
Pertama Fany, lalu Erik yang menjadi korban misteri rumah ini. Apa atau siapa yang melakukan? Siapa anak kecil yang dilihat Erik sebelum kematiannya. Galih menemukan sedikit jawaban dari teka-teki misteri yang terjadi di rumah ini.
"Van Der William, mungkin dia masih hidup" kata Galih memecah keheningan.
"Maksud lo Galih?" Bery penasaran dengan apa yang dikatakan Galih.
"William, Van Der William, Dia pemilik rumah ini dulunya. Saat kita masuk tadi sore ada tugu bertuliskan Van Der William House kan?"
"Lalu apa hubungannya dengan semua ini?" Tanya Adel.
"Lihat koran ini Del" Galih mengambil koran halaman utama dan meninggalkan beberapa untuk menutupi kedua jasad temannya.
"Jadi dia yang membunuh keluarganya dan penyebab terror selama ini?" Tanya Adel sambil melihat tajam kearah korannya.
"Kalo gitu lebih baik kita pulang cepat, gue yang jadi sopirnya!" Ajak Bery
"Aku setuju sama Bery, kamu gimana Galih?" Tanya Adel, mulai tak tenang jika yang mereka hadapi adalah pembunuh sadis.
"Aku juga setuju aja, tapi aku benar-benar merasa gak enak hati, mana mungkin orang itu akan membiarkan kita pergi begitu saja dengan kesaksian yang kita miliki" Kata Galih, alisnya mengkerut.
"Sial, kalo aja dari awal gue bawa HP, mungkin bakal lebih mudah cari bantuan" Gertak Bery
"Tadinya kita udah sepakat kan liburan tanpa HP, dokumentasi pun kita pake Handycam" Kata Adel.
"Kita harus selalu bersama setiap waktu, tinggal beberapa jam lagi pagi datang, kita akan mudah selamat jika keadaan terang" Galih tampak berusaha memberi ketenangan pada kedua temannya, padahal raut kegelisahan tak bisa dia buang dari wajahnya. "Sebelum itu ayo kita cek pintu keluar, dan keadaan mobil, aku takut orang itu udah merusak semuanya" Lanjutnya.
Ketiganya berjalan bersama saling berdekatan menuju pintu utama. Pintu yang menjadi gerbang kesialan mereka semua. Galih berada di paling depan, Adel sudah pasti ditengah, Bery mengekori mereka. Namun sayang ternyata pintu utama sudah dikunci, mungkin digembok dari luar.
(Braaak)
"Sial, kita gak bisa keluar lewat sini pintunya benar-benar terkunci" Galih tampak marah dan menendang pintunya.
"Ayo kita kembali ke ruang utama, kita bertahan sebisa mungkin" Ajak Adel.
Ketika Bery berbalik, Bery melihat disudut ruangan tampak sosok Ibu-ibu dengan luka menganga dileher. Dan lagi seperti sosok anak laki-laki tadi, Ibu itu menunjukan jarinya kearah mereka, sosok hitam ternyata sudah ada dibelakang mereka, memukul Bery dengan balok kayu.
(Duukkkk)
Bery terjatuh, Galih dan Adel berlari tak menentu, senter yang mereka bawa sangat pudar sekali cahayanya. Mereka memasuki sebuah kamar dan menutup pintunya.
"Adel masuk kesini" Teriak Galih
(braakk braakk brakk)
Pintu kamar digedor-gedor dari luar oleh sosok berpakaian serba hitam itu.
"Galih cepat cari jalan keluar"
"Mana mungkin kabur dari sini, disini buntu"
Saat mereka panik karena terjebak diruangan itu, muncul sosok Anak perempuan, rambutnya pirang, dilehernya tampak bekas cekikan tangan. Anak itu menunjuk ke samping lemari. Galih berlari kearah lemari itu, dan mendorong lemarinya, ada pintu rahasia dibelakangnya.
"Adel ayo masuk sini"
"Iya"
Mereka terkejut karena ruangan itu ternyata adalah kamar mandi, mereka sadar bagaimana Fany menghilang. Saat mereka keluar, sosok hitam itu sudah ada diluar pintu kamar mandi. Berusaha menikam mereka dengan golok, namun....
Bery datang dan memukul sosok itu. Sosok itu terjatuh.
"Galih, Adel cepat lari" Teriak Bery
Mereka berlari menjauhi sosok itu dan naik ke lantai atas.
"Bery kamu masih hidup?, terimakasih" Adel menangis.
"Jangan bilang terimakasih, gue ngerasa sebel dengarnya" Bery mengejek Adel. "Lagian kepala gue sakit banget dan berdarah juga, kalian harus bayarin biaya pengobatan gue" lanjutnya sembari mengusap-usap kepala bagian belakangnya, jari-jarinya memerah karena darah yang menempel.
"Gak nyangka kamu punya rasa simpati juga Bery" Kata Galih. "Yang aku tahu selama ini kamu cuek sekali sama teman-temanmu".
"Selama ini gue selalu kesepian, hanya saja saat bersama kalian, gue ngerasa punya ikatan, cuma gue malu harus mengakui kalo gue bahagia bisa bersama kalian, maafin gue ya hehe" Kata Bery sambil sedikit tertawa, namun nafasnya terdengar ngos-ngosan karena berlari tadi.
"Bery.." Batin Adel.
"Dasar pecundang, cuma mengakui bahagia aja kamu malu Bery" Ejek Galih.
"Hehe ya pada akhirnya gue cuma bahagia karena kalian adalah teman gue" Bery menahan gengsi dalam hatinya.
Untuk pertama kalinya Bery merasa mempunyai ikatan pertemanan, selama ini harus dia sembunyikan perasaan itu dengan alasan gengsi dan harga diri.
"Kalo kita selamat dari sini, kalian mau kan......." belum selesai Bery berbicara, namun...
(Jleeeb)
Sebuah pisau menghunus tepat di punggung belakangnya, manusuk tembus sampai jantungnya. Bery terkapar, kali ini benar-benar tewas, tak seperti serangan pertama yang diterimanya tadi.
"Bery..." Teriak Adel.
"Adel cepat lari kesini"
Mereka berdua masuk ke ruang musik/seni. Tiba-tiba pintu tertutup keras dengan sendirinya. Sosok anak perempuan yang tadi ada dikamar bawah kini berada dihadapan mereka. Anak itu menunjuk sebuah meja hias. Galih mencoba mencari tahu apa yang ada di meja itu. Beberapa foto lama tampak berdebu namun masih jelas kelihatan, belakangnya tertulis William Family's.
Di foto itu Tampak Seorang lelaki dewasa disebelah kanan, mungkin William, disampingnya Anak laki-laki yang terlihat dari balkon, ditengah sambil menyandarkan kepalanya ke anak laki-laki ada anak perempuan yang kini dihadapan mereka, di sisi kiri ada sosok Ibu.
"Adel, bagaimana jika selama ini arwah mereka mencoba membantu kita dari kekejaman sang Ayah?" Kata Galih
"Aku terlalu takut untuk memikirkan hal itu Galih, mana mungkin setan membantu kita?" "Lagian arwah apaan? Aku gak bisa melihat mereka!"
"Apa? Dia gak bisa melihatnya, meskipun arwah itu ada didepan kami sekarang?" Batin Galih. "Lalu kenapa aku bisa melihatnya, kupikir Erik dan Bery pun melihatnya, atau mungkin itu pertanda...."
Galih berhenti memikirkan hal yang lain-lain, Dia kembali melihat-lihat meja itu. Di laci meja itu Galih menemukan sebuah catatan harian.
"Sasha Diary's" Kata Galih membacakan tulisan besar di buku itu.
"Kamu Sasha?" Tanya Galih.
Sosok anak perempuan itu mengangguk.
"Adel aku punya rencana, kamu harus siap!"
See You Next Chapter "Aku Mencintaimu, Larilah..Adel!"