![SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]](https://asset.asean.biz.id/sangkala---diary-pengantar-gugusan-jiwa--.webp)
Seorang pria dengan buku ditangannya muncul, pria tua tanpa wajah itu selalu menampakkan dirinya di sekitar gedung sekolah. Buku di dalam genggamannya itu menyimpan catatan kematian setiap hantu yang terkunci di dalam lingkungan sekolah.
Semuanya, kecuali catatan kematian Sangkala.
Ya, dia adalah hantu dari guru Dieter di masa silam. Nasibnya berkebalikan dengan mereka semua termasuk Sangkala. Ia justru terjebak di luar tanpa bisa masuk, sebagaimana mereka yang di dalam tak bisa keluar.
Sama halnya dengan Dieter, dia mewujud menjadi hantu usai hari pembantaian tentara Jepang dahulu. Namun, kisah yang dialaminya jauh lebih tragis.
Pada Senja hari kejadian itu setelah Dieter tak sadarkan diri, api berkobar di tengah lapangan sekolah. Bangkai para murid dan guru yang dianggap tak layak, ditumpuk dan di bakar.
Mereka yang masih hidup dipaksa untuk menyaksikan pembakaran itu bersama para tentara. Namun untuk mayat pak guru, mereka sudah menyiapkan hukuman khusus.
Atas kelancangan perbuatannya menembak kepala pemimpin tentara itu, mereka mengikat kedua kaki mayat pak guru dengan seutas tali.
Tali itu tersambung pada mobil militer mereka. Mayat pak guru di telungkupkan, menghadapkan wajahnya hingga mencium bumi.
Mayatnya lantas diseret dengan sadis!
Siksaan yang mereka pikir layak diberikan untuk keberanian pak guru. Siksaan setelah kematian.
Dan tidak berhenti sampai di situ, mayat pak guru lantas di santap beramai-ramai di hadapan Dieter dan murid lain yang masih hidup.
Beberapa tahun berikutnya, ia kembali hadir sebagai sosok hantu di depan sekolah. Mukanya yang rata adalah refleksi kematiannya yang paling pedih.
Namun, dibanding semua hantu di gedung ini, pak guru memiliki satu keistimewaan. Karena sebagian wajahnya telah menyatu dengan tanah di sekitar sekolah, ia menjadi bisa membaca semua rahasia yang terjadi di dalam gedung sekolah angker itu.
Rahasia tentang mereka semua. Ia menuliskan semuanya di dalam buku yang selalu berada dalam genggamannya. Rahasia utama mengapa mereka semua berkumpul di sini tanpa bisa keluar.
Pak guru membuka lembar demi lembar buku itu di hadapan Sangkala, karena dengan beginilah cara pak guru untuk berkomunikasi.
Hantu-hantu penasaran di dalam gedung itu dibuang dan dikurung dengan sengaja oleh seorang dukun. Ia adalah keturunan ke-lima dari Trah Leluhur PENJAGAL ARWAH yang di era modern ini masih berprofesi sebagai pemburu hantu.
Ki Haryo Krangkang namanya.
Ia adalah simbol harapan bagi manusia, dan simbol ancaman bagi para arwah penasaran. Dengan kesaktian warisan leluhurnya, ia mampu menjagal para arwah dan menyiksanya.
Orang-orang sering memintanya untuk memindahkan hantu dan jin penunggu yang mendiami suatu tempat. Jika ia tertarik dengan kekuatan jin hasil tangkapannya, ia akan memeliharanya.
Tapi, bagi arwah-arwah penunggu yang dianggapnya hanya sebagai hawa pengganggu. Dia akan membuangnya ke tempat ini, sekolah ini.
Lalu dikunci di dalamnya dengan mantra penjara. Membuat mereka semua terkurung tak berdaya, tak kuasa melawan. Setelah itu ia akan mendapatkan bayaran dari orang-orang yang memakai jasanya.
Ia akan makan dan minum dari hasil kekejamannya kepada bangsa hantu dan jin. Bahkan setelah kematian pun mereka masih disia-siakan.
Pak guru berkata, setiap malam purnama seperti saat ini, Ki Haryo Krangkang akan datang ke gedung sekolah untuk sebuah ritual. Sebuah upacara mistik untuk memperkuat rantai pelindung yang memenjarakan mereka.
Selama bertahun-tahun, tak ada satu pun hantu di gedung ini yang berani melawannya. Ki Haryo Krangkang terlalu kuat untuk dikalahkan, bahkan jika harus dikeroyok beramai-ramai.
Itulah sebabnya, setiap kali ia datang ke dalam gedung sekolah tua itu untuk melakukan ritual, seluruh arwah dan jin akan berlari dan bersembunyi.
Ini tidak adil!
Namun, pak guru mempunyai kabar baik. Ki Haryo Krangkang memang tak bisa diserang oleh kami, para arwah dan para jin. Tapi ia bisa diserang oleh sesama manusia dengan kekuatan fisik.
"Aku punya ide!" Pikir Sangkala
Sangkala akan merasuki tubuh seseorang. Dan untuk menjalankan ide ini, seperinya hanya ia sendiri yang bisa.
"Bangsat-bangsat!"
Dari kejauhan seorang pria dengan langkah lunlai hendak melewati gerbang sekolah, dengan botol beer ditangannya. Pria itu mengumpat dengan kencang dikarenakan ia lagi dan lagi kalah dalam taruhan dan perjudian.
Sangkala bersumringah. "Calon inang sudah datang."
Sangkala mulai menjalankan aksinya saat pria itu berada tepat di depan pintu gerbang. Sangkala memanggil pria itu seraya melambaikan tangannya.
Mendengar dirinya dipanggil dengan manis dan dengan embel-embel nama "mas," ia menghentikan menegak beernya. Pria itu menoleh ke arah gerbang, netranya melihat seorang gadis cantik dan terlihat seksi.
Untuk membuat pria itu lebih tergoda, Sangkala membuka beberapa kancing baju atasnya. Dengan gaya menggoda dan centilnya sembari menggigit jari tangan, ia berhasil membuat pria itu mendekat.
"Mas, bantuin aku ngerjain pr yuk."
Sangkala berjalan mundur dan diikuti oleh pria itu. Ia memanjat gerbang untuk menghampiri gadis yang memanggilnya.
"Dek, tungguin mas, dek.."
"Cepetan dikit dong, mas,"
Pria itu berlari menghampiri gadis cantik itu, senyum nakal sudah tersemat di wajah pria itu.
"Adek nggak bisa pulang, soalnya pr biologi adek masih belum selesai dikerjain.."
"Pr biologi? Mantap! Mas paling jago sama biologi!" Jawabnya dengan antusias.
Sangkala menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap laki-laki itu. Dengan gerakan menggoda ia menggelantungkan tanganya di leher milik laki-laki itu. Wajah cantik serta mata yang indah mampu membuat bagian bawah dari laki-laki itu menegang dengan cepat.
"Mas, sekarang ya!"
Tubuh laki-laki itu mematung tak bisa untuk digerakkan, dengan senyum Sangkala memperlihatkan wujudnya yang seram. Dengan fleksibelnya ia merasuki tubuh laki-laki itu hingga tak sadarkan diri.
Raganya sudah berada dalam kendali Sangkala. Dan sekarang saatnya ia mulai berburu.
Aroma dupa sudah menguar ke penjuru gelanggang. Ki Haryo Krangkang sudah tiba, ia tengah khusyuk berkomat-kamit di depan gerbang. Tak sadar ada sesosok manusia yang mengendap-endap di belakang, Sangkala melempar batu besar tepat di kepalanya.
Ki Haryo Krangkang mungkin andal dalam urusan energi astral. Tapi kekuatan fisik semacam itu tak bisa dilawan dengan mantra yang dirapal. Ia hanyalah seonggok daging tua, yang siap menyambut ajalnya.
Sangkala merebut senjata yang berada di tangan dukun itu. Dengan keris yang berada di tangan Sangkala saat ini, ia berhasil menewaskan Ki Haryo Krangkang dengan menusuk bola mata dan lehernya.
Pada malam purnama itu menjadi hari terakhir nasibnya. Nyawa Ki Haryo Krangkang telah meregang. Dukun terakhir yang menjadi garis penghabisan leluhur pemburu hantu tak punya lagi kesempatan untuk menurunkan ilmunya.
Mantra pengunci telah sirna, gerbang telah dibuka. Dan sekarang saatnya SANGKALA Berkelana.
...****************...
...Catatan Hari Ke-2...
...Dear, diary......
...Akulah yang telah membuka gerbang ini. Kini aku yang bertugas memulangkan semua penghuni yang tersesat di sini. ...
...Mereka yang harus mendapatkan jawaban atas apa yang menimpa mereka di masa silam... ...
^^^-Sangkala^^^