Rumah Angker

Rumah Angker
29. Menuju TKP


Sore itu Arya menerima tugas secara resmi menangani kasus percobaan pembunuhan Monica,


"Tuan Danu Hartanto meminta secepatnya kasus ini terungkap, ia ingin siapapun yang mencoba membunuh putrinya bisa segera ditemukan dan dijebloskan ke penjara,"


Kata Sevan pada Arya yang tengah duduk di depan mejanya sambil mempelajari berkas yang lebih lengkap daripada yang kemarin masih sampel saja yang diperlihatkan,


Arya membaca dengan seksama setiap detail tulisan yang ada di sana, Arya tampak begitu serius, entah kenapa saat ia membaca riwayat Monica, ia teringat terus mimpi tentang masa lalunya siang tadi,


Dua anak di panti asuhan yang ada di bawah naungan yayasan Alpha Centauri milik Tuan Ardi Subrata, mungkinkah Monica berasal dari sana? Batin Arya mulai bimbang melihat pada berkas ditulis Monica adalah anak kandung Tuan Danu Hartanto,


Arya mengurut kening, ia berpikir ke mana sebetulnya arah kasus ini, ke mana kemungkinan kasus ini bermuara,


"Ar, mau ngopi?"


Tanya Boni tiba-tiba mengagetkan,


Arya menggeleng, ia menatap Boni sejenak, lalu tiba-tiba berdiri dan menyambar jaketnya,


"Kita pergi Bon,"


Kata Arya,


"Hey!"


Sevan sang senior yang baru keluar dari ruangannya dan akan bicara dengan Arya begitu melihat Arya pergi sambil menarik tangan Boni tampak mengejar sampai pintu kantor,


"Ada yang harus aku lakukan,"


Kata Arya,


Haiiish... Sevan mendesis sambil menggelengkan kepalanya,


"Mau ke mana Ar?"


Tanya Boni yang ditarik Arya menuju mobil,


"Ancol,"


Jawab Arya,


"Hah? Lagi?"


Boni langsung ciut, matanya menatap langit kota yang kini mulai temaram,


Sebentar lagi maghrib, dan itu berarti malam siap menggantikan siang,


Hantu demit akan berkeliaran dengan bebas, yang itu berarti tanda bahaya untuk manusia macam Boni yang penakut,


"Kenapa tidak dari tadi idenya?"


Boni mencoba protes,


Arya mendorongnya masuk ke dalam mobil,


Kata Arya tak mau menggubris pertanyaan Boni yang tak penting,


Boni menghela nafas,


Sudah tahu pertanyaannya tak akan berdampak apapun atas keputusan Arya, tapi tetap saja nekat melontarkannya, walhasil kecewalah wajahnya,


Arya menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi, dan bersiap menyalakan mobil,


"Aku harus menemukan petunjuk, apapun itu,"


Kata Arya yang lantas membawa mobilnya melaju meninggalkan area parkir kantor polisi di mana ia bertugas,


"Hari terakhir disebutkan Monica pamit pada orangtuanya jika ada janji temu dengan temannya di salah satu tempat di sekitar Ancol, Papa dan Mamanya yang akan pergi ke Bandung di hari itu hanya mengiyakan tanpa bertanya siapa teman Monica yang akan ditemui,"


Arya bicara dari balik kemudi, sementara Boni di sebelahnya mendengarkan sambil mantuk-mantuk,


"Apa mungkin teman yang ditemui Monica adalah Gisela?"


Gumam Arya lagi,


"Kita temui saja Gisela, Ar,"


Sahut Boni langsung seolah mendapat kesempatan,


Arya menggeleng,


"Tidak sekarang, kita harus punya bukti dulu jika mereka bertemu,"


Kata Arya, membuat Boni pun langsung kecewa,


"Tapi..."


Arya menggantung kalimatnya,


Boni melirik Arya di sampingnya,


"Tapi, percobaan pembunuhan seperti ini biasanya dilakukan bukan oleh orang lain, apalagi disebutkan juga perhiasan kalung dengan liontin berlian Monica saja tidak hilang sama sekali,"


Kata Arya,


Boni kembali mantuk-mantuk,


"Jadi kemungkinan besar pastinya pelaku adalah orang yang dekat dengan Monica, yang dia kenal baik,"


Lanjut Arya lagi,


"Keluarga, sahabat, pacar, atau juga pekerja di rumah Tuan Danu Hartanto,"


Kata Boni menyahut, yang kemudian diiyakan Arya dengan anggukan.


...****************...