Rahasia Istri Culun

Rahasia Istri Culun
RIC ° Bab 46


Saat ini, Caroline bertemu dengan Raffaello dan juga jiwa Mazaya asli. Mereka harus membahas rencana besok untuk membawa tubuh Caroline ke bukit.


“Kamu berat ya, ninggalin suaminya Mazaya? Sepertinya, kamu juga sudah mulai tertarik dengan laki-laki itu,” ucap Raffaello yang tentu sangat tahu dengan perasaan Caroline.


Wanita dengan tubuh dan paras Mazaya itu pun menatap sang malaikat dengan sinis. Memang benar, apa yang Raffaello katakan, tapi bukankah pertanyaan itu sangat tidak pantas dilontarkan di hadapan Mazaya?


Melihat ekspresi wajah Caroline, Mazaya mendekati wanita yang sedang memakai tubuhnya itu. “Kamu sama Arnold terlihat cocok. Kalau kamu mau bertahan dengan tubuhku, kita bisa cari jalan lain kok. Karena kemungkinan kita akan kehilangan ingatan setelah kembali ke tubuh kita masing-masing,” sahut Mazaya memberi pendapat.


Caroline menghela napas. Pandangannya lurus menatap langit yang terlihat cerah dari balkon kamar. Pikirannya sudah mantap untuk kembali ke tubuh aslinya dan membiarkan takdir bekerja dengan sendirinya.


“Nggak, Mazaya. Aku nggak mau jadi perusak rumah tangga kamu dan Arnold. Tujuan takdir membuatku masuk ke tubuh kamu adalah memperbaiki hubungan kamu dan Arnold, bukan malah merebutnya dari kamu,” balas Caroline dengan senyum yang dipaksakan.


Raffaello menertawakan pikiran Caroline yang naif. “Mazaya itu sudah punya pacar yang hilang karena sebuah kecelakaan. Itu sebabnya dia berkelana mencari jiwa pacarnya itu, tapi nggak akan ketemu karena pacarnya masih hidup. Lagipula, orang meninggal bukan di sini lagi tempatnya. Kamu belum sepenuhnya tahu kisah Arnold sama Mazaya, Caroline. Sekarang jujur deh kamu pikir baik-baik. Misi mengubah wajah Mazaya sudah berhasil, misi mengungkap perselingkuhan calon suamimu juga sudah berhasil. Hanya saja, misi membuat Arnold jatuh cinta dengan Mazaya itu gagal karena Arnold malah mencintai kamu!”


Penjelasan panjang lebar yang Raffaello katakan membuat hati Caroline terenyuh. Namun, rasa cinta pada orang tuanya jauh lebih besar dibanding keegoisannya saja.


“Aku tetap akan kembali. Hidup atau mati, aku adalah putri ibuku. Sangat menyakitkan saat aku melihat ibuku menangis, tapi bahkan aku tak bisa memeluknya. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Mama kalau aku diberi kesempatan hidup. Karena, semenjak kecelakaan itu terjadi, aku sudah merasa bahwa takdirku hampir berakhir.”


Caroline tetap pada pendiriannya. Tidak ingin hidup dalam raga orang lain. Perasaannya untuk Arnold, juga tidak sebesar rasa cintanya pada sang ibu.


“Baiklah, aku akan membantumu besok. Kamu sewa mobil dan juga pastikan keadaan aman. Aku akan meminta energi khusus untuk bantu kamu!” seru Raffaello.


Caroline mengangguk dengan lega. Setidaknya, besok dia tidak akan bekerja sendirian membawa tubuhnya ke bukit.


***


Malam ini akan menjadi malam terakhir Caroline alias Mazaya KW untuk menemani tidur Arnold, yang notabene bukan suaminya. Wanita itu bersikap biasa, seolah besok dirinya tak akan meninggalkan laki-laki itu.


Arnold menghirup dalam-dalam aroma buah ceri yang menguar di indera penciumannya. Dia lalu menciumi leher Mazaya yang membuat wanita itu geli.


“Jangan, Band!” tolak Mazaya sembari menjauhkan tubuh Arnold darinya.


“Kenapa? Kamu nggak mau aku sentuh? Kamu nggak mau kita jadi suami istri yang normal?” tanya Arnold dengan kening berkerut.


Mazaya menatap suaminya, lalu menyentuh wajah Arnold agar laki-laki itu tidak marah padanya. “Aku ... sebenarnya aku belum siap. Ada banyak kejanggalan tentang hubungan kita yang bikin aku ragu. Apalagi ingatanku belum kembali, Band!” jawab Mazaya yang sebisa mungkin tak mau membuat Arnold curiga.


Apa yang Mazaya sampaikan membuat Arnold merasa harus meluruskan semua dari awal. Dia harus menceritakan apa yang perlu Mazaya ingat agar wanita itu bisa menerima ketulusannya saat ini.


“Kamu mau dengar semua dari awal? Beneran kamu siap?” tanya Arnold.


Mazaya terbangun dan menatap suaminya dengan tegang. “Bukankah kamu membenciku karena aku jelek?”


Arnold menggeleng dengan yakin. “Bukan itu permulaannya, tapi—”


***


Komennya ramein dulu 🥲


Intip juga cerita baru ratu bawang yang kali ini tema mafia gaess 😬😬😬



hari ini aku lagi lelah hayati 😑 tapi semangat kalau mantau komen 🤣