![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Malam hari ini ada yang terasa lain. Di kala Sangkala dan pak guru tengah mempelajari cara untuk mengembalikan tubuh Dieter, Sangkala mencium ada sesuatu yang datang ke tempat mereka.
Bau manusia...
Ketika Sangkala pergi menuju ke arah sumber bebauan itu, ia terkejut. Saat ini Sangkala berdiri di depan gerbang sekolah. Dan netrnya melihat sosok Chakra dengan raga aslinya.
Kali ini ia tak muncul dengan tubuh yang bersinar. Artinya, ia datang dengan tubuh manusianya. Sangkala lantas mengajak Chakra untuk masuk dan berkeliling.
Chakra pun segera menjadi pusat perhatian para penghuni gedung sekolah bekas yang angker itu.
Anehnya, tak ada satu pun penghuni tempat itu yang berani muncul untuk menakut-nakuti Chakra. Ketika Sangkala bertanya, ia menjawab..
"Di dunia astral ini, yang berlaku adalah hukum rimba, Sangkala. Yang paling diakui dan di takuti adalah makhluk yang paling kuat atau yang paling tua..."
"Dan dua unsur itu ada pada diriku." Lanjutnya
Sangkala memasang raut wajah bingung. "Maksud kamu?"
Chakra menarik napasnya dalam-dalam sembari menutup kedua matanya, dengan satu jari telunjuk ia menyentuh kening miliknya. Dan dalam hitungan detik ia kembali membuka matanya.
"Lihat ke atas." Ucap Chakra
Sangkala mendongakkan kepalanya, ia terkejut kala melihat ular putih dengan begitu besarnya melayang di langit. Ular yang begitu besar.
"A-APA ITU?!"
Itu adalah makhluk yang menjagaku. Namanya Kyai Karang Jagasura."
Chakra menjelaskan bahwa makhluk itu usianya sudah mencapai ribuan tahun, takkan sebanding dengan usia semua makhluk yang terkurung di gedung sekolah itu.
Setelah mendengar tuturan dari Chakra, Sangkala sekarang paham, kenapa makhluk-makhluk yang ada di sekolah itu tak berani mendekati Chakra.
Ia kemudian mengajak Chakra untuk duduk sejenak seraya menceritakan tentang dirinya kepada laki-laki yang mempunyai khodam tersebut.
"Jadi.., di antara semua penghuni tempat ini, hanya kamu yang masa lalunya terkunci?" Tanya Chakra setelah mendengar cerita penjelasan dari Sangkala.
"Begitulah.."
Sangkala tersenyum sendu. "Mungkin ini kutukan yang harus aku terima."
"Sekarang aku sedang berusaha mengembalikan arwah-arwah penasaran yang terjebak di sini untuk kembali ke rumah aslinya." Lanjutnya
Chakra menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak semua yan ada di tempat ini adalah arwah penasaran, Sangkala. Aku dapat merasakan aura-aura makhluk astral lain."
"Para penunggu pusaka..."
"Penunggu pusaka?" Sangkala membelalakkan matanya
"Ya. Mereka tersebar di berbagai sudut. Aku dapat merasakan energi astral mereka semakin melemah karena lama tak diberi makan."
Chakra berdiri dari posisi duduknya, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk memapah Sangkala agar berdiri.
Hingga pada satu titik, Chakra berhenti.
Chakra mulai duduk bersila dan bersemadi. Setelah beberapa saat, tangan kanannya sepeti menggapai udara hampa. Lalu, sebongkah gerbang kayu besar muncul begitu saja dari pekatnya semak.
Dan malam itu, sebagai sesama penghuni alam astral, untuk pertama kalinya Sangkala melihat mereka. Yaitu para penunggu pusaka.
Dari lemahnya energi yang terpancar, terasa sekali kalau mereka sudah lama terkurung di tempat itu. Dan secara mengejutkan, Chakra menawarkan kepada mereka untuk di pindahkan ke koleksi pusaka yang Chakra miliki.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka semua pun setuju. Dari dalam tasnya, Chakra mengeluarkan cincin-cincin bermata batu.
Cincin-cincin itu Chakra dapatkan dari hasil berburu pusaka yang di tinggalkan oleh para pemiliknya. Sebagian benda itu dibuang karena dianggap mendatangkan energi negatif.
Sebagian ditolak oleh sang ahli waris yang masih satu keturunan dengan pemilik sebelumnya. Akhirnya pusaka itu pun terlantar, dan penghuni di dalamnya semakin kehilangan energi. Sepeti mereka, terbuang ke tempat sekolah pembuangan itu dari tempat kediamannya.
Para pewaris pusaka rata-rata tidak tahu, dan sebagian lagi menolak untuk menerima benda warisan yang mengandung energi astral.
Chakra kemudian mengumpulkannya untuk kembali menguatkan energinya, sehingga benda keramat itu bisa menjelma menjadi istana yang layak.
Lalu, usai sebait Chakra merapalkan mantra, satu per satu para penghuni pusaka itu masuk ke dalam cincin milik laki-laki itu.
Setelah melakukan pemanggilan dan memasukkan penunggu pusaka ke dalam cincin milik Chakra. Mereka pun segera pergi dari sana.
"Aneh.., semua penghuni tempat ini seperti takut sama kamu, tapi aku enggak." Ucap Sangkala
"Hmm. Mungkin karena energi kita masih satu renonansi. Atau mungkin.., kamu menyimpan perasaan lain kepadaku." Goda Chakra, melihat pipi Sangkala yang sedikit memerah, ia pun tersenyum.
Dan setelah mengucapkan itu, Chakra pergi begitu saja.
Sayangnya Chakra tidak menyadari kalau masih ada yang tertinggal. Sesosok makhluk yang enggan ikut di masukkan ke dalam pusaka.
Sosok penunggu dengan tangan yang bagaikan ranting dan memiliki tubuh yang besar, serta mata dan hidungnya yang berlubang.
Sosok itu keluar dengan senyum menyeramkannya.
...****************...
...Catatan Hari Ke-16...
...Dear, diary......
...Aku sudah menduga jika ternyata lelaki itu punya keistimewaan yang ia sembunyikan. Kini aku sepenuhnya yakin kau kehebatan yang ia miliki pasti punya jejak masa lampau yang luar biasa. ...
...Chakra kemungkinan besar berasal dari golongan "Ningrat"....
...Dan entah mengapa aku dapat merasakan resonansi gelombang yang sama. Gelombang energi dan mungkin juga gelombang yang saat ini tengah meletup-letup dalam hati......
^^^-Sangkala^^^