
Meski Arnold dan Deriel dengan kompak menolak, tapi kakek punya cara tersendiri untuk membuat kedua pasangan pengantin baru itu pergi bulan madu bersama. Dengan memasang muka memelas dan sedikit kata-kata rayuan bernada memohon sudah berhasil membuat Caroline dan Mazaya luluh. Kalau dua wanita itu sudah setuju, memangnya para suami itu bisa apa untuk menolak?
“Sayang, aku nggak mau bulan madu bareng-bareng sama Mazaya sama suaminya. Aneh banget rasanya, Sayang!” keluh Arnold yang sejak awal sudah tidak setuju dengan rencana kakeknya sendiri.
Caroline yang saat ini tengah berkemas dan siap-siap untuk pergi bulan madu, akhirnya menghentikan aktivitasnya. Dia dengan lesu menatap Arnold yang tengah memasang raut wajah murung.
“Ya, mau gimana lagi sih, Band? Aku juga nggak enak buat nolak permintaan kakek kamu. Apalagi, aku baru satu hari jadi mantu masa iya udah berani nolak. Memang kamu mau aku dipecat jadi cucu menantunya kakek kamu?” balas Caroline.
Suara helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Arnold. Mungkin memang sudah seharusnya dia menerima saja keinginan sang kakek yang benar-benar konyol itu.
*
*
*
Mazaya dan Deriel sudah menunggu di bandara. Mereka akan sama-sama pergi ke Bali untuk menikmati hadiah dari kakek Arnold untuk pernikahan mereka. Tentu saja kakek sudah mengatur agar Mazaya-Deriel dan Arnold-Caroline berangkat dengan penerbangan yang sama.
“Mantan suami kamu belum datang?” tanya Deriel setelah mereka menurunkan barang-barang dari mobil.
Mazaya melirik suaminya dan memasang raut cemberut. “Jangan sok-sokan cemburu gitu! Aku akan telfon Carol ya!”
Deriel hanya menunduk dan menyembunyikan senyumnya karena akting cemburu yang dia lakukan ternyata sama sekali tidak mempengaruhi sang istri. Ya, Deriel memang tidak pernah mempermasalahkan hubungan baik yang Mazaya dan Arnold juga Caroline jalin saat ini. Apalagi, dia sendiri sudah membuktikan bagaimana hubungan Arnold dan Mazaya dulu karena dialah yang mendapatkan mahkota kebanggaan Mazaya, bukan Arnold.
“Eh, itu kayaknya mereka!” tunjuk Mazaya pada dua orang yang tengah memakai kacamata hitam dengan dua koper yang dibawa oleh si pria.
“Mazaya!” Suara teriakan Caroline dan juga lambaian tangannya sudah membuktikan dugaan wanita itu benar.
Kedua wanita itu saling berpelukan untuk saling menyapa. “Sory telat ya! Rempong banget soalnya!”
Mazaya mengangguk dan memaklumi keterlambatan Arnold dan Caroline. Mereka lalu bersama-sama menuju pesawat yang telah kakek siapkan untuk mereka.
**
**
Suasana pantai yang romantis membuat hubungan Arnold dan Caroline semakin lengket. Hal yang sama juga berlaku untuk pasangan Deriel dan Mazaya. Kedua pasangan itu tampak menikmati bulan madu mereka dengan cara mereka masing-masing.
Sementara itu, di bawah pohon kelapa, Raffaello menatap mereka dari jarak yang terbilang dekat. Hal itu tentu saja membuat Mazaya dan Caroline bisa melihatnya.
Caroline mendatangi Raffaello setelah meminta izin pada Arnold. “Kamu apa di sini? Ada orang yang ketukar jiwa lagi?” tanya Caroline yang tentu bisa mengenali Raffaello yang saat ini tengah menunjukkan sayap indahnya.
“Ya iyalah. Kamu pikir aku lagi ngoceh sama hantu gentayangan?”
Malaikat itu menyunggingkan senyum yang membuatnya semakin terlihat tampan dan bercahaya. “Aku ke sini cuma mau memastikan kalau kalian hidup dengan bahagia.”
“Raffaello!” seru Mazaya yang rupanya ikut menyusul Caroline.
Sontak saja Raffaello dan Caroline menoleh ke arah Mazaya.
“Ah, ternyata kamu juga bisa lihat aku! Mumpung kalian di sini, aku mau pamit karena tugas aku sudah selesai. Setelah ini, jalani kehidupan kalian dengan baik karena takdir yang indah sedang menanti kalian!” ucap Raffaello yang membuat suasana mendadak jadi haru.
“Kok kayak ada aroma-aroma sedih!” sahut Caroline.
“Kamu mau ke mana, Raf?”
“Aku sudah dapat izin untuk tinggal di Surga menemani seseorang yang selama ini aku kejar. Aku juga ingin seperti Arnold yang tetap menyimpan perasaannya hingga maut mengakhirinya. Sekarang, aku yang berjuang untuk seseorang itu!” jawab Raffaello.
Caroline dan Mazaya tampak sedih mendengar pengakuan Raffaello bahwa mereka akan berpisah, tapi dua wanita itu juga tampak bahagia karena tugas Raffaello telah selesai.
Setelah berpamitan, Caroline dan Mazaya kembali ke pasangan mereka masing-masing.
“Kenapa kamu kayak sedih begitu?” tanya Arnold pada sang istri.
Caroline menggeleng lemah dan menunjukkan senyum untuk mengalihkan kecurigaan suaminya itu. “Tadi kelilipan, tapi sudah nggak apa-apa kok!”
Arnold lalu merangkul tubuh Caroline dan mengecup keningnya. “Kalau ada apa pun yang bikin kamu sedih, bilang sama aku. Aku nggak akan segan-segan buat musnahin apa pun itu!” kata Arnold dengan geram.
“Ih, dasar baandit emang kamu tuh! Aku nggak apa-apa, Band. Aku seneng banget honeymoon di sini!” timpal Caroline sembari merapatkan pelukannya di tubuh Arnold.
“Kalau gitu, gimana kalau kita honeymoon tiap bulan, sampai kamu hamil!”
“Kadang-kadang ide kamu bagus juga sih, Band!”
Kedua manusia yang tengah dimabuk asmara itu saling berpelukan di pantai yang sangat sunyi. Sementara Mazaya dan Deriel masih malu-malu untuk menunjukkan kemesraan mereka.
Mereka memang menjalani takdir dengan baik, meski awalnya mereka harus menjalani takdir dengan orang yang salah, tapi sekarang mereka telah menemukan kebahagiaan mereka.
TAMAT
Terima kasih 😘😘 Ikuti cerita aku yang lain ya. Ada “Dihamili Kembaran Suami” Dijamin pasti seru 🤭🤭🤭