
Monica begitu sampai di apartemen tempat tinggal Gisela tampak langsung memarkirkan mobilnya asal saja dan buru-buru turun,
Saat itu hari sudah mulai gelap, bahkan sedikit gerimis,
Monica berjalan gontai menuju lobby, dan langsung saja ke arah lift untuk naik ke lantai lima di mana Gisela tinggal,
Saat masuk ke dalam lift, Monica merasa nafasnya begitu sesak,
Dadanya benar-benar sudah ingin meledak, tapi ia berusaha sekuat tenaga menahannya,
Ya, ia harus menahannya, karena jika ia ingin membunuh kedua pengkhianat itu, setidaknya Monica harus kuat sampai waktu itu tiba bukan?
Monica menyeka air matanya yang kembali menetes lagi dari ujung matanya, dan begitu sampai di lantai yang ia tuju, ia pun benar-benar memastikan tak lagi ada air mata yang akan menetes nantinya di depan Gisela,
Betapapun hancurnya dirinya, Monica tak mau Gisela nanti akan semakin tertawa setelah menikamnya dari belakang,
Monica berjalan menuju pintu kamar apartemen Gisela, setelah berada di depan pintu itu, gadis cantik itupun mencoba mengatur nafasnya agar bisa lebih tenang,
Setelah dirasa lebih tenang, Monica pun menekan bel pintu, dan...
Tak butuh waktu lama, saat kemudian pintu di depan Monica dibuka dari dalam,
Seorang perempuan berambut panjang ikal berdiri, yang kemudian tampak ia tersenyum menyambut Monica,
Tentu saja, untuk perempuan itu, Monica bukanlah sosok yang asing, bukan sosok yang baru ia kenal,
"Gisela, di mana dia?"
Tanya Monica pada perempuan yang Monica kenali sebagai asisten Gisela,
"Masuklah Nona Monica, baru saja Gisela masuk kamar mandi, katanya gerah jadi ingin berendam,"
Kata sang Asisten,
Monica menghela nafas,
Ia tentu bukan sedang baik-baik saja hatinya, bukan yang akan seperti biasa mantuk-mantuk mendengar Gisela sedang berendam lalu Monica akan menunggu artis itu selesai dari kegiatannya,
Monica lantas masuk ke dalam apartemen milik Gisela, diabaikannya tatapan heran asisten Gisela yang merasa Monica kali ini datang bukan sebagai teman Gisela tapi sedang akan marah-marah atau semacamnya,
"Sela! Gisela!!"
"Nona, ada apa sebetulnya? Kenapa ini?"
Asisten Gisela yang mulai merasa akan ada masalah langsung mengekor langkah Monica yang menuju kamar tidur Gisela dan langsung masuk untuk meringsek ke kamar mandi pribadi yang ada di kamar itu,
"Sel! Keluar dulu dan bicara denganku!"
Kata Monica dengan nada yang makin tinggi,
Asisten Gisela berusaha menahan langkah Monica dengan memegangi tangan Monica, tapi dengan cepat Monica mengibaskan pegangan tangan asisten Gisela, bahkan hingga perempuan berambut panjang ikal itu sampai terhuyung nyaris jatuh karena kehilangan keseimbangan,
"Ada apa sih? Berisik sekali,"
Suara Gisela terdengar kesal, gadis itupun lantas terlihat keluar dari kamar mandi pribadinya yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca,
Gisela, sang artis tampak keluar hanya dengan balutan handuk kimono berwarna merah maroon,
Monica menatap Gisela dengan kedua mata meremang,
Benci, marah, kecewa, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu dan rasanya nyaris membuatnya ambruk saat itu juga,
"Monica, kamu, ada apa?"
Tanya Gisela melihat ekspresi Monica tak seperti biasanya,
Monica memalingkan wajahnya seolah tak sudi lagi saling berpandangan dengan Gisela,
Kedua tangan dan tubuh Monica bergetar, lalu,
"Sela, katakan padaku, kenapa kamu tega melakukan semuanya padaku Sel? Kenapa?!"
Monica akhirnya histeris karena tak tahan lagi,
Gisela tampak terkesiap, ia menatap asistennya yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama-sama seperti menyembunyikan sesuatu satu sama lain,
"Aku masih bisa menerima jika perempuan itu perempuan lain, tapi kamu Gisela! Kamu adalah sahabat sekaligus saudara bagiku!!!!"
Monica nyatanya tak sanggup menahan air matanya, tangisnya akhirnya tetap pecah karena tak sanggup ia tahan lagi.
...****************...