![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Pada malam itu, Sangkala merasa ada yang berubah di dalam dirinya. Energi yang mengalir di raga fananya seperti meluap-luap.
Pak guru datang ke hadapan Sangkala dan menjelaskan, mungkin yang Sangkala rasakan saat ini ada hubungannya dengan apa yang gadis itu lakukan kemarin.
Penyeberangan puluhan arwah yang terjebak di dimensi hantu itu ke alam kedamaian. Dan sepertinya kekuatan itu adalah hadiah dari Tuhan.
Dan pada malam itu, Sangkala menjadi bisa melihat penampakan lain di angkasa. Penampakan yang sebelumnya tak terlihat karena daya pada tubuh Sangkala yang lemah.
Sangkala bisa melihat sebuah entitas sihir hitam.
Santet.
Sangkala harus mengejar keris yang terbang tepat melewati kepalanya. Sepanjang perjalanan, hawa jahat menguar dari senjata tajam yang terbang itu.
Sangkala melesat menembus pekatnya malam nyaris satu jam lamanya. Santet itu lantas berhenti di atas sebuah kompleks perumahan mewah.
Siapakah yang menjadi sasaran dari santet itu?
Di salah satu ruangan dalam rumah mewah itu, Sangkala merasakan tekanan aura kegelapan yang begitu besar. Netra Sangkala melihat seorang wanita kurus kering tengah terbaring di atas ranjang, kontras dengan nuansa mewah bangunan itu.
Sepertinya wanita itu adalah istri dari seorang pejabat. Sangkala menutup kedua matanya, ia merasakan energi yang besar masuk ke dalam dirinya.
Begitu kedua mata iblisnya terbuka, Sangkala dapat melihat efek serangan santet itu di tubuh sang wanita tak berdaya di hadapannya.
Ternyata banyak keris yang tertancap di tubuh wanita itu, hingga menyusup sedalam-dalamnya.
Biadab, Aku harus mencari dalangnya. Emosi Sangkala memuncak
Dengan tangan kosong, Sangkala mencabut satu per satu keris yang tertancap di perut wanita itu hingga membuat sang wanita berteriak histeris kesakitan.
Dari yang semulanya perut itu membesar bak tiga kali lipat balon, hingga mulai mengempis seiring menghilangnya keris yang tertancap.
Pusaka-pusaka kegelapan itu, Sangkala harus mencabutnya.
Malam itu, dengan berkurangnya pusaka yang tertancap, kondisi raga wanita itu pun kian membaik. Sangkala membebaskan belenggu santet itu dari sang wanita tak berdaya.
Namun, tepat di saat pusaka terakhir hendak Sangkala cabut. Ia merasakan hawa yang tak menyenangkan mendekatinya.
Ah! Perasaan ku kenapa jadi gak enak?
BRAAK!
Sangkala sedikit terpental kebelakang kala datangnya seorang nenek-nenek dengan tinggi tubuhnya yang tak seperti orang pada umumnya.
Wajah nenek itu terlihat murka dengan tatapan menyalanya serta wajah dengan dominan luka yang berulat.
A-apa itu?!
"Hi hi hi hi... Siapa hantu bocah ini? Mengapa kau cabut pusaka milikku, he?" Telinga Sangkala berdengung kala mendengar suara serak yang rasanya tak layak untuk di dengar.
"TIDAK SOPAN, KAMU..." Nenek itu berteriak
"Heh, rupanya ini ulahmu, nenek sihir!"
"Apa salah wanita ini? Kenapa kau tega mem—"
"DIAM!!"
"Kecil-kecil banyak bicara juga kau!" Balas nenek itu memotong pertanyaan Sangkala
"Tancapkan kembali ke tempat semula, bocah! Kalau tidak, menyesal kau nanti..!" Lanjutnya dengan ancaman
Saat nenek itu membuka telapak tangannya dan mentitahkan Sangkala, gadis itu melihat simbol dengan gambar bintang dan lingkaran yang sama dengan simbol yang ada di telapak tangan milik wanita tanpa kepala.
Apakah dukun betina ini adalah pemujanya?!
Tak menjalankan apa yang ditugaskan nenek itu, membuat dukun itu geram. Dan dengan ilmunya ia mendorong Sangkala tanpa menyentuh hingga membuat gadis itu terpental jatuh kebelakang.
Sangkala meringis sakit. "Uurgh!"
"Hi hi hi... Baru kali ini aku jumpa ada hantu ikut campur urusan dukun. Ku kunci ke dalam botol minyak angin, baru tau rasa kau..!"
Dengan susah payah Sangkala berdiri dengan sisa tenaganya. Baru pertama kalinya Sangkala benar-benar merasa di serang sebagai sesosok hantu.
Ternyata dukun itu masuk ke dunia astral sehingga bisa melukai Sangkala. Pantas saja mukanya terlihat membusuk dan menjijikkan.
"Hi hi hi... Harus ada hukuman atas kelancanganmu, hantu bocah!"
"UHKK-"
Dengan satu tangan, dukun itu berhasil membuat Sangkala berlutut tanpa menyentuhnya. Sangkala merasa tercekik, lehernya terasa seperti akan di patahkan.
"AHKK- HH. DIETE- UUGH!"
"Kau datang ke tempat yang salah bocah! Akan kubuat kau merasakan penderitaan hakiki tanpa pernah bertemu dengan ajalmu. Hi hi hi!"
"Kau takkan bisa ber—"
CRAKK
Dengan keberanian yang besar, Sangkala memenggal kepalanya sendiri agar tak terkena lebih dalam lagi ilmu hitam milik sang dukun.
Sekarang tubuh dan kepala Sangkala terpisah. Darah bercucuran dimana-mana. Kepalanya ia bawa di kedua tangannya.
Nenek itu bergeming sejenak karena terkejut sebelum ia tertawa. "Hi hi hi... Usaha yang bagus, bocah!"
"Tapi jangan lupa, kau berada di daerah KEKUASAANKU!!"
Dukun itu kembali melayangkan sihirnya kepada Sangkala membuatnya lagi dan lagi gadis itu terjatuh. Kepalanya yang berada di tangannya itu terpental tepat di hadapan sang dukun.
"HI HI HIII HIIHIII....!!"
Nenek itu menginjak-injak kepala Sangkala dengan kaki busuknya, menendang dan memainkannya membuat Sangkala meringis penuh sakit.
Saat sudah puas bermain, dukun itu mulai melayangkan tongkat dan kerisnya tepat di kepala Sangkala.
Dan untungnya pertolongan datang tepat waktu.
Sinar kehangatan mulai Sangkala rasakan.
...****************...
...Catatan Hari Ke-14 ...
...Dear, diary......
...Dari mata seorang hantu, aku jadi lebih terbuka melihat kekejian hati manusia. Makhluk yang sering dibanggakan sebagai ciptaan yang luhur ternyata bisa menjelma menjadi setan....
...Dengan memanfaatkan dunia hitam, mereka tega menyakiti sesamanya. Mereka tak lagi mengindahkan kemanusiaan untuk berkongsi dengan kegelapan demi memenuhi hawa nafsu belaka....
...Namun, meskipun dalam pembuktian kali ini kutemui sedikit masalah, ternyata takdir menjawab doaku. Bahwa aku kembali dipertemukan dengannya......
^^^-Sangkala ^^^