![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Seorang gadis tampak mengerjapkan matanya beberapa kali. Rasanya seperti terbangun di tengah-tengah mimpi. Gadis itu resah menerka-nerka, kepalanya dipenuhi oleh tanda tanya.
Netra gadis itu menari-nari di segala penjuru ruangan. Ia ada dimana? Dan siapa dia?
Gadis itu menatap kosong ruang kelas yang sangat sunyi, keheningan menyelimuti dan berbagai pertanyaan tak bisa ia ungkapkan. Hanya simbol bintang yang berada di hadapannya. Dan keberadaannya sama sekali tak menguraikan misteri yang melanda sang gadis.
Sebaliknya, misteri yang ada kini menjadi berlipat ganda. Hanya suara denting jam yang terdengar.
Ketakutan, gadis itu sangat takut.
Pukul setengah satu malam, gadis itu berlarian memburu di sepanjang koridor sekolah yang lengang dengan milyaran pertanyaan dalam kepalanya.
Semakin jauh ia berlari, tekanan udara semakin menurun. Ada perubahan hawa yang sangat tak wajar, kian menyuburkan rasa takut di dalam dadanya.
Gadis itu seketika berhenti berlari kala mendapati banyak darah berceceran di lantai, darah yang berasal dari ambang pintu kelas.
Ia mendekat dan mengintip di celah pintu yang tak tertutup sempurna. Dadanya berdetak kencang tak karuan saat netranya melihat banyak sosok para murid tanpa kepala.
Tak kuat untuk berlama-lama melihat tubuh tanpa kepala dengan darah dimana-mana, ia segera berlari dari sana. Menahan rasa mual karena sosok tadi dan bau yang menyengat.
Apa yang barusan gadis itu lihat?
Tempat apa ini sebenarnya?
Ada yang tidak beres dengan penglihatan gadis itu, ada yang tidak beres dengan tempat ini!
Tanpa mengenal arah gadis itu terus berlari dan berlari, hingga ia tersandung dan terjatuh di atas dinginnya lantai. Suara deheman berat berhasil mengalihkan pandangannya, ia menatap sesosok tangan yang begitu besar sedang membuka pintu di hadapannya.
Melihat itu pupil matanya bergetar hebat. Lagi dan lagi gadis itu berlari menjauh dari sosok-sosok yang ia temui. Ia berteriak meminta tolong, namun suaranya tak bisa untuk dikeluarkan.
Di ujung koridor gadis itu kembali melihat sesosok wanita dengan lilin yang menyala di tangannya. Dari kejauhan wanita itu terlihat seperti wanita normal yang membawa sebuah lilin, namun kian lama wanita itu mendekat, terlihat sosoknya yang sesungguhnya. Bagian bawah dari tubuh wanita itu dipenuhi oleh tangan yang berlendir dan beberapa organ yang keluar.
Gadis itu berlari berlawanan arah dari sesosok wanita tadi, ia harus segera pergi dari tempat terkutuk ini. Ia mungkin sudah gila, ini semua pasti cuma mimpi. Gadis itu harus segera bangun dari tidurnya.
Gadis itu berlari menghampiri gerbang sekolah yang saat ini ada tepat dihadapannya. Ia berpikir, akhirnya ia bisa kabur dari tempat itu. Namun kesenangan itu sirna kala ia mendapati gerbangnya tak bisa dibuka. Bahkan sisi temboknya pun tak bisa ia panjat.
Penjual itu menyipitkan matanya, menatap ke arah dalam gerbang sekolah. Entah apa yang penjual itu lihat hingga membuatnya berlari ketakutan dari sana meninggalkan sang gadis seorang diri yang masih berteriak meminta pertolongan.
Gadis itu memukul-mukul gerbang sekolah dan bertanya-tanya mengapa penjual itu terlihat sangat takut akan dirinya.
"Hei"
Gadis itu spontan membalikkan badannya saat seseorang dengan suara serak memanggilnya dari arah belakang. Gadis itu tersungkur kebelakang seraya menyeret kakinya untuk menjauh dari sosok di hadapannya saat ini.
"Selamat bergabung"
Suara serak itu berasal dari seorang anak laki-laki yang terlihat normal di wajahnya, namun bagian tubuhnya terlihat transparan dengan sedikit organ yang menonjol.
"Bergabung? Apa maksudnya?"
...****************...
...Catatan Hari Ke-0...
...Dear, diary......
...Angin berembus pelan mendesir dedaunan kering dikejauhan. Aku tak bisa menerka, apa kiranya takdir yang sedang ku terima. Ini seperti mimpi, tapi bukan. Sepertinya nyata, tapi sangat kusangsikan. Ini bukan keduanya....
...Catatan hari pertamaku kutulis dengan tinta desiran darah yang mengalir dingin. Bersama air mata ketakutan dan kebingungan, kata-kata ini kurangkai. Seribu pertanyaan menjadi teman membunuh waktu....
...Aku ingin segera melihat matahari terbit, menyaksikan hari berganti. Melihatku terbangun di sebuah kamar yang hangat dengan sepenuh kesadaranku....
...Siapa pun aku yang sebenarnya, aku ingin tahu......
^^^-Sangkala^^^