
Arnold mengukir senyum penuh kemenangan usai mendengar pengakuan dari Caroline. Ini adalah hal yang sejak lama dia tunggu-tunggu, dan kini tinggal menunggu pengakuan tentang perasaan wanita itu padanya.
“Benar dugaanku. Kamu yang selama ini aku cintai. Memang cinta nggak pernah salah untuk mengenali tempatnya,” ucap Arnold yang kemudian menyalakan mesin mobil dengan senyum mengembang sempurna di wajah tampannya.
“Kita akan menikah setelah mendapat restu dari mama kamu!”
Mata Caroline membulat sempurna usai mendengar pengakuan mengejutkan yang dilontarkan oleh Arnold barusan. Bisa-bisanya laki-laki yang telah menyabotase mobilnya itu mengajaknya menikah tanpa melakukan atau mengucapkan kata-kata romantis.
“Kenapa bisa begitu? Memang siapa yang mau nikah sama kamu?” tanya Caroline dengan nada bicara sedikit tinggi dari sebelumnya.
Arnold tak peduli. Dia tahu bahwa Caroline mencintainya dan wanita itu kesulitan mengakui perasaannya. Yang terpenting sekarang adalah meminta restu dari ibu wanita yang dicintainya itu agar Arnold dan Caroline bisa segera menikah dan menjadi pasangan suami istri.
“Bandiit! Kamu mau bawa aku ke mana?” teriak Caroline saat menyadari bahwa Arnold semakin kencang melajukan mobilnya.
Arnold melirik wanita cantik di sebelahnya yang kini menatapnya dengan sinis. Dia mengukir senyum dan terus melajukan mobil itu ke rumah Caroline.
Sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir dua puluh menit, Caroline terus mengoceh dan mengomeli Arnold. Namun, bukannya merasa risi, laki-laki itu justru merasa sangat senang bisa mendengar suara Caroline yang sangat cerewet dan dia rindukan.
“Pulang, Sayang!” balas Arnold dengan suara yang begitu lembut.
Caroline mengangkat satu sudut bibirnya, menciptakan ekspresi wajah malas dengan mencebikkan bibir. “Sayang, Sayang kepalamu tuh!”
Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang penuh dengan suara berisik Caroline, mereka pun sampai di rumah Caroline. Keduanya disambut oleh wanita yang telah bersekongkol dengan Arnold itu untuk menjodohkan keduanya.
“Tante, Carol. Kalian apa tidak berniat kembali lagi? Apa kalian sudah sangat nyaman tinggal di sini?” tanya Arnold saat mereka akan memulai makan malam.
Wanita bernama Sela yang merupakan ibu kandung dari Caroline itu menatap sang putri. Dia juga ingin mendengar jawaban dari putrinya itu karena dia pikir tinggal di Amerika hanya untuk sementara sampai luka Caroline yang diselingkuhi tunangannya sembuh.
“Tante sih terserah Carol saja. Tapi, kalau memang jodoh Caroline orang sana, sepertinya itu juga bukan ide buruk untuk kembali!” jawab mama Caroline.
Caroline berdehem dan tak mau menjawab pertanyaan Arnold itu. Dia masih sangat kesal dengan Arnold yang tadi bersikap semena-mena padanya.
“Kalau saya yang menikahi Caroline dan membawanya kembali, apa Tante akan mengizinkan?” tanya Arnold berterus terang.
Sontak saja pertanyaan Arnold itu membuat Caroline yang sedang minum jadi tersedak karena kaget. Dia tidak menyangka jika Arnold akan bersikap terus terang seperti ini.
“Saya sudah enam bulan menjadi duda. Saya dan mantan istri juga berpisah dengan baik-baik, bahkan dia sudah akan menikah. Jadi, saya rasa ini juga sudah waktunya untuk saya memulai rumah tangga yang baru, kalau jodoh, saya harap Caroline yang akan menjadi istri saya!”
Caroline benar-benar kehabisan kata-kata. Dia sama sekali tidak menyangka jika Mazaya dan Arnold benar-benar berakhir. Bukankah tujuan alam semesta membuat jiwanya masuk ke dalam tubuh Mazaya agar mereka bisa mempertahankan pernikahan?
“Bukan!” seru laki-laki yang membuat perhatian Caroline tertuju padanya. “Tujuan transmigrasi kamu adalah menyadarkan Arnold dan dirimu sendiri tentang perasaan kalian. Juga, untuk membuat Arnold berhenti melakukan hal buruk pada Mazaya!”
***
Hayoo dia siapa gess, jangan lupa tinggalkan komennya 😘😘