"
"Selama ini aku berpikir kalau aku adalah korban yang harus menuntut balas. Ternyata, justru akulah pelaku yang telah menjatuhkan kedua orangtuaku sebagai korban."
Sangkala tersenyum, "menyeberang?"
"Aku tak akan pernah menyeberang, Dieter. Aku akan tetap di sini, menebus dosa dan kesalahanku. Menolong sebanyak mungkin arwah yang terjebak di dimensi ini untuk pindah ke alam kedamaian."
Sangkala pun meletakkan anting itu di hadapan Dieter, ia membakar hangus antingnya dengan segumpal kertas. Dengan niat untuk membantu para arwah untuk menebus dosanya. Setelah itu ia melenggang pergi dari hadapan Dieter. Namun, Sangkala tak menyadari bahwa anting yang hangus terbakar itu menyisakan jarum kecil dari antingnya.
...****************...
Di sana, saat ini Sangkala tengah duduk sembari mengayun-ayunkan kakinya di atas dahan pohon jepun. Ia memperhatikan Chakra yang tengah mencabuti alang-alang yang menjulang di kuburan seseorang.
"Ada satu hal yang masih menjadi misteri bagiku, Chakra..." Sangkala membuka pembicaraan
"Fakta bahwa aku adalah satu dari generasi emas anak indigo. Sejauh yang berhasil kuingat, aku tak bisa melihat alam gaib."
"Ada satu hal yang belum aku ceritakan padamu, Sangkala." Jawab Chakra, ia menceritakan hal kejadian silam pada Sangkala.
Waktu usia Chakra sekitar lima tahunan, ia mengalami kejadian mistis, peristiwa yang mengubah jalan hidupnya. Malam itu, Chakra mendapat serangan dari serombongan makhluk hitam. Kakek dan ibunya kewalahan melindungi Chakra saat itu.
Tapi tiba-tiba, muncul seberkas sinar terang dari antah berantah, mengusir para makhluk hitam itu dengan cahayanya. Chakra melihat cahaya itu mewujud menjadi sesosok gadis.
"Sosokmu, Sangkala."
"Setelah kau menghilang, energi gaib menitis padaku. Rupanya makhluk-makhluk hitam itu diutus untuk menghalangi proses penitisanku."
Chakra menghela napas. "Peristiwa itu terjadi dua belas tahun yang lalu, persis satu minggu sebelum hari kematianmu."
"Sejak hari itu, aku jadi terhubung dengan dunia gaib karena aku berhasil dititis oleh seseorang di masa silam..."
Selama hidup, Sangkala meragasukma di dalam tidurnya. Dan tanpa gadis itu sadari, aksinya pada malam itu telah menyelamatkan nyawa seorang anak lelaki yang dua belas tahun kemudian bertemu dengan sosok hantu gadis yang pernah menyelamatkannya.
"Usia kita mungkin terpaut 11 tahun, Chakra. Kita pun terpisah dimensi. Tapi keadilan dan kedamaian di dimensi setelah kehidupan ini harus kita tegakkan bersama."
Chakra tersenyum, terakhir ia menyiramkan air kembang serta melantukan doa pada kuburan di hadapannya. Kuburan dengan batu nisan bernama...
...SANGKALA INKAR DHARMA...
...---...
...29 FEBRUARI 1992...
...---...
...13 SEPTEMBER 2008...
...****************...
...Catatan ke-23...
...Dear, semesta......
...Aku tahu perjuanganku masih belum usai. Masih banyak gugusan misteri di balik tabir ketidaktahuanku pada dimensi fana ini. Namun, apa pun uang akan kuhadapi di lembar selanjutnya, aku sudah siap. ...
...Salam, ...
...Sangkala Inkar Dharma....