SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]

SANGKALA [ Diary Pengantar Gugusan Jiwa ]
Chapter 10. Sulastri [ Bagian 1 ]


Malam hari ini mendadak terasa begitu berbeda. Pada purnama ketiga belas tahun iblis, sebuah area baru di sisi belakang gedung sekolah mendadak terbuka.


Tempat yang semula lahan kosong berisi semak belukar kini menjelma menjadi danau yang luas dengan kabin kayu terapung di atasnya.


Dieter mengatakan, danau dan kabin kayu misterius itu sudah ada sejak zaman Belanda. Sebagai penghuni awal daerah ini, ia pun mengetahui dengan pasti misteri di balik kemunculan area itu.


Dieter lalu mengajak Sangkala dan pak guru menuju ke kabin kayu untuk melihat langsung misteri yang ada di dalamnya.


Berbeda dengan keberadaan arwah-arwah penasaran lain di gedung sekolah, tempat itu memancarkan aura yang lebih jahat.


Dieter memperingatkan Sangkala untuk bersiap melihat sisi lain dunia kegelapan yang mungkin belum terjamah olehnya.


Adalah sihir ilmu hitam.


Sangkala, Dieter dan pak guru mulai memasuki kabin kayu itu untuk melihat misteri di dalamnya. Baru saja memasuki kabin kayu itu, Sangkala terkejut dengan isi di dalamnya.


Lima mayat wanita tanpa kepala yang melayang di lambung kabin kayu itu adalah korban dari ilmu hitam yang sangat kuat di masa silam.


Dieter lantas menunjukkan sesuatu yang membuat Sangkala tercengang. Pada tiap telapak tangan wanita tanpa kepala itu terdapat goresan simbol berbentuk bintang dengan lingkaran yang mengelilinginya.


Simbol itu sama persis dengan simbol yang ada di atas kertas dalam hari pertama kebangkitan Sangkala.


"Kau memiliki kesamaan simbol di garis takdirmu, Sangkala. Aku bisa mengantarkanmu melihat ke masa silam wanita wanita tanpa kepala ini dengan separuh kekuatanku."


"Kau bersedia melihatnya?" Lanjut Dieter


"Ya," Sangkala menggantungkan kalimatnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjawab pasti.


"Antarkan aku ke sana Dieter. Siapa tahu aku bsa menemukan asal-usulku."


Tangan dingin milik Dieter meraih tangan Sangkala, segera anak laki-laki itu menaruh telapak tangan milik Sangkala di atas simbol itu.


Usai menyentuh simbol di tangan wanita itu, Sangkala segera berpindah ke tempat lain.


Ah, bukan.. tempat dan waktu yang lain.


Ternyata Dieter memiliki kemampuan memindahkan entitas ke antar-dimensi semacam itu. Namun, sayangnya ia tak bisa memindahkan dirinya sendiri.


Sekarang, pertanyaannya adalah, Sangkala sedang berada di mana?


Ia terdampar di sebuah rumah yang begitu besar dan luas. Semakin dalam Sangkala menjelajah, semakin kuat energi hitam yang gadis itu rasakan.


Sangkala menutup hidungnya kala mencium bau busuk yang sangat menyengat. "Bau busuk apa ini?"


Creck, Sangkala menginjak sesuatu yang berlendir dan bau.


"Da-darah?!"


Darah yang sudah menghitam yang mengalir keluar dari dalam kamar di hadapan Sangkala. Aura ilmu hitam menguar kuat dari dalam sana.


"Sangkala!"


Suara samar-samar memanggil namanya itu terdengar di telinga Sangkala, dan gadis itu mengetahui dari siapa suara itu.


"Dieter?"


"Hati-hati! Zona merah!" Setelah mengucapkan itu, suara Dieter perlahan menghilang bersamaan saat Sangkala membuka pintu kamar di hadapannya.


Betapa terkejutnya ia kala melihat sesosok pria bertubuh besar tengah mematahkan kepala seorang wanita, dan kelapa wanita itu ia pegang tanpa rasa jijik sekali pun.


Bukan, ini bukan kejadian pembunuhan biasa, ini adalah ritual. Pria itu sepertinya ia adalah seorang pejabat berkebangsaan Belanda.


Pria itu pergi menembus tubuh Sangkala dan keluar dari ruangan kamar dengan mayat wanita tanpa kepala itu.


"Mau dibawa ke mana kepala wanita itu?" Gumamnya


Sebelum mengikuti langkah pria itu, netra Sangkala menatap ruangan yang penuh darah itu, ia melihat simbol yang sama seperti simbol di telapak tangan wanita tanpa kepala.


Sepertinya simbol itu dilukis oleh pria Belanda tadi dengan darah sang korban. Ritual apa itu? Wanita itu akan di bawa ke mana?


Sangkala pun mulai mengikuti langkah kaki kemana pria itu pergi. Tatapan pria Belanda itu kosong, tapi langkahnya terasa begitu pasti dan tanpa ragu.


Sedangkan mantra yang terus didesiskannya seperti kompas penunjuk jalan. Seperti ada yang mengendalikannya.


"Sangkala!" Samar-samar suara Dieter mulai terdengar kembali.


"Dieter?"


"Dieter, ini kan cuma gambaran masa silam?" Tanya Sangkala


"Benar, tapi ada sihir ilmu hitam yang kenyusupinya!"


"Baiklah" jawab gadis itu paham.


Netra Sangkala kembali menatap pria yang sudah berhenti itu. Namun sesuatu membuat Sangkala tercengang tak bisa berpikir.


"Astaga apa itu!"


Di hadapan pria itu, terdapat sosok wanita yang begitu besar, empat kali lipat besarnya dari pria itu. Segera ia menyerahkan kepala wanita tadi ke sosok menyeramkan itu.


"Sangkala!"


Sangkala terpaku dalam diam dan melihat sosok itu. Jantung berdebar kencang tak karuan, tak semestinya ia begini.


Sosok besar seperti iblis itu meraih kepala dari wanita tadi. Entah bagaimana bisa, organ seperti cacing mulai tumbuh di sosok besar tanpa kepala itu. Kepala wanita tadi dengan cepat melekat pada kepala sosok iblis besar yang terus menerus bergeliat.


"Sangkala!!"


"Cepat pergi dari situ Sangkala!!"


"Kamu mendengar ku?!!!"


"Jika sampai kepalanya terpasang, dia akan melihatmu!!"


"CEPAT KABUR, SANGKALA!!"


Teriakan Dieter berhasil membuat Sangkala tersadar dari diamnya. Namun hal itu sudah terlambat, makhluk besar itu berhasil menemukan Sangkala yang tengah bersembunyi di balik pohon pisang.


Sangkala berlari kencang menghindari kejaran dari makhluk aneh itu. Ia kembali memasuki rumah besar tadi, namun makhluk itu tetap tanpa lelah dan hentinya terus-menerus mencari Sangkala.


Kenapa makhluk besar itu bisa melihat keberadaanku? Bagaimana mungkin? Batinnya


"Sangkala, cepat kembali ke titik pertama kau muncul!"


"Dieter, makhluk apa ini?!"


"JANGAN BANYAK BICARA! AKU AKAN MEMBAWAMU KEMBALI PULANG! CEPAT SANGKALA!! DIA BERADA TEPAT DI BELAKANGMU!!"


Sangkala berlari dan terus berlari dari kejaran makhluk besar itu. Pikirannya berputar-putar mencari jalan keluar, untungnya Sangkala berhasil menemukan ruangan tempat ia muncul pertama kalinya.


"SANGKALAAAAAA!!"


Sangkala berbelok menuju ruangan itu dan berhasil mengecoh makhluk besar itu. Saat tangan besar milik makhluk itu hampir meraih Sangkala, gadis itu sudah terlebih dahulu menghilang dengan jantung yang memburu tak karuan.


"Sa-Sangkala.."


"Hiks-hiks, Dieter? Barusan itu apa? Hiks!"


...****************...


...Catatan Hari Ke-9 ...


...Dear, diary......


...Dunia arwah ternyata jauh lebih misterius dari yang kusangka. Meski telah menjadi bagian dari para hantu, misteri kegelapan bagaikan lorong gelap tanpa cahaya yang sungguh menyesatkan....


...Dengan kekuatan Dieter, aku telah lancang menembus salah satu dimensi gaib yang penuh dengan aura jahat. Dimensi sihir ilmu hitam. ...


...Kini aku kembali dengan jantung memburu, membopong ribuan tanda tanya dan rasa takut yang mencekam....


...Kemunculan makhluk besar tanpa kepala itu.....


...Simbol aneh itu......


...Dan kondisi Dieter saat ini......


...Ada jurang misteri yang harus kuselami lebih dalam lagi......


^^^-Sangkala ^^^