Rumah Angker

Rumah Angker
Rumah Apa Ini?


Hari ini adalah hari pertama libur SMA 1 Bandung, 1 Minggu telah berlalu sejak hari pertama para siswa menempuh Ujian Nasional (UN). Lima orang siswa siswi berencana mengisi liburan mereka dengan pergi ke sebuah tempat wisata di pelosok kecamatan Sukamaju, tempat wisata hutan pinus yang sangat terkenal. Mereka terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, sopir mobil dan sekaligus biang dari liburan kali ini bernama Erik, di sisinya ada pacarnya bernama Fany, tiga orang dibangku belakang, dari kiri ada Galih, anak paling pintar di kelas dan paling tegas, di tengah ada Adel, seorang cewek manja tapi cantik dan baik, di sisi kanan ada Bery, dia anak paling nakal dan paling tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada orang lain.


“Kenapa Aku harus bersama orang-orang ini?” Batin Galih


“Hey Galih, senanglah sedikit, jangan terlihat sedih begitu, ini kan untuk


Acara kelulusan kita!” Seru Fany dari bangku depan.


“Betul apa kata pacarku, kamu harusnya senang diajak liburan dengan gratis,


bener kan Sayang?”


“Iya bener sayang!” sahut Fany mengiyakan pertanyaan Erik


Galih hanya terdiam dan tak menanggapi apa kata teman-temannya. Sinar mentari sore masuk melalui jendela sebelah kiri, mata Galih sedikit menyipit akibat sorotan itu, bagi Galih cahaya itu seperti cahaya yang akan terakhir Ia lihat, Ia merasakan hal aneh pada liburannya kali ini, entah apa tapi perasaan tak enak itu mulai menjalar masuk ke dalam ulu hatinya, Ia segera mengambil jaket dari tas dan segera menyelimuti dirinya dengan jaket itu.


“Perasaan apa ini?” Batinnya


Tiga jam berlalu sejak mereka berangkat dari pusat kota Bandung, sekarang mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki sebuah kawasan hutan pinus yang sangat lebat dan sangat sepi.


“Disini dingin sekali ya” Kata Adel


“Iyalah Del, namanya juga hutan pinus, lokasinya di Pegunungan pula”


Jawab Erik.


“Ayolah cepat kita ke penginapan, sudah capek Aku terus duduk di mobil”


Sahut Bery menimpali pembicaraan.


“Yaelah Kau ini, dari berangkat sampai sekarang Kau kan cuma tertidur”


Ejek Erik


“Sedangkan Aku??menyetir selama tiga jam” Sambungnya


Semua orang tertawa, kecuali Bery yang terlihat kesal.


“Sayang, Aku pengen pipis, beser nih” Fany menahan kesakitan.


“Ah kamu ini, di hutan aja yak an gak ada siapa-siapa” Bujuk Erik.


“Iiiiiiiih, ntar Kamu ngintip lagi, gak ah!”


Ternyata di simpangan jalan ada sebuah warung kecil, dan juga terlihat sekilas tulisan “WC UMUM”.


“Sayang berhenti, Aku pipis di sana aja” Teriak Fany.


“Yaudah deh”


Erik menghentikan mobilnya, Ia dan pacarnya bergegas turun dari mobil dan segera menghampiri warung kecil itu.


“Permisi…apa ada orang?”


“Hallooooo??”


“Sayang, kayanya gak ada orang deh, kamu masuk aja sana ke WC nya!”


“Jangan ngintip ya!”


Fany melangkahkan kakinya ke belakang warung itu, namun saat hendak masuk ke WC, seorang laki-laki paruh baya menegurnya dan membuat Fany kaget hampir pingsan.


“Hey!Siapa kamu?ada kepentingan apa disini?” Bentak laki-laki itu.


“aaaaRRRRRRhhhhhhh” Teriak Fany.


Teriakan Fany membuat Erik yang menunggu di depan segera berlari kebelakang, teman-temannya yang di mobilpun segera keluar dan menghampiri, kecuali Bery yang memang gak peduli akan teriakan itu.


“Dasar cewek, paling juga ada ulat hinggap” Batin Bery


“Ada apa Fany?” Tanya Adel yang sama terlihat ketakutan.


“IIiiitu!” Fany menunjukkan telunjuknya.


“Mau apa kalian disini?” Tanya Laki-laki itu.


“Maaf Pak, sebenarnya Kami adalah anak-anak sekolah yang baru lulus dan


ingin merayakannya didaerah dekat sini” Kata Erik menjelaskan.


“Oh kalian anak-anak dari kota ya?” Tembal Bapak tadi dengan sopan


“Maaf tadi saya agak membentak, karena saya pikir perempuan tadi itu


pencuri, saya sudah sering kecolongan”


“Maafkan kami juga Pak, sembarangan masuk kesini”


Ternyata laki-laki tadi adalah pemilik warung ini, mereka terlarut dalam obrolan senja itu.


“Kenapa Bapak mendirikan warung di hutan begini? Tanya Adel penasaran


“Iya Pak, saya juga penasaran, padahal sepi banget” Sambung Galih


(Bapak sedikit tersenyum)


“Hehe, 5 Tahun yang lalu tempat wisata hutan itu sangatlah ramai


dikunjungi para wisatawan”


“Terus Pak??” Selidik Galih


“Semua berubah ketika terjadi serangkaian terror kepada para pendatang”


“Sebenarnya apa yang terjadi? Galih semakin penasaran.


“Orang-orang yang pernah melihat mengatakan, kalo di “Situ” (Danau)


itu ada penampakan arwah-arwah penasaran”


“iiiiiiiiiiihhhhhhhhhh” (Adel ketakutan)


“Ah dasar kamu ini Adel, itu cuma mitos orang kampong!” Ejek Bery


“Huuh :-P”


Galih yang sejak dulu selalu tertarik dengan hal-hal mistis, menanggapi pembicaraan itu dengan sangat serius.


“Apakah hal itu benar-benar terjadi Pak?”


“Iya Nak, kejadian itu memang benar adanya”


“Maaf seharusnya saya tidak bicara panjang lebar, hal itu hanya akan


membuat kawasan ini semakin sepi pengunjung” Sambung Bapak itu


Hening sesaat.


“Yaudah maaf Pak, kami udah ganggu aktifitas Bapak” Kata Erik


“Tidak apa-apa, sebaiknya kalian segera berangkat, hari udah mulai


malam !”


“Iya terimakasih Pak”


Anak-anak itu segera meninggalkan warung itu. Di persimpangan jalan, Erik mengambil arah kiri, karena ada penunjuk jalan menuju kawasan hutan pinus, sedangkan jalan yang ke kanan menuju Provinsi Garut.


Sekitar 5 menit dari warung tadi mereka sampai di tujuan, ada sebuah danau dan dikelilingi pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Disekitarnya banyak pondok-pondok penginapan namun semuanya terbengkalai, kosong dan tak terawat sama sekali. Disebrang danau ada rumah atau mungkin Villa yang sangat besar.


“Ah kacau liburan kita di tempat seperti ini!” Bentak Bery


“Aku juga gak nyangka tempatnya seperti ini” Sambung Erik


“Tapi kita juga gak bisa kembali lagi ke Bandung, hari udah terlanjur


malam, mungkin sebaiknya kitaistirahat dulu di tempat ini, pagi-pagi


baru kita pulang ke Bandung” Kata Galih


Erik menginjak pedal gas mobilnya, Dia memberhentikan mobilnya didepan Villa yang sangat besar itu. Galih membuka gerbangnya, dan Erik memasukan mobilnya melewati gerbang yang terbuka.


“Rumah apa ini? Adel ketakutan


“Entahlah Del, tapi kondisi tempat ini yang paling baik” jawab Fany


Mereka semua turun dari mobil dan mulai memasuki halaman Villa, di halaman itu ada sebuah tembok persegi bertuliskan “Van Der William House”. Tanda tanya besar terbesit dalam setiap benak, Rumah apa ini?. Angin berhembus menjalar pada setiap tubuh anak-anak, seakan orang pribumi yang menyambut kehadiran mereka di Villa itu. Sinar bulan purnama terselip diantara pohon-pohon pinus, mengantarkan bayangan mereka ke pintu utama, seolah cahaya yang menjadi lampu utama ditempat itu.


Galih membuka pintu dengan sedikit paksaan, dan inilah keadaan di dalamnya.


*