![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Di kota yang padat akan penduduk, terdapat tempat wisata bermain untuk orang dewasa juga anak-anak. Waterpark besar yang dibangun di tepi Kabupaten kota, sesungguhnya berdiri di atas gelanggang berdarah.
Cerita menyayat itu lambat laun terkubur oleh waktu. Namun, bagaimana pun jua, jejak misteri yang tertinggal takkan terhapus begitu saja.
Di Waterpark yang dulunya bekas kolam renang militer itu sering terjadi peristiwa mistik. Peristiwa yang menimpa para pengunjung dengan wujud yang serupa.
Ketika sedang berenang, ada tangan dingin yang tiba-tiba mencengkeram kaki para pengunjung di sana. Lalu muncullah hantu remaja laki-laki berkulit biru pucat dari dasar kolam yang gelap.
Dengan semakin banyaknya korban yang berjatuhan, pihak pengelola kolam renang pun mencoba melakukan tindakan.
Mistis dilawan dengan mistis.
Selang beberapa waktu kemudian, seorang paranormal disewa untuk melenyapkan misteri kemunculan hantu remaja yang sering mengganggu para pengunjung.
Seorang suhu beretnis Tionghoa ditugaskan memindahkan arwah gentayangan itu. Dengan ritual yang damai, hantu remaja laki-laki itu tak lagi bersemayam di dasar kolam yang gelap.
Peristiwa itu terjadi tiga tahun silam. Dan sejak saat itu pula arwahnya muncul di area gedung sekolah. Di sebuah kolam keruh yang muncul begitu saja bersamaan dengan kepindahannya.
Namun, sebagaimana yang sudah bisa Sangkala terka, hantu itu hanya dibuang ke sekolah itu. Dipindahkan, bukannya diseberangkan.
Tentunya ada hal besar yang mengganjal di jembatan kisahnya, yang menahan arwahnya di alam dunia ini. Kisah hidupnya pun terungkap melalui catatan di buku milik pak guru.
Salman, nama anak laki-laki itu. Meski lahir dari rahim seorang guru renang, prestasi Salman tak segemilang teman-teman sepantarannya.
Sebagai orang tua tunggal, ibunya yang seorang mantan atlet tak bisa menerima kekalahan-kekalahan anaknya. Kemenangan adalah harga mutlak bagi sang ibunda.
Bukan semata karena sebuah kebanggaan, tapi juga harga diri menahan malu di hadapan para orang tua siswa renang lain yang menyaksikan kehebatannya sebagai pelatih.
Bagi remaja itu, rendahnya penghargaan sang ibu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kekalahannya sendiri. Dari hari ke hari, tuntutan kemenangan demi menjaga nama baik ibunya kian membuatnya tertekan.
Lambat laun, harapan sang bunda menjelma menjadi paksaan. Puncak kemelut kisah Salman terjadi pada hari itu.
Menjelang pertandingan antar sekolah, sang bunda kembali menguji kecepatannya. Salman tahu, jika ia sampai gagal memenuhi standar yang diinginkan oleh bundanya, pengakuan dari kata 'anak' atas dirinya bisa hilang.
Nahasnya, yang ia takutkan justru terjadi. Kecepatan Salman jauh dari standar bundanya. Remaja itu pun sadar bahwa ia tak akan pernah diikutkan ke dalam tim renang.
Yang tak diketahui olehnya adalah, bahwa kolam itu sedang dalam proses pengurasan kala dirinya melompat ke dalamnya.
Suasana gelap dan gundahnya hati Salman mengaburkan perhatiannya. Salman tersedot ke dalam pusaran air di dasar kolam yang gelap.Tubuhnya lantas menyumbat lubang pembuangan air dan tertahan di sana.
Pertolongan datang terlambat. Salman wafat kehabisan napas dan meminum terlalu banyak air kolam yang keruh. Jasadnya ditemukan telah membiru dengan kondisi yang mengerikan.
Remaja itu mati oleh patah hati. Namun, jiwa dan karakternya sudah lebih dulu dihabisi oleh ibunya sendiri. Arwah Salman memang sudah memaafkan sikap ibunya, sebab ia sadar kematiannya di masa silam tidak murni kesalahan sang bunda.
Tapi Sangkala mempunyai pendapat lain. Setidaknya, Sangkala ingin ibunya merasakan apa yang Salman rasakan, walau hanya lewat mimpi belaka.
Ia harus merasakan dalamnya kesedihan dan ketakutan sang putra di detik-detik ujung napasnya. Dan lewat pengalaman astral itu, segenap penyesalan sang bunda pun kian menguat, membuatnya sadar akan kesalahan sikapnya pada Salman telah memaksakan egonya selama anaknya hidup.
Imbasnya, sang bunda berani membuang sesuatu yang selama ini menghalangi arwah anaknya untuk pergi menyeberang.
Medali itu.
Benda yang sepatutnya menjadi kebanggaan namun justru berakhir menjadi dinding penghalang. Malam itu, setelah semua yang terjadi, akhirnya tak ada lagi paksaan bagi Salman.
Arwahnya bisa beristirahat dengan damai.
...****************...
...Catatan Hari Ke-7...
...Dear, diary......
...Banyak orangtua yang tanpa sadar tengah membunuh karakter darah dagingnya sendiri dengan dalih menyayanginya....
...Ego telah membutakan hati mereka, harga diri telah menumpulkan hati mereka. ...
...Ketika mereka sadar, biasanya semua sudah terlambat......
^^^-Sangkala^^^