SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 16. Pusaka Kegelapan [ Bagian 2 ]


Cahaya itu berdenyar menyilaukan, kemunculannya disertai letupan energi yang amat dahsyat.


Chakra.


"Cha-Chakra..!"


Chakra meletakkan kepala Sangkala di dekat raga gadis itu. Kemudian segera ia berjalan mendekati dukun yang terpental tak jauh dari sana.


"Chakra, heii!!"


"Tetap di situ." Titah Chakra


"Cepat tolong aku! Tolong satukan kepala dan tubuhku. Aku bisa—"


"Diam di sana! Biar aku yang bereskan dukun betina itu!"


"Cuih!" Dukun itu meludah ke arah samping


"Muncul lagi seekor bocah. Kau mau mati untuk pacar hantu mu, bocah?!" Lanjut sang dukun dengan nada yang terdengar mengejek.


Pandangan Chakra menoleh ke arah wanita yang terbaring tak berdaya di atas ranjang tua. Ia melihat pusaka beraura gelap berserakan di samping raga milik wanita tua itu.


Sudah lama Chakra mendengar soal kelompok dukun santet dari kaki gunung Sambas yang di sewa untuk menyingkirkan lawan politik seseorang.


Tapi, wanita tua tak berdaya itu sepertinya sasaran yang salah. Seharusnya sang dukun betina itu mengincar suami dari wanita itu, agar perang dari politiknya seimbang.


"Hi hi hi.., sok tau sekali kau, monyet! Siapa bilang aku mengincar lawan politik, ha? Bocah kayak kamu nggak akan paham hasrat wanita buat memiliki suami orang.." Jawab dukun itu seperti mengetahui isi pikiran Chakra.


"Dari pada ikut campur, sana kencani pacar hantu mu itu!" Lanjutnya


Setelah mengucapkan kalimat itu, sang dukun betina mulai bertindak lebih. Ia menyerang melalui fisik, dengan cepat dukun itu berpindah ke hadapan Chakra.


Tanpa persiapan Chakra di buat tersungkur hebat ke belakang. Ia dicekik melalui fisik beserta ilmu hitam yang menjalar.


Barang-barang serta bingkai foto yang tergantung mulai berjatuhan. Pecah dengan retakan yang tak wajar. Sangkala merasakan energi yang semakin riuh dengan bahaya itu, ia pun mulai bertindak.


Raga milik Sangkala ia satukan kembali dengan kepalanya. Walaupun dengan desis rasa sakit, namun kali ini bukan itu yang terpenting.


Sangkala melihat Chakra yang hampir kehilangan tenaga akibat terus-menerus tercekik. Tangan dukun betina itu masih setia menempel di ceruk leher Chakra dengan ilmu sihirnya.


"TAKKAN KU BIARKAN KAU BALIK KE TUBUHMU BOCAH!"


"UHKK-uhuk!!"


Sangkala saat ini berada di tengah-tengah pilihan yang sulit. Pilihan antara mau menyelamatkan Chakra atau melepaskan santet dari wanita yang terbaring tak berdaya.


Namun melihat situasi yang membuat Sangkala tak memiliki waktu untuk berpikir lebih lama. Tanpa pikir panjang Sangkala berlari ke arah wanita itu.


Ia mulai melepaskan tali santet yang terikat pada kedua kaki wanita itu.


"AHHKKKK!!" Teriak wanita itu seperti kesakitan.


Mendengar teriakan dari ibunya, seorang gadis dengan tergesa-gesa menghampiri sang ibunda. Ia membuka pintu kamar ibunya.


"Ibu, ada apa?!!"


Mata gadis itu melotot tak percaya. "Ibu, kenapa kamarnya bisa berantakan begini? I-ibu sudah bisa duduk?"


"Dek, tolong papah Ibu ke kamar mandi.., cepat!" Titah wanita itu tak menghiraukan pertanyaan dan ekspresi anaknya yang terkejut.


"Cepat. Ibu mau bersuci, ibu mau berdoa!" Lanjutnya


"I-iya bu."


Saat sudah memapah sang ibunda keluar dari ruang kamar, sebuah lemari gantung secara tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya. Membuat sang gadis memekik kaget, namun tidak dengan ibundanya.


"ASTAGA! IBU—"


Ini saatnya Sangkala menyelamatkan Chakra. Ia melompat dan hinggap di kepala dukun wanita yang tinggi itu. Dengan tangannya, Sangkala menutupi pandangan dari sang dukun.


"BIADAB!"


"Uhuk! Uhuk!!" Chakra merasa sedikit lega atas lehernya yang terbebas dari belenggu tangan dan sihir sang dukun.


"TURUN KAU, BOCAH!!" Dukun betina itu marah seraya memukul dan menghempaskan tubuh Sangkala beberapa kali agar terjatuh dari tubuhnya. Namun Sangkala tetap bertahan dengan bergelantung di kepala sang dukun.


Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Chakra mulai menyerang dukun itu dengan ilmu kebatinannya. Dukun itu terpental kesakitan mengeluarkan darah dari mulutnya, hingga Sangkala ikut terpental dari tubuh sang dukun.


BRUUK!


"Ughh. Hei! Kamu mau bunuh aku juga, hah?!!" Teriak Sangkala kesal karena ia terkena sedikit serangan dari Chakra


"Eh? Kamu kan sudah mati." Jawab Chakra


Chakra meraih tongkat dari dukun itu dan mematahkannya menjadi dua bagian.


"KURANG ADAB KAU, BOCAH INGUSAAAN!!"


Dukun itu kembali berhasil menyerang Chakra, ia menyeret kepala Chakra ke lantai.


"ITU TONGKAT PUSAKAKU!!"


"KAU KIRA DENGAN BISA RAGASUKMA LANTAS KAU BERHAK MENCAMPURI URUSAN ORANG LAIN, HAH?! KAU TAKKAN BISA MENANG DI ALAM BHURLOKA INI!!"


Saat mereka sudah kualahan untuk melawan. Tiba-tiba dinding pembatas di ruangan itu mulai runtuh. Terdengar lantunan doa menguar di segala penjuru ruangan.


Wanita itu saat ini tengah berdoa kepada sang pencipta, tangisan pengampunan, penyesalan dan memohon perlindungan ia uraikan. Dengan setulus-tulusnya ia memohon perlindungan dan pengampunan dari sang pencipta.


"ARRGGHH! PANAAS! KEPALAKU! KEPALAKU PANAAAS!!"


Saat dukun itu melemah, Chakra melayangkan kembali serangan kebatinannya tepat di ulu hati sang dukun. Dengan sekali serangan ia berhasil menumbangkan dukun itu. Tentu saja dengan ketulusan doa dari sang wanita tadi.


Kanuragan dukun wanita itu berangsur-angsur lenyap usai Chakra meninju titik ulu hatinya. Tanpa ucapan perpisahan, lelaki yang bersinar itu pergi meninggalkan arena pertempuran.


Kembalinya Sangkala ke sekolah, pak guru mengungkapkan, bahwa wanita yang terbaring lemah di rumah mewah itu adalah istri pejabat yang sedang berusaha disingkirkan dengan ilmu hitam oleh seorang pelakor yang menyewa jasa di dukun wanita tua.


Sejurus dengan matinya sang dukun, santet itu kembali pada orang yang mengirimkannya.


Demikianlah cara santet bekerja.


...----------------...


Di dimensi waktu yang berbeda namun alam yang sama, beberapa wanita dengan tudung di kepalanya tengah melihat jasad dari sang dukun yang mati mengenaskan.


"Ulu hatinya membusuk... lawan dari Nyi Ratih bukan orang sembarangan." Ucap wanita itu


"Huh, aku sudah mengendusnya, Nyi Sunthi. Anak muda itu tidak sendirian.. dan masa lalu mereka berdua masih berhubungan dengan kita." Ujar wanita lainnya


"...Dengan klan Sulastri.., Saatnya kita menuntut balas!"


...****************...


...Catatan Hari Ke-15...


...Dear, diary......


...Sepertinya dunia ilmu hitam begitu pekatnya, hingga makhluk sepertiku sekalipun takkan luput dari marabahaya di dalamnya....


...Kini aku merasa telah diberi tanda....


...Tapi aku bersyukur karena dia pasti akan selalu ada : Chakra......


^^^-Sangkala ^^^