![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Saat ini, Sangkala dan pak guru berhadapan dengan sesosok makhluk yang menolak untuk dipindahkan oleh Chakra ke dalam koleksi cincin pusakanya. Makhluk itu berbicara dalam bahasa dedemit.
Jrangkong, namanya...
Bersama para penghuni pusaka lain, makhluk itu dibuang ke ruang rahasia itu pada pertengahan tahun lima puluhan oleh kakek Ki Haryo Krangkang.
Makhluk itu ditugaskan oleh tuannya untuk menjaga sebuah kotak besi sakral. Setelah Sangkala mendapatkan izin dari makhluk itu, ia pun mencoba membuka kotak besi di hadapannya.
Setelah Sangkala membuka kotak besi itu, terdapat banyak sekali gulungan kitab-kitab kuno, ditulis dalam aksara Bhurloka. Pak guru mencoba membacanya. Dan isinya sungguh-sungguh mencengangkan.
Catatan gulungan itu dimulai dari abad ke dua belas. Kisah tentang sembilan manusia pilihan yang tergabung dalam kelompok "Sangha Balasradha".
Para penjaga kitab ramalan...
Mereka dipilih karena kesaktian mereka dalam me-ragasukma membaca kitab langit. Dibentuk langsung oleh Prabu Jayabaya pada masa akhir hayat di Balai Pamokhsan-nya.
*Pamokhsan : Tempat Mokhsa ( Melepaskan raga duniawi )
Mereka pun di pisah menjadi tiga kelompok. Tiga murid ditugasi menjaga kitab "Svarloka". Kitab ramalan gugusan bencana alam besar yang akan terjadi di bumi nusantara.
Tiga murid lain ditugasi menjaga kitab "Bhuvarloka". Kitab ramalan para pemimpin di nusantara dan produk budaya yang akan tercipta.
Tiga murid sisanya bertugas menjaga kitab "Bhurloka". Kitab ramalan perkongsian antara dunia astral dengan para manusia di Nusantara.
Namun, dua abad setelah Jayabaya mokhsa. Seorang murid dari "Balasradha Bhurloka" berkhianat. Ia membantai dan menghabisi guru- guru yang berada di sana.
Usai membantai ketiga gurunya, ia kabur membawa kitab yang seharusnya ia jaga. Dua murid lain yang di calonkan menjadi penerus Balasradha pun memburu pengkhianat itu.
Namun sayangnya, ia keburu "menjual" isi kitab itu pada seorang dukun yang datang dari Negeri Timur Tengah. Dukun dengan simbol bintang pada liontin kalung yang ia kenakan.
Dengan menggenggam kitab itu, dia jadi bisa membaca ramalan peristiwa di masa depan. Peristiwa yang sekiranya bisa menghalangi langkahnya untuk hidup kekal di dunia.
Setelah selesai berkutik dengan kitab itu, dukun itu pun membakar kitabnya usai keseluruhan isinya ia lahap. Lalu ia membentuk sepasukan pengikut dari golongan orang-orang sakti.
Para pendekar ilmu hitam yang bisa berkelana di dunia astral ke masa depan untuk membunuh sekumpulan orang yang sudah disebut di dalam kitab ramalan.
Mereka di juluki "Pasukan Penghalang Takdir"...
Tugas mereka membantai orang- orang yang di ramalkan akan menghalangi niat sang dukun untuk hidup kekal. Satu per satu nyawa generasi emas anak indigo dibunuh.
Lalu arwahnya di kunci dengan sebuah simbol agar tak bisa kembali meraih kekuatannya di dunia astral. Simbol yang sama dengan liontin di kalung sang dukun.
Atau yang di sebut, "simbol pengunci"...
Dengan lenyapnya para arwah-arwah anak indigo itu, sang dukun bisa meneruskan misi utamanya bersama para pengikutnya di nusantara.
Dan sampai di sinilah catatan di gulungan yang dijaga oleh Jrangkong. Simbol itu, muncul bersamaan dengan kebangkitan Sangkala di malam itu.
Ternyata Sangkala dengan sengaja dikunci dengan kekuatan hitam...
"Satu langkah lagi, aku bisa mendapatkan kejelasan masa silamku, Dieter. Tapi semakin dekat, aku jadi makin takut untuk menerima kenyataan takdirku." Ujar Sangkala gelisah
"Aku pernah bilang kalau aku sudah hidup ratusan tahun di tempat ini, bukan? Sebab aku pernah terjebak saat berkelana ke masa silam." Sahut Dieter juga menjelaskan
"Dengan kekuatan astral yang tertanam di titik ini, aku berhasil sampai di satu masa..."
Dieter bercerita, pada sebuah ruang astral di zaman silam itu, Dieter bertemu dengan dua orang laki-laki yang bersinar. Ia segera didekati oleh kedua laki-laki itu, karena Dieter membawa energi dari masa depan. Mereka pun saling berkenalan.
Mereka mengaku sebagai pewaris penjaga kitab ramalan milik "Prabu Jayabaya". Mereka pun bekerja sama menyusun kepingan kisah yang sudah dicuri oleh para penghalang takdir. Untuk menyelamatkan sebanyak mungkin arwah para pemilik kekuatan khusus yang mereka bantai.
Namun, selama ratusan tahun di dimensi itu, mereka termasuk Dieter banyak menjumpai kesulitan karena gerakan mereka pun sudah diramalkan.
Akhirnya, Dieter mengusulkan untuk maju ke zaman saat ini ( modern ) dan menyelamatkan satu-satunya sisa generasi emas indigo agar arwahnya bisa mereka tahan di tempat itu.
Arwah Sangkala...
"Ja-jadi itu sebabnya kamu langsung bisa mengenaliku saat aku dibangkitkan?" Tanya Sangkala cukup terkejutnya dengan kenyataan yang baru saja ia terima.
"Benar. Kemampuan dan kekuatan kamu di dunia astral ini membuktikan bahwa kamu adalah satu dari prajurit yang tersisa di golongan generasi emas anak-anak indigo. Sangkala..."
...****************...
...Catatan Hari Ke-17 ...
...Dear, diary... ...
...Tak pernah kusangka misteri yang ada ternyata jauh lebih besar dari pada keberadaanku sendiri......
^^^-Sangkala ^^^