
Romy memicingkan mata saat melihat isi dari hadiah pemberian sang calon mertua untuk Sandra. Beberapa mainan bayi, juga pernak-pernik bayi seperti topi, sepatu, dan pakaian.
Napas laki-laki itu seakan tercekat di tenggorokan. Dia merasa dadanya kian sesak saat satu per satu benda lucu itu dikeluarkan dari kotak. “A-ada apa ini, Tante?” tanyanya masih pura-pura tak tahu.
Mama Caroline melipat tangan di dada dan tersenyum tenang sembari menatap Sandra yang kini tengah mengandung, meski perutnya belum terlihat buncit.
“Ini kado buat kehamilan kamu Sandra. Kamu ‘kan sudah Carol anggap seperti saudara. Kamu nggak punya orang tua, tapi tante anggap kamu seperti anak tante sendiri. Wajar dong kalau tante sama Carol kasih hadiah buat kamu!” kata mama Caroline dengan sangat santai.
Wanita itu berhasil mengontrol emosi dan membuat kedua pengkhianat itu malu karena ulah mereka sendiri. Dia ingin mengakhiri hubungan putrinya dengan Romy dengan cara yang elegan, bukan dengan memaki-maki seperti yang seharusnya Sheila lakukan.
“Ha-hamil?” Wajah Sandra terlihat pucat pasi. Meski sebenarnya ini juga keinginannya, tapi melihat ekspresi mama Caroline, Sandra pun jadi merasa sangat bersalah.
“Iya, ini hasil pemeriksaan kamu, ‘kan?” Mama Caroline mengeluarkan kertas berisi file kiriman Mazaya yang telah dicetak dari email.
Sandra membungkam mulut dengan telapak tangan, tak percaya dengan bukti perselingkuhan yang telah mama sahabatnya itu dapatkan. Napasnya menjadi tersengal-sengal terselimuti rasa bersalah yang sudah tak ada gunanya lagi.
Romy tak kalah panik. Mama Caroline juga punya kejutan untuk laki-laki itu.
“Kamu dengarkan ini baik-baik, Rom!” kata mama Caroline sembari memutar video percakapan dirinya dan Sandra di restoran beberapa waktu yang lalu. “Tante juga sudah kirim bukti ini sama orang tua kamu. Kami akan bahas masalah ini sebentar lagi!”
Sandra mulai menitikkan air mata. Dia tak menyangka jika mama Caroline bisa memiliki bukti-bukti kehamilannya yang pasti akan menghancurkan impian Caroline untuk menikahi Romy.
“Itu bukan anak aku, Tante!” elak Romy yang sudah bisa merasakan kehancuran hubungannya dengan Caroline.
“Oh ya. Itu urusan kamu sama Sandra. Yang jelas, Tante nggak mau anak Tante punya suami tidak berrtanggung jawab seperti kamu!” Mama Caroline menimpali.
Air mata Sandra kian mengalir deras. Dia meraih tangan mama Caroline dan meminta maaf. Namun, wanita itu menepisnya dengan cepat.
Ia tak ingin menunjukkan hatinya yang terluka karena itu hanya akan membuat kemenangan di hati Sandra dan Romy.
“Tante, saya bisa jelaskan ini!” kata Romy tak ingin hubungannya dengan Caroline berakhir.
“Nggak perlu. Tante sama orang tua kamu akan urus semuanya! Kamu pikirkan saja anak dalam kandungan Sandra. Jangan hanya bisa membuat tapi enggan bertanggung jawab!” Mama Caroline segera meninggalkan ruangan Romy karena ada janji dengan calon besannya yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
‘Carol, maafkan mama. Saat kamu bangun nanti, kamu pasti akan mengerti, meski kamu harus kecewa!’
***
Mazaya hendak pergi dari rumah untuk mencari informasi terkait perkembangan status hubungan Romy dan Caroline. Dia ingin memastikan bahwa mamanya itu menerima dan mempercayai email yang telah dikirimnya.
Namun, baru saja Mazaya keluar dari pintu utama, Arnold ternyata sudah pulang dari kantor dan menghadangnya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Arnold dengan suara yang terdengar datar.
Melihat kemunculan dang suami, Mazaya pun memikirkan seribu alasan agar rencananya bisa berjalan. “A-aku mau … mau ke salon,” jawab Mazaya dengan senyum mengembang. Dia menyembunyikan rasa gugupnya lewat senyum itu agar Arnold tidak mencurigainya lagi.
“Ke salon? Bukannya kemarin baru dari salon? Kamu mau kelayapan ke mana? Ke rumah sakit kayak tadi pagi? Mau ketemu siapa sih?”
***
Mau ketemu bukti 😂😂 visual arnold ada di igehh ya @ittaharuka atau efbe juga ada Itta Haruka. kalau mazaya sama Carol belum nemu sih 😂😂
Jangan lupa kembang kopinya 💋💋💋