
Hantu Syela tampak duduk bersandar di salah satu dahan pohon besar yang ada di dekat rumah Arya,
Ia menangis pilu di sana karena mengingat semua kejadian di masa lalunya yang begitu pahit,
Ya...
Danu Hartanto, laki-laki itu, sosok yang baginya saat itu adalah laki-laki yang begitu penuh pesona,
Tampan, kaya raya, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga yang turun temurun berada dan juga terhormat,
Ah' siapalah wanita yang mampu menolak pesona laki-laki seperti itu,
Laki-laki yang nyata seolah tak ada cela, tak ada kekurangan,
Hantu Syela tersedu-sedu, manakala kemudian ia mengingat hubungannya dengan Tuan Danu Hartanto yang pada akhirnya harus kandas karena Tuan Danu Hartanto lebih memilih isteri syahnya,
Wanita yang juga sama seperti dirinya, yang bukan hanya cantik, namun juga berpendidikan tinggi, dan pun berasal dari keluarga yang turun temurun berada serta terhormat,
Wanita seperti itu, pastilah jauh lebih menjanjikan untuk mendukung karir, lebih bisa diandalkan untuk bisnis-bisnisnya yang bukan lagi sekedar bisnis kelas teri,
Semilir angin yang berhembus kemudian terasa seperti membelai rambut hantu Syela yang panjang,
Rambut panjang yang menjuntai ke bawah itu pun meriap-riap, begitupun ujung gaunnya,
Sungguh malang nasib Syela dahulu, yang mana ia tergila-gila pada suami wanita lain, namun pada akhirnya hanya menjadi sampah yang dicampakkan begitu saja,
Menerima kenyataan jika ia hanya wanita yang dijadikan pelarian sementara dari rasa jenuh seorang laki-laki, membuat Syela begitu sakit dan pun juga merasa telah gelap semua masa depannya,
Maka, jadilah ia gantung diri di rumah kontrakannya, setelah sebelumnya menyerahkan anak yang ia lahirkan di luar nikah ke panti asuhan,
Ah bayi,
Ya bayi itu, anak perempuannya, hasil dari cinta butanya pada Danu Hartanto, anak yang Syela pikir akan bisa membuat Danu Hartanto berat padanya, tapi nyatanya tidak,
Anak itu, ke mana dia?
Siapa namanya sekarang?
Diasuh siapa dia saat ini?
Dan saat kepalanya telah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, tiba-tiba saja tercium aroma yang ia mulai merasa tidak asing,
Aroma wangi yang khas, yang hantu Syela tahu betul jika itu adalah aroma hantu Monica,
Hantu Syela pun melayang turun dari dahan pohon besar yang ada di dekat rumah baru Arya,
Ia melayang ke arah jalanan di mana aroma itu tercium semakin kuat dan mendekat,
Hingga...
Sesosok gadis kini tampak menghampiri hantu Syela,
Gadis yang juga hantu itu melayang dari ujung jalan sambil menangis juga,
"Ibu... Mungkinkah itu kau Syela?"
Hantu gadis cantik Monica tampak melayang sambil bertanya kepada hantu Syela,
Keduanya saling menatap dengan kedua mata yang basah oleh air mata darah,
"Ka... Kau... Apa kau wanita itu, wanita yang bersama Ayah? Yang kemudian membuangku sebelum kau bunuh diri?"
Hantu cantik Monica seolah mencecar,
Hantu Syela tak mampu berkata apapun, ia hanya bisa mengangguk lemah, rasanya kepalanya ingin kembali copot,
Hantu cantik Monica lantas menjerit karena saking sedih dan sakitnya mengetahui jika ia dan Ibunya sama-sama menjadi hantu sekarang,
Takdir mempertemukan mereka kembali meski dengan cara yang tak bisa ia mengerti,
Hantu Syela pun menghambur ke arah hantu Monica, dipeluknya hantu gadis cantik itu dengan segenap kesedihan dan rasa sakit di dalam dadanya,
"Maafkan Ibu, nak... maafkan Ibu..."
Lirih hantu Syela penuh penyesalan yang teramat sangat.
...****************...