
"Gila, apa itu tadi Ta?"
Gisela yang wajahnya begitu pucat karena ketakutan tampak menatap Juwita yang juga sama pucat dan takutnya, keduanya kini bersembunyi di kamar Gisela,
Kedua gadis itu tampak berada di atas kasur, tubuh keduanya menggigil ketakutan,
"Hantu lah, masa kemoceng!"
Kesal Juwita pada Gisela yang harus pakai bertanya segala,
Jelas-jelas makhluk itu menempel di atas langit-langit sampai berdarah-darah begitu, malah masih tanya pula,
"Ya tahu itu hantu, maksudnya hantu jenis apa? Aku baru tahu ada hantu begitu, biasanya kan kunt..."
Belum selesai Gisela bicara, Juwita dengan gerakan cepat langsung membekap mulut Gisela agar tak bicara apa-apa lagi,
Apa dia bodoh atau apa? Bagaimana bisa dalam kondisi sedarurat ini masih mau bicara soal kun...
Srek... srek... srek...
Terdengar tiba-tiba seperti suara orang melangkah di luar pintu kamar,
Juwita dan Gisela pun saling memandang satu sama lain, tubuh mereka juga seketika refleks saling mendekat,
"Apa lagi itu Ta?"
Tanya Gisela dengan suara lirih dan bergetar,
Juwita tampak menggeleng, ia tak berani mengeluarkan satu patah katapun untuk menjawab pertanyaan Gisela,
Juwita juga lebih memilih menatap ke arah pintu kamar yang di mana langkah kaki entah siapa di depan sana terdengar,
Suara langkah itu begitu jelas, yang di mana keduanya sadar betul jika di dalam unit apartemen mereka tak ada siapapun selain Gisela dan Juwita,
"Ta... Siapa itu Ta?"
Suara Gisela kembali terdengar, membuat Juwita meliriknya dengan sebal,
"Diamlah, jangan bersisik, nanti dia tahu kita di si..."
Kalimat Juwita pun terhenti, begitu langkah kaki yang semula seperti mondar-mandir di depan pintu kamar sekarang justeru seolah berhenti,
Juwita menatap ngeri pintu kamar Gisela,
Melihat Juwita terus menatap pintu kamarnya, Gisela pun juga melakukan hal yang sama,
Ia tampak menatap pintu kamarnya dengan segenap ketakutan yang seolah nyaris melahapnya bulat-bulat,
Tiba-tiba handle pintu kamar yang tadi sempat dikunci kini terlihat bergerak sendiri seperti ada yang berusaha masuk,
Juwita dan Gisela pun langsung saling berpelukan macam tinkiwinki dan dipsi,
"Ta... Dia mau masuk Ta..."
"Jangan berisik, tiap kamu ngomong kamu itu memberi mereka mahluk astral termotivasi,"
Kata Juwita,
"Aduh Ta, aku pengin buang air,"
"Lah gimana si..."
Juwita tambah kesal,
Apalagi handle pintu tampak semakin kencang bergerak,
ceklek ceklek ceklek ceklek...
Bersamaan dengan itu pintu kamar juga seperti berusaha didorong dengan keras,
"Aduh Ta, mules Ta, aku tidak tahan..."
Gisela yang tiap kelewat takut malah jadi mules pun terlihat memegangi perutnya yang sakit,
"Aduh Sel, jangan mules lah, nanti kamu malah,"
Tiiiiut...
"Giselaaaaaa!"
Juwita pun seketika melompat dari kasur karena Gisela malah buang gas,
Gisela yang merasa bersalah namun juga tak tahan tapi juga takut rasanya kini jadi ingin mati saja,
Tapi demi apapun, mules pada akhirnya selalu mengalahkan segala rasa yang ada,
Gisela sekonyong-konyong melompat dari kasur dan langsung melesat cepat menuju toilet di dalam kamar nya,
Juwita yang melihat Gisela seperti orang tak sadarkan diri pun kini jadi bingung, ia sempat akan ikut masuk, tapi aromanya sudah penuh dengan gas beracun, maka jadilah Juwita langsung terpental keluar,
Dan tepat saat itu, pintu kamar tiba-tiba...
...****************...