Rumah Angker

Rumah Angker
37. Pemanasan


"Kau mau pesan makan apa? Aku akan pesan antar saja,"


Kata Juwita,


Tampak Gisela menggeleng malas,


"Aku sedang tidak ingin makan Ta,"


Sahut Gisela,


Juwita menghela nafas,


"Jangan menyiksa diri sendiri, aku rasa daripada begini, lebih baik kita datang ke rumah sakit di mana Nona Monica kini dirawat, mumpung belum dibawa keluar negeri, ku dengar dia akan segera dipindahkan ke Singapura,"


Kata Juwita,


Gisela demi mendengar Monica akan dibawa ke Singapura tampak wajahnya merengut,


"Singapura, enak sekali jadi dia,"


Lirih Gisela sebal,


Juwita melirik artisnya yang kini berdiri malas di sampingnya,


"Dia selalu beruntung, sejak kecil dia selalu beruntung, sangat menyebalkan,"


Kata Gisela,


Juwita yang mendengar tampak diam saja,


Sampai kemudian lift berhenti di lantas empat, mereka lantas keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong yang kini terlihat sepi,


Belakangan, apartemen memang mulai tampak sepi karena kabarnya beberapa penghuninya pindah ke rumah biasa,


Sementara itu ada beberapa unit yang sering disewakan untuk orang asing juga belakangan kosong,


"Jika semua unit di lantai ini kosong, lebih baik kita cari rumah biasa saja, aku mulai tidak nyaman tinggal di sini,"


Kata Gisela,


Juwita baru akan menanggapi perkataan Gisela, manakala tiba-tiba salah satu pintu unit di lantai itu yang letaknya persis di depan unit milik Gisela itu tampak terbuka pelahan,


Gisela dan Juwita seketika melihat ke arah unit di depannya, yang setahu mereka sudah satu bulan ini tak berpenghuni,


Tapi...


"Oh, astaga,"


Gisela dan Juwita tampak sama-sama mengelus dada karena langsung lega begitu melihat seorang perempuan keluar dari dalam unit apartemen itu,


Perempuan berambut panjang itu terlihat sempat berpandangan dengan Gisela,


Perempuan itu tersenyum, tapi Gisela entah kenapa tidak suka melihat wajah pucatnya,


Perempuan itu tampak kemudian menutup pintu unit apartemennya sendiri, sementara Gisela mengikuti gerak-gerik si perempuan dari sudut matanya,


Juwita sendiri lebih memilih membuka pintu unit apartemen Gisela, karena jelas ia sudah sangat lelah hari ini dan tak mau berlama-lama di luar,


Tiba-tiba...


"Hihihi...Hihihi..."


Terdengar suara perempuan cekikikan,


Gisela dan Juwita tentu saja sontak langsung celingak-celinguk mencari siapa yang cekikikan,


"Perempuan itu, di mana dia?"


Tanya Juwita pada Gisela yang juga tampak bingung,


"Ya, tadi dia baru saja berjalan ke arah sana, tapi kenap..."


Dan belum lagi Gisela menyelesaikan kalimatnya, dari atas tepat di depannya menetes seperti cairan warna merah,


Gisela menatap lantai di depannya, yang juga tepat di depan pintu apartemennya yang sudah terbuka,


"Ta... apa itu Ta?"


Tanya Gisela melihat cairan merah yang mirip darah, apalagi dari sana tercium pula aroma anyir darah,


"Da... Darah, it... itu sepertinya darah,"


Kata Juwita gagap dan meraih tangan Gisela untuk mereka kemudian saling berpegangan tangan,


Tetesan cairan mirip darah itu tiba-tiba semakin banyak, mereka pun dengan ketakutan menatap ke langit-langit di atas mereka,


Dan...


"Hihihi... Hihihi..."


Suara perempuan cekikikan terdengar lagi, sedangkan di langit-langit yang tepatnya di atas Gisela dan Juwita berdiri, tampak perempuan yang tadi keluar dari unit apartemen depan unit milik Gisela,


Perempuan itu menempel di langit-langit dengan posisi kepala mengarah ke bawah memperhatikan Gisela dan Juwita,


Wajahnya penuh darah, dengan leher seperti ada luka disayat yang terus mengeluarkan darah,


Lidahnya yang merah menjulur ke arah kedua gadis itu, membuat Gisela dan Juwita sontak langsung berteriak dan lari tunggang-langgang masuk ke dalam unit apartemen Gisela,


"Aaaaaa... Hantuuuuu,"


Gisela masuk ke dalam dan langsung menuju kamar, sementara Juwita masuk dan langsung menutup pintu lalu mengunci pintu apartemen Gisela dari dalam.


Hantu perempuan yang menempel di langit-langit yang tak lain adalah Syela pun cekikikan sambil melayang turun,


Sedangkan dari unit depan unit apartemen Gisela terlihat keluar hantu nenek,


"Terimakasih nek, itu perempuan jahat yang harus diberi pelajaran,"


Kata Syela,


Si hantu nenek mengangguk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...