Rumah Angker

Rumah Angker
27. Mencoba Mengingat


Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah baru Arya, tampak si gadis hantu Monica kembali meringkuk sambil merintih kesakitan,


Ia memegangi perutnya yang seperti ditusuk senjata tajam,


Si gadis hantu Monica terlihat begitu tersiksa, jelas sekali terlihat bagaimana ia merasakan kesakitan,


"To... Tolong..."


Monica merintih karena rasa sakitnya yang semakin memuncak,


Hingga, saat sakit itu semakin menjadi, tiba-tiba saja bayangan beberapa rangkaian peristiwa seolah melintas di depan matanya,


Gadis yang bersamanya di foto yang Monica lihat di hp Arya, dan seorang laki-laki muda yang entah siapa karena Monica tak mampu mengingatnya,


Semua bayangan yang muncul bagaikan kepingan puzzle yang tak berbentuk,


"Kamu beruntung diambil anak oleh pengusaha kaya, tidak seperti aku,"


Bayangan sosok gadis itu bicara dengan wajah sedih,


Lalu bayangan lain muncul saat mereka pergi ke mana-mana bersama, dari pergi sekolah, jalan-jalan, belanja, hingga kemudian Monica seperti mengantar gadis itu ke satu tempat yang seperti lokasi syuting,


Bayangan yang muncul setelah itu kemudian adalah saat mereka bertengkar entah masalah apa, namun yang jelas saat bayangan mereka bertengkar itu, dada Monica tiba-tiba saja juga jadi terasa seperti terbakar amarah,


Monica menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba menghempaskan pikiran negatif yang muncul karena potongan-potongan ingatannya tentang peristiwa masa lalu yang terjadi di dalam kehidupannya seperti kembali satu demi satu,


"Beruntung diambil anak oleh pengusaha kaya?"


"Maksudnya siapa?"


"Aku?"


"Ah tidak... tidak mungkin,"


Monica kembali menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak percaya dengan bayangan yang muncul di dalam kepalanya,


Ah Polisi Arya, ke mana aku harus mencari sosoknya?


Aku harus bicara padanya,


Hanya dia yang bisa melihatku dan juga kebetulan sedang menangani kasusku, harusnya dia ada di sini sekarang agar bisa memecahkan masalah ini bersama,


Tapi, tunggu...


Si gadis hantu Monica memandang sekeliling, ia lalu berpikir, apakah harus ia mencari rumah keluarga Arya saja?


Di mana kira-kira rumah polisi Arya?


Apa rumahnya jauh?


Apa tidak akan apa-apa jika aku pergi dari sini untuk menyusulnya?


Tapi, bagaimana jika aku malah nanti nyasar dan tak tahu jalan?


Bagaimana jika aku nanti malah tidak bisa menemukan rumah polisi Arya, dan juga tak bisa kembali ke sini?


Ah tidak... tidak... tidak! Aku harus bersabar menunggu polisi Arya kembali saja, bukankah dia pasti akan kembali?


Jadi lebih baik aku menunggu saja bukan? Aku tak perlu pergi dari sini bukan?


Si gadis hantu bernama Monica itupun akhirnya berbaring di lantai, sakit yang menderanya tadi kini sudah kembali menghilang,


Aneh, sejak tadi malam, sakit itu terus berulang kali ia rasakan, seperti rasa ditusuk pisau atau semacamnya, Monica tidak tahu pasti,


Monica, hantu cantik itu menatap langit-langit,


Benarkah aku Monica seperti yang polisi Arya bilang? Batin Monica bertanya-tanya,


Jika benar aku adalah Monica, maka siapa gadis yang bersamaku di foto itu? Kenapa wajahnya begitu melekat di kepalaku, seolah ia adalah orang yang sangat penting dalam hidupku,


Monica terus berusaha mengingat, tapi sejak jadi hantu rasanya otaknya semakin tidak cerdas.


...****************...


Sore hari, tepat pukul empat, mobil Arya yang dibawa oleh Boni terlihat berhenti di depan pagar rumah Umi,


Boni turun dari mobil, dan langsung masuk ke halaman rumah Umi karena pintu pagarnya tak dikunci,


Ting Tong...


Boni membunyikan bel pintu rumah Umi,


Tak lama kemudian, dari dalam rumah terdengar suara langkah mendekati pintu,


"Eh Bang Bona,"


Mbak Tinah yang membukakan pintu tampak menyunggingkan senyumannya begitu melihat Boni yang berdiri di depan pintu,


"Jemput Arya, Bu,"


Kata Boni,


"Oh iya iya, barusan lagi mandi, masuk dulu saja Bang Bona,"


Kata Mbak Tinah yang malah mengganti nama anak orang seenaknya,


Tapi, Boni nyatanya juga tak ada niat protes namanya diganti menjadi Bona,


Entah karena memang Boni tak merasa keberatan namanya diplesetkan, atau karena Boni tak tahu jika Bona itu adalah gajah berwarna pink yang belalainya panjang, hihihi...


Boni lantas masuk ke dalam rumah Umi dan diajak Mbak Tinah ke ruang tengah di mana Umi dan Tante Kanaya berkumpul,


Mereka sedang duduk di depan TV sambil terlihat Tante Kanaya sibuk menulis semacam daftar menu di buku tulis,


Boni menghampiri mereka untuk bersalaman,


"Makan lagi Nak Boni?"


Umi menawarkan,


Boni terlihat tersenyum malu mengingat pagi tadi ia makan dengan kalap dan lahap, nyaris lupa diri sampai tak ingat makan berapa porsi,


"Terimakasih Umi, nanti kapan-kapan saja makan lagi,"


Ujar Boni malu-malu tapi ujungnya tetap tak tahu malu,


Umi terkekeh sambil menganggukkan kepalanya,


"Iya, sering-seringlah mampir ke rumah Umi, nanti kalau Arya sudah pindah ke rumahnya sendiri juga nak Boni tetaplah main ke sini, siapa tahu nanti Umi juga jadi bisa titip-titip untuk Arya,"


Kata Umi pula, membuat Boni tampak mantuk-mantuk mengiyakan,


"Oh iya Nay,"


Umi beralih pada Kanaya,


"Ya Umi, ada apa?"


Tanya Kanaya,


"Coba tanya Mbak Ning, dia jadi ikut antar Arya pindahan atau tidak? Sekalian kakakmu si Dimas, lama sekali dia tidak pulang,"


Kata Umi,


"Pindahannya besok atau lusa Umi?"


Tanya Boni nimbrung,


"Lho, nak Boni tidak tahu pastinya?"


Umi malah balik bertanya,


Boni menggeleng,


"Arya tidak cerita kapan mau pindah resminya, tapi dia semalam tiba-tiba minta menginap di rumah baru karena ada hantu yang ingin ia temui,"


Tutur Boni, yang tentu saja langsung membuat Umi dan Tante Kanaya melihat ke arah Boni sambil melongo,


"Ingin ketemu hantu?"


Gumam Umi dan Tante Kanaya kemudian, sedangkan Mbak Tinah begitu mendengar kata hantu, seketika langsung ngacir menuju dapur dan memilih bebenah dapur lagi.


...****************...